Nasib Wuling Almaz di Indonesia tampaknya masih aman meski Eksion segera masuk sebagai SUV baru. Wuling justru menegaskan bahwa kedua model itu tidak akan saling berebut konsumen karena target pasarnya berbeda.
Bagi Wuling, Almaz tetap punya peran penting sebagai SUV andalan yang sudah lebih dulu hadir di Indonesia. Model ini juga sempat mendapat varian RS Hybrid beberapa tahun lalu, sehingga posisinya tidak sekadar sebagai SUV bensin biasa.
Masuknya Eksion memang memunculkan pertanyaan soal masa depan Almaz. Wajar, karena banyak SUV baru kini datang dengan fitur lebih lengkap, mesin lebih bertenaga, dan harga yang lebih terjangkau.
Tekanan itu bisa membuat model lama terlihat tertinggal jika tidak mendapat penyegaran. Dalam situasi seperti ini, opsi minor change, facelift, atau model all new biasanya menjadi penentu agar sebuah SUV tetap relevan di pasar.
Almaz dan Eksion punya jalur berbeda
Wuling disebut akan menjual Eksion sebagai SUV terbarunya dengan dua pilihan teknologi, yaitu PHEV dan BEV. Sementara itu, Almaz hanya menawarkan mesin bensin dan hybrid.
Perbedaan itulah yang membuat keduanya tidak ditempatkan dalam kompetisi langsung. Almaz tetap ditujukan untuk konsumen yang mencari SUV bermesin bensin atau hybrid biasa, sedangkan Eksion menyasar pembeli yang mengincar elektrifikasi lebih jauh.
Eksion juga disebut bakal hadir dengan harga yang cukup terjangkau. Meski begitu, ada peluang banderolnya tidak terlalu jauh dari Almaz, sehingga minat konsumen tetap menjadi faktor yang menarik untuk dipantau.
Di sisi lain, Wuling tampak ingin menjaga Almaz tetap hidup di pasar. Pabrikan asal Tiongkok itu memastikan model tersebut akan terus dijual dan tidak ditinggalkan meski ada SUV baru yang datang.
Posisi Almaz di tengah lini Wuling
Kehadiran Almaz juga tidak bisa dilepaskan dari strategi Wuling yang makin agresif di Indonesia. Merek ini kini menjual banyak model, mulai dari mobil penumpang hingga niaga ringan, dan lini SUV menjadi salah satu andalannya.
Selain Almaz, Wuling masih punya Alvez di segmen SUV bermesin bensin. Namun, dimensinya lebih kecil dari Almaz, sehingga kurang cocok bagi konsumen yang mencari SUV berukuran lebih besar.
Artinya, Almaz masih memegang ruang yang cukup spesifik di dalam portofolio Wuling. Ruang ini menjadi penting karena tidak semua konsumen ingin beralih ke SUV elektrifikasi penuh atau ke model yang lebih kecil.
Lini elektrifikasi Wuling makin padat
Di luar Almaz dan Eksion, Wuling juga terus memperluas jajaran mobil ramah lingkungannya. Darion menjadi model paling baru yang diluncurkan sejak tahun lalu, dan model itu juga hadir dalam pilihan PHEV serta EV.
Wuling bahkan menyiapkan perubahan pada beberapa model lama. Air EV disebut akan digantikan oleh Aira EV, dan nama model barunya sudah didaftarkan beberapa waktu lalu dengan basis Hongguang Mini EV terbaru.
Langkah itu menunjukkan arah produk Wuling yang makin condong ke model baru dan teknologi elektrifikasi. Namun, strategi tersebut juga membawa risiko karena model yang lebih lama bisa mengalami penurunan penjualan jika perhatian konsumen bergeser ke produk yang lebih segar.
Meski begitu, untuk Almaz, sinyal yang muncul justru berbeda. Selama Wuling tetap melihatnya sebagai SUV bensin dan hybrid untuk segmen tersendiri, model ini masih punya tempat di pasar Indonesia bahkan setelah Eksion resmi dijual.
Source: ridertua.com






