UFC akan menorehkan babak baru saat menggelar UFC Freedom 250 di kawasan Gedung Putih, Washington DC, pada 15 Juni 2026. Ajang ini langsung menyita perhatian karena menghadirkan kartu pertandingan bertabur bintang dan beberapa duel yang bisa mengubah peta persaingan UFC.
Sorotan terbesar tertuju pada duel Ilia Topuria melawan Justin Gaethje di partai puncak. Pertarungan ini bukan hanya soal perebutan gelar, tetapi juga soal rekor, warisan, dan peluang mencetak sejarah baru di panggung UFC White House.
1. Topuria datang dengan status unik di UFC
Ilia Topuria membawa modal yang sangat kuat ke UFC Freedom 250. Petarung asal Georgia itu belum terkalahkan dengan rekor 17 kemenangan tanpa kekalahan.
Topuria juga termasuk dalam kelompok elit petarung UFC yang berhasil merebut gelar di dua divisi berbeda. Ia menjadi salah satu dari 11 petarung dalam sejarah organisasi itu yang meraih prestasi tersebut.
Yang membuat namanya semakin menonjol, Topuria tercatat sebagai satu-satunya petarung dalam sejarah UFC yang menjadi juara di dua divisi tanpa pernah kalah. Jika ia bisa menundukkan Gaethje, Topuria berpeluang mencatat pencapaian baru sebagai petarung pertama yang mempertahankan gelar di dua divisi dengan rekor tetap sempurna.
2. Justin Gaethje bukan lawan biasa
Justin Gaethje datang dengan reputasi sebagai petarung berbahaya dan sangat berpengalaman di kelas ringan. Ia juga memegang catatan langka sebagai satu-satunya petarung yang dua kali menyandang status juara interim UFC.
Nama Gaethje semakin besar karena ia dikenal sebagai rival terakhir Khabib Nurmagomedov sebelum legenda Dagestan itu pensiun. Pada 24 Oktober 2020, Gaethje menjadi lawan terakhir Khabib dalam pertahanan gelar kelas ringan, dan laga itu berakhir dengan kemenangan Khabib yang menutup kariernya dengan rekor sempurna 29-0.
Gaethje juga punya catatan penting lain di dunia MMA. Ia menjadi satu-satunya petarung yang pernah merebut gelar juara di UFC dan WSOF, sehingga duel melawan Topuria dipandang sebagai ujian yang sangat berat bagi sang juara.
3. Laga ini bisa jadi penyatuan sabuk yang sarat sejarah
Pertarungan Topuria vs Gaethje diposisikan sebagai duel penyatuan sabuk di kelas ringan. Itu berarti laga ini tidak sekadar mempertahankan gelar, tetapi juga menentukan siapa yang layak memegang kendali penuh di divisi tersebut.
Topuria sudah disebut sebagai petarung asal Georgia pertama yang menjadi juara UFC setelah merebut sabuk di UFC 298. Kini, kemenangan atas Gaethje akan memperkuat statusnya sebagai salah satu nama paling bersejarah dalam katalog juara UFC modern.
Di sisi lain, Gaethje juga membawa kepentingan besar karena statusnya sebagai mantan juara interim. Duel ini membuat partai utama UFC Freedom 250 terasa seperti pertarungan yang mempertemukan dua karier besar dengan taruhannya masing-masing.
4. Alex Pereira ikut membawa misi besar di kelas berat
Selain duel utama, UFC Freedom 250 juga menampilkan laga penting antara Alex Pereira dan Ciryl Gane untuk gelar interim kelas berat. Pereira masuk ke pertarungan ini dengan reputasi sebagai mantan juara dua divisi yang terus mengejar pencapaian baru.
Jika berhasil mengalahkan Gane, Pereira bisa menjadi petarung pertama dalam sejarah UFC yang meraih gelar juara di tiga kelas berat berbeda. Itu akan menempatkannya pada level pencapaian yang sangat jarang terjadi di olahraga ini.
Perjalanan Pereira sendiri sudah mencuri banyak perhatian. Ia hanya membutuhkan delapan pertarungan MMA sebelum menjadi juara UFC, jumlah kedua paling sedikit pada era modern setelah Brock Lesnar.
5. Ciryl Gane punya peluang menciptakan catatan tersendiri
Meski datang sebagai penantang, Ciryl Gane tidak bisa dianggap pelengkap. Ia merupakan satu-satunya petarung asal Prancis yang pernah memenangkan gelar UFC, dan itu sudah cukup menunjukkan level kualitasnya.
Gane juga termasuk dalam daftar 17 petarung yang meraih gelar UFC dengan rekor tak terkalahkan. Jika berhasil menundukkan Pereira, ia berpotensi menjadi petarung kedua dalam sejarah UFC yang dua kali menyandang status juara interim, menyusul Justin Gaethje.
Rekam jejak Gane di kelas berat modern juga menarik. Ia menjadi salah satu dari tiga petarung kelas berat modern yang memulai karier UFC dengan catatan 7-0, bersama Cain Velasquez dan Junior dos Santos.
Tambahan sorotan di kartu pertandingan
Selain dua laga gelar utama, duel Sean O’Malley melawan Aiemann Zahabi juga masuk daftar pertarungan yang menyedot perhatian. O’Malley pernah menjadi salah satu dari sembilan petarung yang memegang gelar juara kelas bantam UFC tak terbantahkan.
Petarung berjuluk “Sugar” itu juga masuk kelompok eksklusif juara UFC yang mendapat kontrak lewat Dana White’s Contender Series. Hingga kini, hanya empat petarung yang berhasil menempuh jalur tersebut dan kemudian menjadi juara UFC, yaitu Sean O’Malley, Carlos Ulberg, Jack Della Maddalena, dan Jamahal Hill.
Dengan kombinasi rekor tak terkalahkan, peluang mencetak sejarah, serta nama-nama besar seperti Topuria, Gaethje, Pereira, Gane, dan O’Malley, UFC Freedom 250 di Gedung Putih dipandang sebagai salah satu gelaran paling penting dalam kalender UFC. Ajang ini tidak hanya menawarkan duel elite, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya catatan baru yang akan dibicarakan lama di dunia MMA.
Source: www.viva.co.id