
Pep Guardiola belum memberi sinyal pasti soal kemungkinan kembali melatih Manchester City. Ia menegaskan masih ingin mengambil waktu sebelum memutuskan langkah berikutnya di dunia kepelatihan, meski spekulasi tentang comeback cepat terus bermunculan.
Pelatih asal Spanyol itu merespons rumor yang menyebut dirinya akan kembali ke pinggir lapangan hanya tiga bulan setelah meninggalkan kursi manajer Manchester City. Guardiola tidak menutup kemungkinan sepenuhnya, tetapi ia menegaskan bahwa keputusan itu belum menjadi sesuatu yang ingin diambil dengan tergesa-gesa.
Belum ingin buru-buru kembali
Guardiola mengatakan banyak pihak menduga dirinya akan cepat kembali melatih. Ia mengakui ada yang menyebut dirinya bakal kembali dalam tiga bulan, namun jawaban singkatnya hanya, “mungkin.”
Meski begitu, ia langsung menambahkan bahwa dirinya masih perlu membuktikan apakah benar siap kembali bekerja dalam tekanan tinggi. “Namun, aku perlu membuktikannya. Kurasa tidak, itu akan butuh waktu. Tapi aku perlu membuktikannya pada diriku sendiri,” ujarnya dikutip dari Skysports.
Tekanan panjang selama di Manchester City
Guardiola juga menyoroti beratnya tuntutan selama 10 tahun menangani Manchester City. Ia menyebut ritme kerja di klub itu sangat padat karena harus tampil maksimal hampir setiap tiga hari dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Menurut Guardiola, ekspektasi di Manchester City tidak pernah ringan. “Orang-orang menuntut treble, gelar Liga Premier. Saya perlu sedikit bernapas dan bersantai,” katanya, menggambarkan besarnya tekanan yang ia hadapi selama berada di klub.
Standar tinggi tetap jadi bagian dari warisan kerja
Walau ingin beristirahat, Guardiola tetap menegaskan bahwa standar tinggi adalah bagian penting dari budaya Manchester City. Ia menilai dorongan untuk terus menang menjadi fondasi utama dari kesuksesan yang sudah dibangun bersama klub.
“Kita harus saling mendorong. Masa depan haruslah kemenangan di setiap sesi latihan, setiap hari, kemenangan tidak akan diberikan begitu saja,” ucapnya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa ia tidak menurunkan apresiasi terhadap budaya kompetitif yang telah lama ia bentuk di tim.
Hubungan emosional dengan Manchester
Guardiola juga berbicara tentang kedekatannya dengan Manchester setelah menetap selama satu dekade. Ia menggambarkan hubungan itu bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga soal kehidupan sehari-hari dan pengalaman yang membekas.
Ia menyebut siapa pun yang tinggal di kota itu selama 10 tahun akan mengenali banyak sudutnya, termasuk area yang berbahaya. Dari situ, Guardiola menegaskan bahwa Manchester sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya selama membangun karier di City.
Pesan yang membuatnya tersentuh
Selain membahas masa depannya, Guardiola mengungkap beberapa pesan yang sangat berarti baginya. Ia menyebut pesan dari Sir Alex Ferguson sebagai salah satu pujian terbesar yang pernah diterimanya.
Guardiola juga menerima pesan dari Kevin De Bruyne dan Manu Akanji. Baginya, perhatian dari tokoh-tokoh yang dekat dengan dunia Manchester City itu memberi kesan mendalam dan memperkuat ikatan emosional yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.
Meninggalkan City dengan damai
Guardiola menegaskan dirinya pergi dari Manchester City dengan perasaan tenang karena merasa sudah memberikan seluruh kemampuan terbaiknya. Ia menyebut tidak ada penyesalan besar saat menutup masa baktinya di klub tersebut.
“Saya telah memberikan segalanya hingga tetes terakhir. Saya pergi dengan kedamaian batin yang luar biasa. Saya telah memberikan segalanya untuk klub ini,” kata Guardiola. Sikap itu memperlihatkan bahwa, untuk saat ini, fokus utamanya bukan sekadar kembali cepat ke bangku cadangan, melainkan memastikan keputusan berikutnya benar-benar sesuai dengan keyakinannya sendiri.
Source: www.beritasatu.com








