Crystal Palace resmi memulai era baru dengan menunjuk Pierre Sage sebagai pelatih kepala untuk menggantikan Oliver Glasner. Pelatih asal Prancis berusia 47 tahun itu menandatangani kontrak tiga tahun dan akan memimpin The Eagles di kompetisi domestik serta Eropa pada musim depan.
Penunjukan ini menutup proses pencarian manajemen Palace yang sempat mempertimbangkan beberapa nama lain. Sejumlah figur yang masuk daftar itu antara lain Andoni Iraola, Frank Lampard, dan Kieran McKenna.
Rekam jejak Sage di Prancis
Sage datang ke Selhurst Park dengan reputasi yang kuat dari Ligue 1. Dalam 12 bulan terakhir bersama Lens, ia dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Ligue 1 setelah membawa tim itu finis di posisi kedua klasemen.
Prestasi Sage di Lens juga ditandai dengan keberhasilan mempersembahkan Coupe de France, trofi pertama klub tersebut dalam 120 tahun sejarah. Catatan itu membuat namanya naik daun sebagai pelatih yang mampu membangun tim kompetitif dalam waktu relatif singkat.
Sebelum menangani Lens, Sage juga menunjukkan kualitasnya saat melatih Lyon. Ia memulai peran itu sebagai pelatih interim, lalu berhasil membawa Lyon lolos ke kualifikasi Liga Europa pada musim 2024-2025.
Tantangan besar setelah era Glasner
Sage kini masuk ke lingkungan yang menuntut hasil tinggi karena ia mewarisi proyek yang sudah berjalan sukses. Oliver Glasner meninggalkan Palace setelah masa kerja dua setengah tahun yang dinilai sangat berpengaruh bagi perkembangan klub di London Selatan.
Di bawah Glasner, Palace meraih trofi mayor pertama mereka lewat Piala FA pada 2025. Pencapaian itu berlanjut dengan gelar Community Shield dan Liga Konferensi pada musim berikutnya.
Modal tersebut membuat ekspektasi terhadap pelatih baru menjadi tinggi. Sage tidak hanya diminta menjaga stabilitas, tetapi juga mempertahankan budaya menang yang sudah terbentuk di ruang ganti Palace.
Dukungan staf dan ambisi baru
Dalam menjalankan tugas barunya, Sage tidak bekerja sendirian. Ia membawa Jamal Alioui, asisten setianya saat di Lens, untuk masuk ke jajaran staf kepelatihan Crystal Palace.
Sage juga mengakui bahwa pencapaian Glasner menjadi standar besar yang harus dikejar. Ia menyebut atmosfer di klub terasa positif dan menilai ambisi yang sama sudah terbentuk di dalam proyek baru ini.
“Oliver Glasner telah mencapai hal-hal luar biasa, dan sekarang saya harus melakukan hal yang sama,” kata Sage. Ia menambahkan bahwa kebiasaan menang yang dibawa dari Prancis akan menjadi fondasi utama dalam membangun Palace di level berikutnya.
Keberhasilan Palace menjuarai Liga Konferensi juga memastikan mereka tampil di Liga Europa, sehingga musim debut Sage langsung datang dengan tekanan sekaligus peluang besar. Dengan basis suporter yang kuat di Selhurst Park dan skuat yang sudah mengenal persaingan di level tertinggi, perhatian kini tertuju pada bagaimana Sage menerjemahkan reputasi suksesnya ke sepak bola Inggris.
Source: mediaindonesia.com






