Final Liga Champions mempertemukan dua tim dengan karakter yang sangat kontras, yakni PSG yang tajam di depan dan Arsenal yang kuat saat bertahan. Setelah laga Bayern vs PSG, sorotan kini tertuju pada satu pertanyaan utama: mampukah Arsenal meredam Le Parisiens di partai puncak dan mengakhiri penantian panjang mereka di Eropa?
PSG melaju ke final dengan status tim paling produktif di turnamen ini. Mereka mencetak 44 gol dalam 16 pertandingan Liga Champions musim ini, hanya terpaut tipis dari rekor Barcelona yang membukukan 45 gol pada musim 1999/2000.
PSG datang dengan lini serang yang sangat berbahaya
Kekuatan PSG tidak lagi bertumpu pada satu sisi permainan. Di bawah asuhan Luis Enrique, mereka tampil lebih komplet, lebih disiplin, dan lebih efisien saat ditekan lawan.
Perubahan itu membuat PSG tetap berbahaya meski tidak selalu mendominasi penguasaan bola. Le Parisiens kini mampu menyerang dan bertahan dengan struktur yang lebih rapi.
Arsenal harus waspada karena PSG juga membawa pengalaman besar ke final. Mereka bukan sekadar tim dengan banyak gol, tetapi juga juara bertahan asal Prancis yang sudah terbiasa menghadapi tekanan di fase-fase penting.
Arsenal mengandalkan pertahanan untuk menutup celah
Di sisi lain, Arsenal membangun jalan ke final dari fondasi yang sangat berbeda. Tim asuhan Mikel Arteta menempatkan pertahanan sebagai senjata utama untuk menjaga keseimbangan permainan.
Kemenangan 1-0 atas Atletico Madrid di leg kedua semifinal menjadi contoh paling jelas. Arsenal tampil disiplin, rapat, dan efektif untuk memastikan langkah ke final Eropa pertama mereka dalam 20 tahun terakhir.
Data musim ini juga mendukung kekuatan itu. Arsenal mencatat sembilan clean sheet dalam 14 laga Eropa dan hanya kebobolan dua gol dalam enam pertandingan fase gugur.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa Arsenal tidak hanya solid, tetapi juga konsisten saat menghadapi laga besar. Mereka jarang memberi lawan banyak ruang untuk berkembang.
Pengalaman pertemuan sebelumnya bisa jadi modal sekaligus peringatan
Arsenal punya memori yang cukup baik saat menghadapi PSG di London pada fase grup musim lalu. Saat itu, mereka menang 2-0 dan menunjukkan bahwa pertahanan yang rapat bisa membuat PSG kesulitan.
Namun, PSG juga pernah membalas dengan cara yang lebih menyakitkan bagi Arsenal. Mereka menyingkirkan tim London itu di semifinal lewat agregat 3-1 sebelum akhirnya keluar sebagai juara.
Riwayat itu membuat final nanti terasa seperti kesempatan balas dendam sekaligus ujian terbesar. Arsenal tidak hanya mengejar trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub, tetapi juga ingin membuktikan bahwa pengalaman pahit sebelumnya sudah berubah menjadi pelajaran.
Arsenal mendapat pujian, tapi ujian sesungguhnya baru dimulai
Legenda sepak bola Clarence Seedorf melihat pertahanan Arsenal sebagai pembeda yang bisa menentukan hasil akhir. Ia menyoroti banyaknya clean sheet yang dicatat Arsenal sepanjang musim.
“Kita melihat Arsenal membuat perbedaan musim ini lewat banyak clean sheet dan berhasil melangkah sejauh ini,” kata Seedorf dikutip BBC. Ia juga menambahkan, “Kalau harus memilih tim yang mampu juara karena kapasitas itu, saya akan memilih Arsenal.”
Pandangan itu sejalan dengan statistik yang menunjukkan Arsenal hanya memberi lawan rata-rata expected goals 0,84 per laga di Liga Champions musim ini. Angka itu lebih baik dibanding PSG yang berada di rata-rata 1,38.
Meski begitu, angka-angka itu tidak otomatis menjamin Arsenal akan menang. Mereka tetap harus menghadapi kualitas serangan PSG yang jauh lebih lengkap dan lebih tenang dalam mengelola tekanan.
Budapest akan menjadi panggung yang menentukan apakah pertahanan Arsenal benar-benar cukup kuat untuk menahan gelombang serangan PSG. Jika lini belakang mereka tetap setajam dan serapi sepanjang musim ini, peluang untuk meredam Le Parisiens tetap terbuka lebar.
