Liga Israel saat ini berada dalam situasi genting akibat meningkatnya ketegangan dengan Iran. Ancaman serangan siber dan militer dari negara tersebut telah menyebabkan ketidakpastian yang signifikan bagi para pemain dan klub-klub di liga. Musim 2025/2026 yang seharusnya dimulai dalam waktu dekat kini terancam batal, di tengah kekhawatiran bahwa keamanan tidak dapat terjamin.
Kondisi ini mengingatkan publik Israel kepada pengalaman pahit selama pandemi COVID-19, ketika liga harus berlangsung tanpa penonton. Banyak pemain asing yang mulai resah dan mempertanyakan masa depan mereka di liga tersebut. Sebagai contoh, pemain Brasil Wesley Patacci dari Maccabi Tel Aviv dilaporkan tengah mencari jalan untuk kembali ke kampung halamannya karena tekanan dari keluarga dan kekhawatiran atas keselamatannya.
Klub-klub besar seperti Maccabi Tel Aviv, Hapoel Be’er Sheva, dan Maccabi Haifa harus menunda berbagai persiapan yang sebelumnya sudah direncanakan. Otoritas sepak bola Israel bahkan meramalkan liga musim mendatang mungkin harus dimulai tanpa kehadiran penonton, mengingat larangan kerumunan massal masih berlaku. Situasi ini semakin menyulitkan klub-klub yang berinvestasi besar dalam kompetisi Eropa.
Sementara itu, beberapa pemain asing menunjukkan loyalitas mereka kepada Israel, seperti Miguel Vitor dan Miguel Silva, yang menyatakan dukungan lewat media sosial. Namun, banyak lainnya mulai berpikir dua kali sebelum menandatangani kontrak atau bahkan terus berkompetisi di liga tersebut. Beberapa agen pemain sudah mulai membatalkan kesepakatan yang hampir rampung, dan ada permintaan agar kontrak mencakup klausul yang memungkinkan pemain untuk keluar jika situasi keamanan memburuk.
Dari perspektif ekonomi, beberapa klub mungkin mendapatkan kompensasi dari pemerintah akibat kerugian yang diakibatkan oleh keadaan darurat ini. Namun, aspek emosional dan semangat kompetisi sangat terpengaruh, membuat atmosfer liga terasa hambar. “Bagaimana saya bisa meyakinkan teman saya untuk datang bermain di sini?” tanya seorang pemain asing yang telah lama bermain di Israel, mencerminkan kekhawatiran yang melanda banyak atlet saat ini.
Tim Hapoel Be’er Sheva mengambil langkah cepat dengan memutuskan berangkat ke Polandia untuk tur pra-musim, dua hari lebih awal dari rencana semula. Strategi ini dimaksudkan untuk memisahkan para pemain dari ketegangan yang melanda negara mereka. Kegiatan ini juga bertujuan mempersiapkan tim dalam menghadapi Levski Sofia pada kualifikasi UEFA Europa League mendatang.
Sementara pelatihan pramusim bagi tim-tim lainnya di liga masih terkatung-katung, beberapa klub yang tidak terlibat dalam kompetisi Eropa memilih untuk menunda latihan sambil berharap situasi akan membaik dalam waktu dekat. Beitar Jerusalem, misalnya, tengah berusaha meyakinkan pemain asing baru mereka untuk tetap bergabung di tengah suasana yang tidak menentu.
Ketegangan ini tidak hanya mempengaruhi liga, tetapi juga nasib pemain-pemain Israel yang terjebak di dalam konflik. Striker Manor Solomon, yang baru saja menikah, kini terhadang oleh penutupan jalur penerbangan dan serangan rudal. Kejadian ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi para atlet dalam situasi konflik.
Secara keseluruhan, liga Israel kini berada pada titik kritis, di mana banyak klub dan pemain harus membuat keputusan sulit terkait masa depan mereka. Ketidakpastian ini bukan hanya mempengaruhi kompetisi sepak bola nasional, tetapi juga menggambarkan gambaran lebih besar tentang dampak dari konflik yang terjadi di kawasan tersebut. Dengan semua tantangan ini, Liga Israel masih berharap untuk kembali ke jalur normal secepat mungkin, walaupun situasi saat ini menunjukkan bahwa jalan tersebut masih panjang dan berliku.







