Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri memusatkan perhatian pada satu hal menjelang Singapore Open 2026: menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan berangin di Singapore Indoor Stadium. Fokus itu mereka jadikan prioritas karena turnamen dijadwalkan berlangsung pada akhir Mei dan karakter arena dinilai berbeda dari turnamen sebelumnya.
Persiapan pasangan ganda putra Indonesia itu berjalan sesuai rencana. Mereka tidak hanya berlatih fisik dan teknik, tetapi juga menyesuaikan sarana latihan agar mendekati kondisi yang akan mereka hadapi di Singapura.
Fajar menyebut kondisi lapangan di Singapura cukup berangin, sehingga latihan di Indonesia ikut diarahkan pada penyesuaian shuttlecock yang lebih kencang. Langkah itu diambil agar mereka tidak kaget saat bertanding dan bisa menjaga kontrol permainan sejak awal.
Adaptasi lapangan jadi fokus utama
Penyesuaian tersebut bukan sekadar latihan biasa. Fajar dan Fikri mengarahkan program latihan untuk meniru karakter shuttlecock dan atmosfer lapangan yang mereka perkirakan akan ditemui di Singapore Indoor Stadium.
Fikri menegaskan bahwa mereka sudah mengikuti latihan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan shuttlecock di sana. Ia berharap hasil pengundian lawan atau draw yang sudah keluar bisa memberi jalan yang lebih baik bagi mereka.
Kondisi ini membuat Singapore Open 2026 menjadi ajang penting bagi keduanya. Sebagai committed player, Fajar menekankan bahwa mereka memang wajib tampil di turnamen tersebut dan juga di Indonesia Open.
Evaluasi dari hasil Thomas Cup
Di luar soal adaptasi lapangan, Fajar/Fikri juga membawa bekal evaluasi dari kegagalan tim Indonesia di Piala Thomas 2026. Untuk pertama kalinya, tim putra Indonesia tidak lolos dari fase penyisihan grup, dan hasil itu menjadi bahan refleksi bagi mereka berdua.
Fajar berharap hasil tersebut tidak ikut memengaruhi performa pribadi mereka. Ia menilai keduanya tetap memiliki target-target pribadi yang penting untuk perjalanan karier masing-masing, sehingga hasil Thomas Cup tidak seharusnya mengganggu fokus ke depan.
Sebagai kapten tim Indonesia, Fajar menempatkan evaluasi itu sebagai bagian dari upaya bangkit. Evaluasi mandiri dilakukan segera agar performa terbaik bisa kembali muncul ketika mereka kembali tampil di turnamen individu.
Pilih turnamen yang paling prioritas
Keterbatasan waktu persiapan juga membuat Fajar/Fikri mengambil keputusan selektif dalam menyusun agenda turnamen. Mereka melewatkan Thailand Masters 2026 dan Malaysia Masters 2026 demi memusatkan tenaga pada target berikutnya.
Fajar menyebut mereka tidak ingin tampil di Indonesia Open dalam kondisi hanya berada di posisi ketiga atau keempat prioritas. Karena itu, Singapore Open dan Indonesia Open dijadikan agenda utama, sementara Malaysia Masters sempat digeser menjadi Australia Masters.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa pasangan ini tidak sekadar mengejar jam terbang. Mereka juga ingin menjaga kualitas persiapan agar bisa tampil lebih siap saat memasuki turnamen yang dinilai paling penting.
Dengan adaptasi lapangan berangin, penyesuaian shuttlecock, dan evaluasi pascakegagalan tim di ajang beregu, Fajar/Fikri membawa modal yang cukup spesifik ke Singapore Open 2026. Tantangan mereka kini bukan hanya soal lawan di lapangan, tetapi juga seberapa cepat mereka bisa menyatu dengan kondisi arena di Singapura.
