Piala Dunia 2026 resmi dimulai dengan perhatian besar bukan hanya pada pertandingan pembuka, tetapi juga pada dua isu yang ikut membayangi turnamen, yaitu visa dan harga tiket. Laga pembuka mempertemukan tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan di Stadion Azteca, sementara sorotan publik langsung tertuju pada kebijakan imigrasi yang ketat dan lonjakan harga tiket di beberapa kategori.
Ajang yang diikuti 48 tim dan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga US$13 miliar atau setara Rp233,74 triliun. Namun, proyeksi besar itu datang bersama kontroversi yang membuat awal turnamen terasa jauh dari suasana ideal sebuah pesta sepak bola dunia.
Visa ketat ikut memengaruhi jalannya turnamen
Masalah visa menjadi salah satu isu paling serius menjelang dan saat turnamen berlangsung. Kebijakan pengetatan imigrasi di bawah pemerintahan Donald Trump disebut berdampak langsung pada beberapa pihak yang terlibat dalam ajang ini.
Wasit utama asal Somalia, Omar Artan, dipastikan batal bertugas setelah ditolak masuk saat tiba di Miami karena masalah keamanan imigrasi. Selain itu, sejumlah pejabat tim Iran dan beberapa suporter juga dilaporkan mengalami kendala serupa saat hendak masuk ke wilayah Amerika Serikat.
Presiden FIFA Gianni Infantino menanggapi situasi itu dengan meminta semua pihak tetap tenang. Ia mengatakan, “Sangat disayangkan apa yang terjadi pada wasit dari Somalia. Kami tidak mengendalikan semuanya. Terkadang ada baiknya untuk tenang dan santai, kami mencoba menyelesaikan segalanya.”
Harga tiket memicu kritik publik
Selain visa, harga tiket juga menjadi bahan perdebatan. Beberapa kategori tiket dilaporkan menembus angka US$30.000, angka yang dinilai terlalu tinggi untuk sebuah turnamen yang diklaim ingin menjangkau khalayak luas.
Infantino membela kebijakan harga yang diterapkan FIFA. Ia menegaskan bahwa federasi tetap menyediakan tiket kategori rendah seharga US$60 dan menyebut harga itu sebagai yang terendah di antara ajang olahraga Amerika pada fase play-off.
“Harga masuk kami sebesar US$60 adalah yang terendah dari olahraga Amerika mana pun di fase play-off. Harga rata-rata kami yang di bawah US$500 juga merupakan yang terendah,” kata Infantino.
Laga pembuka tetap jadi pusat perhatian
Di tengah polemik tersebut, laga pembuka tetap menyedot perhatian besar. Meksiko memikul tekanan untuk mengakhiri catatan buruk karena belum pernah memenangi laga pembuka dalam tujuh kesempatan sebelumnya.
Pelatih Meksiko Javier Aguirre menargetkan hasil berbeda kali ini, sementara pelatih Afrika Selatan Hugo Broos meminta timnya menjaga fokus meski harus bermain di hadapan 85.000 penonton di Stadion Azteca. Atmosfer pertandingan pun diperkirakan berlangsung intens sejak menit awal.
Turnamen besar dengan bayang-bayang kontroversi
Selain pertandingan di Meksiko, hari ini juga dijadwalkan laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Guadalajara. Di sisi lain, turnamen ini tetap menempatkan Spanyol, Prancis, dan Inggris sebagai unggulan, sedangkan Argentina datang sebagai juara bertahan dengan Lionel Messi yang kini berusia 38 tahun.
Dengan skala yang lebih besar dari edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 membawa ekspektasi komersial yang sangat tinggi sekaligus tekanan politik dan sosial yang tidak kecil. Sorotan pada laga pembuka kini tak hanya tertuju pada hasil di lapangan, tetapi juga pada bagaimana FIFA dan tuan rumah mengelola isu visa, akses penonton, dan harga tiket sepanjang turnamen berlangsung.
Source: mediaindonesia.com