Dalam beberapa waktu terakhir, kuota pemain asing di Liga Indonesia menarik perhatian banyak pihak, termasuk pelatih Timnas U-20 Indonesia, Frank van Kempen. Dalam sebuah wawancara dengan media Belanda, Van Kempen mengungkapkan pandangannya mengenai perluasan kuota pemain asing yang mengizinkan hingga 11 pemain asing pada kompetisi Super League 2025/2026. Menurutnya, langkah ini dapat menghambat pengembangan pemain muda lokal yang seharusnya menjadi fokus utama dalam pembinaan sepakbola di Indonesia.
Pentingnya Pembinaan Pemain Muda
Dengan bertambahnya kuota pemain asing, Van Kempen menyarankan agar pemerintah sepakbola Indonesia, khususnya PSSI, mempertimbangkan untuk membatasi jumlah pemain asing. Ia menjelaskan bahwa hal ini sangat penting untuk mendukung proses pengembangan yang berkelanjutan dan merata bagi para pemain lokal. “Secara pribadi, saya lebih suka jika jumlah pemain asing dikurangi. Itu akan lebih baik untuk perkembangan pemain lokal,” ungkapnya.
Meskipun PSSI telah menerapkan regulasi yang mewajibkan minimal satu pemain U-23 tampil selama 45 menit dalam setiap pertandingan, Van Kempen menilai dominasi pemain asing masih menjadi penghalang untuk memberikan kesempatan lebih kepada pemain muda. "Meski regulasi yang ada sudah merupakan langkah positif, kita tetap harus berjuang agar pemain lokal mendapatkan peluang yang lebih baik untuk tampil," tambahnya.
Respon PSSI dan Operator Liga
Dalam perkembangan terbaru, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, merespon penambahan kuota pemain asing ini dengan mengatakan bahwa tujuh pemain asing seharusnya menjadi opsi yang lebih ideal. Thohir menyatakan akan menyampaikan pandangannya kepada operator Super League, I League (dulu dikenal sebagai PT LIB), agar kebijakan ini bisa dirundingkan lebih lanjut.
Berdasarkan informasi yang beredar, pihak I League sebelumnya mengumumkan bahwa pada musim depan akan diizinkan delapan pemain asing bermain bersamaan, sebuah peningkatan dari enam pemain pada Liga 1 musim 2024/2025. Langkah ini menimbulkan berbagai reaksi dari banyak kalangan, termasuk pelatih, manajer, dan pengamat sepak bola, yang khawatir hal ini dapat mengurangi peluang pemain lokal untuk berkembang.
Strategi Pembinaan yang Berkelanjutan
Van Kempen menekankan pentingnya penyusunan visi jangka panjang agar seluruh tim nasional usia muda dapat dididik dengan cara yang seragam. Dia saat ini tengah fokus mendampingi timnas U-23 yang berlaga di ASEAN U-23 Championship 2025. "Setelah itu, saya akan fokus ke tim U-20 dan mulai memetakan pemain. Kami akan memprioritaskan talenta lokal, karena jumlahnya banyak sekali. Baru setelah itu kami pertimbangkan opsi menambah pemain dari Eropa," jelas Van Kempen.
Pendekatan yang lebih terstruktur diperlukan untuk membangun fondasi yang kuat dalam pengembangan sepakbola Indonesia. Melihat banyaknya bakat muda yang ada, upaya seperti ini dinilai sangat penting. Dengan adanya pembatasan kuota pemain asing, diharapkan pelatih bisa lebih berfokus pada pengembangan keterampilan dan mentalitas pemain lokal, sehingga mereka dapat bersaing di level internasional.
Tantangan ke Depan
Meskipun ada pandangan pro dan kontra mengenai kuota pemain asing, tantangan utama bagi PSSI dan klub-klub di Indonesia tetap pada pengembangan infrastruktur dan program pembinaan yang efektif. Ini penting untuk meningkatkan kualitas permainan secara keseluruhan. Keberlanjutan dan konsistensi dalam melakukan perubahan-perubahan tersebut adalah kunci untuk menciptakan ekosistem sepakbola yang sehat dan berdaya saing.
Van Kempen dan banyak pelatih lain tetap berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi pemain lokal. Penekanan pada penggunaan talenta muda diharapkan dapat membawa sepak bola Indonesia ke arah yang lebih baik dalam jangka panjang. Dengan perubahan dan strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Indonesia akan memiliki generasi pemain yang siap berkompetisi di tingkat dunia.







