Suporter Brasil di Philadelphia memilih berhati-hati saat mendatangi patung Rocky di tangga Philadelphia Museum of Art. Mereka sengaja tidak memasangkan jersei atau atribut tim nasional Brasil ke patung ikonik itu karena takut pada rumor “kutukan Rocky” yang sudah lama beredar di kota tersebut.
Di tengah suasana Piala Dunia 2026, langkah hati-hati itu terlihat jelas pada Kamis (18/6/2026). Ratusan pendukung Brasil tetap datang untuk berfoto, tetapi mereka membiarkan patung setinggi hampir tiga meter itu tetap mengenakan celana tinju dan sepatu perunggu khas Rocky Balboa.
Kutukan yang sudah lama dipercaya
Kepercayaan soal kutukan Rocky bukan hal baru di Philadelphia. Selama bertahun-tahun, banyak penggemar olahraga setempat meyakini bahwa tim tamu yang menaruh jersei, syal, atau topi pada patung itu akan mengalami kekalahan saat melawan tim asal Philadelphia.
Mitos tersebut ikut terbawa ke sepak bola dan makin ramai dibahas setelah suporter Ekuador merayakan momen di area tangga Rocky. Mereka bernyanyi, menari, mengibarkan bendera, dan memasangkan jersei Ekuador pada patung itu, lalu mengalungkan bendera negara mereka di leher Rocky.
Setelah perayaan itu, hasil di lapangan tidak berpihak kepada Ekuador. Pantai Gading menang 1-0 lewat gol Amad Diallo pada menit ke-90, dan kekalahan tersebut membuat sebagian orang semakin percaya pada mitos yang sama.
Peringatan dari sesama suporter Brasil
Insiden itu memicu reaksi dari kelompok suporter Brasil Green and Yellow Movement. Mereka mengunggah peringatan di media sosial agar para pendukung yang datang ke Philadelphia tidak melakukan hal serupa pada patung Rocky.
“PERHATIAN SUPORTER!” tulis kelompok itu dalam unggahan Instagram. Pesan berikutnya menegaskan, “Dilarang keras memasangkan jersei Brasil pada patung Rocky di Philadelphia!”
Peringatan tersebut juga mendapat dukungan dari akun promosi pariwisata Pennsylvania, Visit PA. Dalam unggahannya, akun itu menulis bahwa banyak tim olahraga pernah memberi warna pada patung Rocky, lalu kalah, dan menambahkan, “Philadelphia tidak sabar menyambut Anda, tetapi Rocky tidak membutuhkan jersei Anda.”
Area patung dijaga ketat
Peringatan itu tampaknya dipatuhi para pendukung Brasil yang memadati kawasan tangga Rocky. Mereka memilih berpose dengan gaya khas Rocky, termasuk mengangkat kedua tangan ke udara seperti adegan kemenangan dalam film.
Patung itu bahkan mendapat penjagaan khusus. Area sekitarnya dipasangi pembatas seperti ring tinju, sementara empat petugas berjaga di tiap sudut untuk memastikan pengunjung tidak bertindak berlebihan terhadap ikon kota tersebut.
Lorival Guerreiro, suporter yang datang dari Limeira, menyebut momen itu penting bagi Brasil. Ia mengatakan para pendukung datang untuk merayakan tim mereka setelah lokasi itu lebih dulu dipromosikan sebagai tempat berkumpul sebelum pertandingan.
Daya tarik wisata yang terus ramai
Patung Rocky punya sejarah panjang di Philadelphia. Patung itu muncul dari proses syuting film-film Rocky yang dibintangi Sylvester Stallone, lalu sempat menjadi bahan perdebatan antara museum dan warga kota sebelum akhirnya ditempatkan permanen di area tangga museum pada 2006.
Sejak itu, lokasi tersebut berkembang menjadi tujuan wisata populer. Menurut Philadelphia Visitor Center, sekitar 4 juta orang mengunjungi tangga Rocky setiap tahun, angka yang hampir menyamai kunjungan ke Liberty Bell.
Kini patung itu dipindahkan ke bagian atas tangga sehingga lebih mudah dilihat wisatawan. Di area bawah tangga, toko suvenir Rocky juga ramai didatangi pengunjung dari berbagai negara yang mencari kaus bertema Rocky hingga boneka karakter Clubber Lang.
Brasil datang dengan tekanan besar
Di antara para pengunjung, Roberto De Freitas dari Porto Alegre yang kini tinggal di Florida ikut datang dengan atribut Brasil dari kepala hingga kaki. Ia menghadiri Piala Dunia ketiganya dan berencana menyaksikan laga Brasil melawan Haiti.
De Freitas berharap Brasil bisa menambah koleksi gelar juara dunia mereka. Ia juga mengaku awalnya belum pernah mendengar soal kutukan Rocky, tetapi langsung mengubah sikap setelah mengetahuinya.
“Kalau begitu saya pasti tidak akan melakukannya,” ujarnya sambil tertawa.
Brasil sendiri datang ke laga melawan Haiti dengan beban besar. Tim juara dunia lima kali itu sebelumnya ditahan imbang Maroko 1-1 pada laga pembuka, sehingga tekanan untuk tampil lebih baik kembali menguat.
Di sisi lain, Haiti datang sebagai tim yang dipandang underdog. Negara itu tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974, dan musisi Haiti Wyclef Jean menyebut situasi tersebut bisa memberi keuntungan karena Brasil berada di bawah tekanan, sementara Haiti lebih leluasa bermain.
Di luar ancaman dari lawan di lapangan, para pendukung Brasil di Philadelphia tampak memilih satu hal yang lebih aman, yaitu tidak menantang legenda kota yang sudah lama hidup di tangga Rocky.
Source: www.beritasatu.com






