Islam Makhachev menilai dominasi Khabib Nurmagomedov dan para petarung Dagestan lahir dari kombinasi disiplin, prinsip hidup, dan lingkungan yang kuat di luar oktagon. Bagi juara dua divisi UFC itu, kemampuan bertarung hanya menjadi satu bagian dari fondasi besar yang membuat nama Dagestan terus disegani di MMA.
Makhachev menyebut timnya tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga menjaga cara hidup yang mereka anggap benar. Ia menekankan bahwa mereka berusaha menjadi contoh bagi anak muda, termasuk dengan menjauhi kebiasaan yang kerap merusak karier atlet seperti merokok, minum alkohol, dan berpesta.
Nilai hidup yang ikut membentuk prestasi
Dalam wawancara bersama Arena Fight TV, Makhachev menjelaskan bahwa ia ingin warisannya tidak semata-mata diingat sebagai petarung tangguh. Ia berharap namanya juga dikaitkan dengan dakwah dan nilai kehidupan yang ia sebarkan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa dominasi Dagestan tidak lahir dari pola latihan saja. Ada identitas yang dijaga bersama, terutama sebagai Muslim yang taat dan figur publik yang dinilai punya tanggung jawab sosial.
Kekuatan yang lahir dari teladan
Makhachev mengatakan bahwa Khabib dan rekan-rekan setimnya, termasuk Umar Nurmagomedov dan Usman Nurmagomedov, memiliki pengaruh besar karena sikap hidup mereka konsisten. Ia menyoroti bahwa banyak anak muda mengidolakan Khabib dan timnya, bukan hanya karena kemenangan di arena, tetapi juga karena gaya hidup yang terjaga.
“Berapa banyak anak muda yang mengidolakan Khabib?” kata Makhachev. Ia juga menegaskan, “Mereka mengidolakan tim kami dan kami tidak pernah berpesta. Kami tidak pernah merokok, minum, melakukan hal-hal buruk, dan itulah mengapa kami memiliki dukungan besar di negara kami.”
Bagi Makhachev, teladan semacam itu membuat para petarung Dagestan punya ikatan lebih kuat dengan publik. Dukungan besar datang bukan semata dari hasil pertandingan, melainkan dari citra disiplin yang mereka bangun secara konsisten.
Khabib sebagai standar dominasi
Nama Khabib Nurmagomedov tetap menjadi rujukan utama ketika membahas petarung Dagestan. “Sang Elang” menutup kariernya sebagai salah satu juara kelas ringan UFC paling dominan, dengan tiga kali mempertahankan sabuk dan mengalahkan lawan-lawan elite seperti Conor McGregor, Dustin Poirier, dan Justin Gaethje.
Setelah mengalahkan Gaethje untuk mempertahankan gelarnya pada 24 Oktober 2020, Khabib secara mengejutkan mengumumkan pensiun. Keputusan itu muncul setelah sang ayah sekaligus pelatih, Abdulmanap Nurmagomedov, meninggal dunia, dan Khabib memilih menepati janjinya kepada sang ibu untuk tidak lagi bertarung tanpa didampingi ayahnya di sudut oktagon.
Warisan Khabib lalu diteruskan oleh Makhachev yang berkembang dari sosok di bawah bayang-bayang mentornya menjadi salah satu petarung terbaik dalam sejarah UFC. Ia bahkan berhasil memecahkan rekor pertahanan gelar kelas ringan sebelum naik ke kelas welter dan merebut sabuk juara keduanya.
Jejak yang ingin terus dijaga
Makhachev menegaskan bahwa dirinya juga ingin menunjukkan kepada dunia bahwa petarung MMA bisa tetap disiplin dan memegang teguh ajaran agama. Ia memandang itu sebagai bagian dari identitas yang perlu terus ditampilkan, bukan sekadar pelengkap citra seorang juara.
Dalam konteks itu, dominasi petarung Dagestan tampak sebagai hasil dari gabungan latihan keras, solidaritas tim, dan kontrol diri yang ketat. Kombinasi inilah yang membuat nama Khabib, Makhachev, dan petarung Dagestan lain terus mendapat sorotan di UFC.
Dalam waktu dekat, Makhachev kembali membawa beban besar itu ke oktagon saat dijadwalkan mempertahankan gelar kelas welter melawan Ian Machado Garry pada UFC 330 yang berlangsung pada Minggu, 16 Agustus 2026. Pertarungan itu akan kembali menguji seberapa jauh prinsip dan disiplin yang ia sebut sebagai rahasia dominasi Dagestan mampu bertahan di level tertinggi MMA.
Source: www.viva.co.id






