Facundo Garces kembali menjadi sorotan publik setelah Malaysia menerima sanksi dari FIFA akibat kasus manipulasi dokumen naturalisasi pemain. Bek berusia 26 tahun ini sebelumnya sempat menuai kontroversi terkait klaim asal-usul kewarganegaraannya yang menimbulkan keraguan legalitas proses naturalisasinya.
Kontroversi bermula ketika Garces, dalam wawancara bersama media Spanyol, El Correo, mengungkapkan bahwa ia berhak membela Timnas Malaysia karena memiliki “bisabuelo” atau kakek buyut asal Malaysia. Pernyataan ini langsung menimbulkan tanda tanya besar, mengingat regulasi FIFA secara ketat mengatur bahwa seorang pemain hanya boleh membela sebuah tim nasional jika memiliki hubungan darah langsung hingga tingkat kakek-nenek, bukan leluhur dari generasi yang lebih jauh.
Kesalahan istilah yang diucapkan Garces ini kemudian memicu spekulasi soal keabsahan dokumen naturalisasinya. Menyadari kontroversi yang berkembang, Garces kemudian mengklarifikasi bahwa yang dimaksudnya sebenarnya adalah “abuelo” atau kakek, bukan “bisabuelo”. Dalam pernyataan di akun Instagram pribadinya, ia menyatakan kebanggaannya membela Timnas Malaysia dan berharap dukungan dari para penggemar.
Karier gemilang Garces di Eropa sempat menjadi kebanggaan Malaysia. Sebelumnya, Garces merupakan produk akademi klub Colón asal Argentina, di mana ia tampil sebanyak 129 kali selama periode 2020 hingga 2024. Pada tahun 2025, ia bergabung dengan Deportivo Alavés di La Liga Spanyol dan langsung menjadi pemain kunci dengan bermain penuh di enam pertandingan awal musim 2025/2026.
Debut Garces di Timnas Malaysia berlangsung pada Juni 2025 dalam pertandingan leg I Kualifikasi Piala Asia 2027 melawan Vietnam U-23 yang berakhir dengan kemenangan telak 4-0. Pelatih Peter Cklamovski pun memuji ketenangan dan pengalaman Garces, yang dinilai mampu menguatkan lini belakang timnas Malaysia berkat pengalamannya di kompetisi kelas dunia.
Namun, karier internasional Garces dan enam pemain naturalisasi lainnya harus terkendala setelah FIFA memberi hukuman berat kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). FIFA mengeluarkan sanksi berupa denda sebesar 350.000 franc Swiss dan larangan bermain selama 12 bulan untuk setiap pemain yang terlibat. Sanksi ini dijatuhkan atas temuan adanya pemalsuan dan manipulasi dokumen terkait naturalisasi pemain, yang jelas melanggar aturan FIFA.
Kasus ini menegaskan begitu ketat dan sensitifnya regulasi FIFA mengenai naturalisasi pemain dalam sepak bola internasional. Ucapan Garces yang diduga sekadar kesalahan istilah justru menjadi pemicu penyelidikan yang menguak praktik tidak sah dalam proses naturalisasi. Sanksi ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi federasi dan pemain lainnya untuk menjaga integritas dan transparansi dalam pengurusan administrasi pemain internasional.
Berikut ringkasan kronologi dan fakta penting terkait kasus ini:
1. Garces menyebut memiliki “bisabuelo” asal Malaysia yang menjadi dasar pemanggilan ke Timnas Malaysia.
2. FIFA mewajibkan hubungan darah maksimal sampai kakek-nenek, sehingga klaim tersebut menimbulkan keraguan.
3. Garces mengklarifikasi bahwa maksudnya adalah “abuelo” (kakek), bukan “bisabuelo.”
4. Garces pernah menjadi pemain kunci Deportivo Alavés di La Liga dan debut sukses di Timnas Malaysia pada Juni 2025.
5. FIFA memberikan sanksi larangan bermain selama 12 bulan kepada Garces dan enam pemain naturalisasi lainnya.
6. Federasi Sepak Bola Malaysia juga didenda 350.000 franc Swiss atas kasus manipulasi dokumen.
Kasus ini membawa dampak besar bagi reputasi pemain sekaligus federasi sepak bola Malaysia. Keputusan FIFA akan mempengaruhi kelangsungan karier Garces, terutama di kancah internasional maupun klub, yang sempat menunjukkan tren positif di level klub papan atas Eropa. Semangat menjaga aturan dan etika administrasi pemain pun menjadi pelajaran penting dalam dinamika naturalisasi di dunia sepak bola modern.
