Kondisi lapangan latihan Persib Bandung kembali menjadi perhatian setelah Igor Tolic mengeluhkan situasi yang dinilai belum ideal. Area yang menguning membuat staf pelatih harus menyesuaikan variasi latihan agar pemain tidak dipaksa memakai bagian lapangan yang kurang layak.
Di sisi lain, manajemen Persib memberi penjelasan mengapa fasilitas latihan seperti itu belum juga terwujud. Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menegaskan bahwa membangun satu lapangan pendamping membutuhkan biaya yang sangat besar, sementara klub juga masih harus menjaga keseimbangan investasi di skuad utama.
Latihan Dipaksa Beradaptasi dengan Kondisi Lapangan
Keluhan soal lapangan muncul saat Igor Tolic berbicara kepada awak media pada awal sesi pramusim menuju Super League 2026-2027. Ia menyebut kondisi lapangan memang tidak ideal sehingga seluruh sesi latihan harus diatur lebih hati-hati.
“Kemudian kami hanya perlu mengaturnya karena lapangan ini tidak ideal, jadi segalanya menjadi sedikit lebih berat dari biasa,” ujarnya.
Tolic juga menekankan bahwa para pemain tetap bekerja keras dalam situasi tersebut. Namun, ia mengakui latihan menjadi lebih sulit karena kondisi permukaan lapangan tidak sepenuhnya mendukung.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Kondisi lapangan | Beberapa bagian menguning dan dinilai tidak ideal |
| Respons staf pelatih | Mengatur variasi latihan dan menghindari area yang kurang layak |
| Dampak ke latihan | Sesi terasa lebih berat dan lebih sulit dari biasanya |
Alasan Manajemen Belum Bangun Lapangan Pendamping
Penjelasan datang melalui program Untold Story Back-to-back Champions Episode 3 di Persib TV. Adhitia menyebut pembangunan infrastruktur latihan bukan perkara murah, bahkan untuk satu lapangan saja biayanya bisa mencapai Rp 5-6 miliar.
“Pembangunan infrastruktur itu memakan biaya besar, mahal sekali. Membangun lapangan pendamping itu (biayanya) bukan Rp 1-2 miliar,” ujar Adhitia. “Buat bikin satu lapangan saja butuh Rp 5-6 miliar, belum lahannya, belum fasilitas sekitarnya, itu mahal banget,” lanjutnya.
Menurut Adhitia, persoalan utama bukan hanya biaya pembangunan, tetapi juga pembagian prioritas investasi. Di saat yang sama, Persib ingin tetap memperkuat tim agar bisa melangkah lebih jauh di level Asia, sehingga dana harus dibagi antara infrastruktur dan kebutuhan teknis skuad.
“Masalahnya adalah di waktu bersamaan, kami juga mau investasi di tim, karena kami mau melangkah jauh (di Asia). Kami tahu dengan investasi di tim, melangkah jauh, juga akan ada hal positif secara komersial,” terangnya.
Investasi Skuad dan Beban Tambahan Klub
Adhitia mencontohkan bahwa investasi di tim utama tak bisa diabaikan ketika klub mendatangkan pemain-pemain mahal seperti Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Layvin Kurzawa, sekaligus mempertahankan pemain-pemain kunci. Karena itu, manajemen memilih mengikuti roadmap jangka panjang yang sudah disepakati bersama.
“Investasi di divisi olahraga juga tidak boleh ditinggalkan. Kemudian idealnya memang ini bisa jalan bersama-sama,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa kenyataannya Persib tidak bisa menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur dan tim dalam waktu bersamaan karena keterbatasan uang. Selain itu, klub juga masih menanggung pengeluaran tambahan berupa total denda yang musim lalu menembus Rp 5 miliar dari Komdis PSSI dan AFC.
| Fokus Investasi | Contoh | Keterangan |
|---|---|---|
| Skuad utama | Thom Haye, Eliano Reijnders, Layvin Kurzawa | Masuk dalam prioritas investasi tim |
| Infrastruktur | Lapangan latihan pendamping | Biaya satu lapangan diperkirakan Rp 5-6 miliar, belum termasuk lahan dan fasilitas sekitar |
| Beban lain | Denda Komdis PSSI dan AFC | Total musim lalu menembus Rp 5 miliar |
Dengan kondisi itu, manajemen menilai pembangunan fasilitas latihan harus menunggu momentum yang tepat. Persib pun memilih menjaga arah pengembangan klub agar investasi di tim dan rencana infrastruktur tetap berada dalam satu peta jalan yang jelas.
