Arema FC harus puas membawa pulang satu poin usai bermain imbang 1-1 melawan PSIM Yogyakarta dalam laga pekan kedua Super League yang berlangsung di Bantul. Tim berjuluk Singo Edan itu sempat unggul lebih dulu berkat penalti yang berhasil dieksekusi oleh Dalberto Luan pada menit ke-41. Namun gol bunuh diri Betinho di menit ke-88 membuat peluang kemenangan hilang pada saat-saat akhir pertandingan.
Pelatih Arema FC, Marcos Santos, mengakui bahwa kondisi sulit terjadi setelah timnya harus bermain dengan sepuluh pemain karena adanya kartu merah. Meski demikian, ia tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap usaha para pemainnya yang mampu bertahan di bawah tekanan PSIM dan dukungan penuh dari para suporter tuan rumah. “Jadi motivasi pemain sulit pastinya kalau ada satu pemain dikartu merah di sepak bola. Tapi pemain kena kartu merah kami tetap kerja keras,” ujar Marcos.
Dalam penilaiannya, Santos melihat pertandingan berlangsung cukup ketat. Ia menyebut PSIM tampil luar biasa dan mendapat dorongan besar dari dukungan suporter, sekaligus memuji permainan Arema yang tetap baik di dua babak, meskipun dalam kondisi kurang satu pemain. Menurutnya, hasil imbang sudah merupakan capaian yang baik.“PSIM mainnya luar biasa, juga suporter memberi motivasi untuk membangun mereka. Tapi Arema babak pertama dan kedua bagus, meski kami kurang satu pemain. Tapi menurut saya pemain luar biasa. Imbang sudah bagus, satu poin sudah cukup,” kata pelatih asal Brasil tersebut.
Senada dengan pelatih, bek Arema FC, Anwar Rifai, juga menyatakan rasa syukurnya setelah mampu membawa pulang satu angka dari Bantul. Pemain bernomor punggung 23 ini menilai hasil imbang tersebut cukup memuaskan mengingat situasi tim yang harus bertanding dengan jumlah pemain lebih sedikit menjelang akhir laga. “Syukur Alhamdulillah kami bisa membawa pulang poin ke Malang, walaupun cuma satu poin karena dengan 10 pemain kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” papar Anwar.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi pertandingan mungkin akan berbeda jika Arema bermain dengan kekuatan penuh 11 pemain sepanjang laga. Anwar meyakini peluang untuk mempertahankan skor 1-0 akan lebih besar dalam formasi lengkap. Namun fakta di lapangan menunjukkan PSIM mampu menyamakan skor sekalipun menghadapi lawan yang bertahan dengan sepuluh pemain. “Mungkin kalau 11 pemain kami bisa mempertahankan skor 1-0 itu. Tapi mereka bisa cetak gol dengan 10 pemain kita dan kami bersyukur bisa membawa pulang poin,” tambahnya.
Hasil ini menunjukkan bahwa Arema masih mampu menunjukkan daya juang kuat walau dalam kondisi tidak ideal. Mereka harus terus mengasah strategi agar mampu mengoptimalkan peluang dan mempertahankan keunggulan dalam situasi tekanan tinggi. Tekad untuk meraih hasil lebih baik pada pertandingan selanjutnya menjadi fokus utama tim pelatih dan pemain Singo Edan untuk menjaga konsistensi performa mereka di kompetisi musim ini.
Pihak manajemen dan pelatih juga akan mengevaluasi aspek disiplin agar dapat menghindari insiden kartu merah yang dapat merugikan tim di laga-laga krusial mendatang. Kualitas pemain dan kerja keras di lapangan dianggap sebagai modal penting oleh Arema untuk terus memperbaiki posisi klasemen serta meraih hasil positif bagi para pendukung setia.
Pemain dan pelatih menyadari pentingnya dukungan suporter sebagai energi tambahan saat bertanding di luar kandang, khususnya menghadapi tim yang mendapat semangat besar dari publiknya sendiri. Sikap optimis dan apresiasi terhadap perjuangan tim menjadi ciri khas Arema yang diharapkan dapat terus tumbuh ke arah yang lebih baik.
Dengan satu poin dari pertandingan melawan PSIM ini, Arema kini siap menghadapi tantangan lanjutan di pertandingan berikutnya dengan semangat yang tetap membara dan komitmen menjaga reputasi sebagai salah satu klub besar di kompetisi Super League Indonesia.







