Raymond Indra/Nikolaus Joaquin membuka langkah mereka di China Open 2026 dengan kemenangan yang menguras tenaga. Ganda putra Indonesia itu bangkit pada gim penentuan untuk menyingkirkan Lee Fang-Chih/Lee Fang-Jen dari Taiwan dan merebut tiket babak kedua.
Kemenangan ini terasa penting bagi Raymond/Joaquin karena China Open menjadi penutup rangkaian BWF Super 1000 musim 2026. Mereka ingin memanfaatkan kesempatan tampil di level tertinggi untuk memperkuat pengalaman sekaligus kepercayaan diri.
Tiga Gim yang Menguji Fokus
Pertandingan di Changzhou berlangsung dalam tiga gim dengan perubahan kendali yang cukup tajam. Raymond/Joaquin mengawali laga dengan dominan, tetapi pasangan Taiwan mampu memaksa mereka melanjutkan duel hingga gim terakhir.
| Gim | Pemenang | Skor |
|---|---|---|
| 1 | Raymond/Joaquin | 21-13 |
| 2 | Lee Fang-Chih/Lee Fang-Jen | 21-19 |
| 3 | Raymond/Joaquin | 21-16 |
Keunggulan 21-13 pada gim pertama tidak langsung membuat pertandingan berjalan mudah bagi wakil Indonesia. Pada gim kedua, Raymond/Joaquin tertinggal dan tidak berhasil menutup jarak meski telah berusaha mengejar.
Joaquin menilai penampilan timnya secara umum sudah cukup baik, namun ada masalah pada fase paling menentukan di gim kedua. Ia mengakui sebuah kesalahan fatal pada poin-poin kritis membuat momentum lepas dan laga berlanjut ke rubber game.
“Saya rasa main tadi sudah cukup baik tapi memang gim kedua kami terus tertinggal, sudah mencoba mengejar tapi saya melakukan kesalahan fatal di poin-poin kritis akhirnya lepas,” ujar Joaquin. Situasi itu membuat pasangan muda Indonesia tersebut harus segera merapikan fokus sebelum memasuki gim ketiga.
Reset Mental pada Gim Penentuan
Raymond/Joaquin memilih tidak larut dalam kegagalan mengamankan gim kedua. Mereka mencoba memulai ulang pola pikir dari nol agar tidak terbebani oleh kesalahan yang sudah terjadi.
Strategi itu memberi hasil pada gim penentuan ketika Raymond/Joaquin kembali memegang kendali permainan. Mereka menutup pertandingan dengan skor 21-16 dan memastikan langkah ke babak kedua China Open 2026.
“Di game ketiga kami berusaha fokus lagi, tidak memikirkan yang sudah terjadi, reset dari nol pikirannya dan Puji Tuhan berhasil memegang kendali lagi dan menang,” kata Joaquin. Kemampuan mengembalikan konsentrasi menjadi pembeda setelah duel sempat berbalik pada gim sebelumnya.
Evaluasi dari Jepang Jadi Bekal
Sebelum tampil di Changzhou, Raymond/Joaquin mengalami kegagalan pada turnamen di Jepang pekan lalu. Hasil tersebut tidak mereka jadikan beban, melainkan bahan untuk mengevaluasi penyebab penampilan yang belum maksimal.
Raymond menyebut proses evaluasi itu langsung diterapkan saat menghadapi Lee Fang-Chih/Lee Fang-Jen. “Pertandingan hari ini Puji Tuhan diberi kemenangan. Kekalahan di Jepang minggu lalu coba dievaluasi kenapa dan tadi coba direvisi,” ucap Raymond.
Selain hasil evaluasi, pasangan ini juga membawa motivasi dari keberhasilan senior mereka, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Fajar/Fikri baru saja meraih podium tertinggi Japan Open 2026 pada pekan sebelumnya.
“Pastinya terinspirasi dan termotivasi dengan juaranya a Fajar dan a Fikri pekan lalu di Jepang, kami mau mengejar mereka,” kata Raymond. Motivasi itu menjadi dorongan tambahan bagi Raymond/Joaquin untuk terus bersaing di panggung besar.
Mengejar Hasil Terbaik di Penutup Super 1000
Menurut Joaquin, tahun 2026 menjadi periode yang luar biasa karena mereka sudah mendapat kesempatan mengikuti seluruh turnamen Super 1000. Ia menilai kesempatan tersebut penting untuk membangun keyakinan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Raymond/Joaquin kini menaruh target tinggi di China Open, tanpa mengabaikan proses yang harus dilalui satu demi satu. “Di penutupan Super 1000 ini pastinya kami mau hasil yang terbaik untuk meningkatkan kepercayaan diri sendiri juga,” ujar Joaquin.
Ia juga menegaskan bahwa jalan menuju hasil terbaik tidak akan mudah. Pasangan ini meminta doa dan dukungan saat melanjutkan perjuangan mereka pada babak berikutnya.
Source: www.medcom.id






