Penjualan LCGC Turun 27% di 2026, Mobil Listrik Murah China Jadi Ancaman Pasar Baru?

Penjualan mobil LCGC (Low Cost Green Car) pada tahun 2025 mengalami penurunan drastis. Data Gaikindo mencatat, penjualan LCGC hanya mencapai 130.799 unit, turun 27% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 178.726 unit.

Penurunan ini diperparah oleh hadirnya mobil listrik murah asal China yang dijual pada kisaran harga di bawah Rp 200 juta. Mobil listrik menjadi alternatif menarik bagi konsumen yang mencari kendaraan ramah lingkungan sekaligus hemat biaya.

Penyebab Penurunan Penjualan LCGC

Salah satu faktor utama menurunnya penjualan mobil LCGC adalah kondisi ekonomi nasional yang melemah. Segmen LCGC selama ini menyasar pembeli mobil pertama yang secara langsung merasakan dampak ekonomi yang kurang menggembirakan. Selain itu, penetrasi kendaraan listrik dengan harga terjangkau semakin menarik minat konsumen.

Menurut Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo, saat ini porsi kendaraan elektrifikasi (xEV) sudah mencapai lebih dari 16% dari total pasar otomotif di Indonesia. Pertumbuhan pasar mobil listrik tersebut berdampak langsung pada penurunan penjualan mobil konvensional, termasuk LCGC. Kukuh menyatakan, “Pasarnya yang tumbuh, maka makan dari konvensional. Yang kemakan adalah dari LCGC dan juga konvensional non-LCGC.”

Perbandingan Data Penjualan

Data Gaikindo menunjukkan tren penurunan penjualan LCGC telah terjadi sejak 2023. Pada tahun tersebut, penjualan LCGC nyaris menyentuh angka 200 ribu unit, tepatnya 198.564 unit. Tahun 2024 terjadi penurunan sekitar 10%, dan tahun 2025 penurunannya lebih tajam hingga 27%. Realitas ini mengindikasikan tekanan berat yang terus dialami segmen LCGC di tengah persaingan industri otomotif yang kian dinamis.

Strategi Baru untuk LCGC

Chairman I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, menegaskan bahwa tren otomotif Indonesia telah bergeser ke kendaraan listrik. Ia menilai pergeseran tersebut tidak dapat dihindari dan menjadi suatu keniscayaan. Menurutnya, untuk mempertahankan eksistensi LCGC di pasar, produsen harus mencari pasar baru dan menciptakan inovasi baru.

Jongkie juga menyoroti bahwa teknologi LCGC saat ini masih menggunakan mesin pembakaran internal (ICE), sementara tren dunia sudah bergerak ke kendaraan listrik. “Kalau LCGC tak mau semakin tergerus pasarnya, maka harus punya ide baru atau membuka pasar baru,” ujarnya.

Ia mengakui ada tantangan khusus di Indonesia karena wilayahnya luas dan tidak semua daerah siap menggunakan mobil listrik. Wilayah pelosok dan terpencil mungkin belum dapat mengadopsi kendaraan listrik secara maksimal. Oleh karenanya, menurut Jongkie, LCGC masih memiliki peluang untuk memperkuat posisinya di pasar yang belum siap beralih ke mobil listrik.

Tantangan dan Peluang LCGC di Masa Depan

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri LCGC untuk bertahan dan berkembang:

  1. Penyesuaian Model Bisnis – Mengembangkan varian baru yang lebih adaptif dengan kebutuhan pasar.
  2. Segmentasi Pasar – Fokus pada wilayah dengan infrastruktur terbatas untuk kendaraan listrik.
  3. Inovasi Teknologi – Mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan, misalnya bahan bakar alternatif selain bensin.
  4. Strategi Harga dan Promosi – Menyesuaikan harga agar tetap kompetitif di tengah persaingan dengan mobil listrik murah.
  5. Kolaborasi dengan Pemerintah – Memanfaatkan kebijakan subsidi dan insentif untuk menjaga daya beli masyarakat.

Perubahan jalur industri otomotif ini membutuhkan langkah adaptif dan inovatif. LCGC sebagai produk yang menyasar kelas menengah bawah harus relevan dengan kondisi pasar dan minat konsumen yang terus berubah.

Pasar mobil listrik yang berkembang dengan cepat harus menjadi pengingat bagi produsen LCGC untuk bersiap menghadapi perubahan. Jika tidak melakukan penyesuaian, peluang LCGC untuk terus bertahan akan semakin menipis. Namun bagi yang mampu membuka peluang baru dan berinovasi, segmen ini masih menyimpan potensi bisnis cukup besar, terutama di daerah yang belum siap beralih ke kendaraan listrik.

Dengan kondisi pasar yang berubah cepat, pengembangan strategi dan inovasi produk menjadi kunci utama agar LCGC bisa bertahan dan mengikuti tren otomotif nasional yang mengarah pada elektrifikasi kendaraan.

Terkait