Yamaha RX 350 Sport menjadi motor legendaris yang kerap disebut sebagai "pembantai moge" pada era 1970-an. Motor ini dikenal memiliki mesin 2-tak dengan kapasitas 348 cc dan tenaga puncak mencapai 36 hp pada 7.000 rpm, angka yang luar biasa untuk zamannya. Bobot motor yang hanya 141 kg membuat RX 350 memiliki rasio power-to-weight yang sangat menguntungkan, mampu mengalahkan motor-motor besar 4-tak di lintasan lurus maupun jalanan umum.
Diproduksi antara tahun 1970 hingga 1972 di pasar Jepang dan India, RX 350 mengusung mesin parallel twin cylinder 2-tak berpendingin udara. Suspensi depan menggunakan teleskopik fork, sementara bagian belakang dipasangi dual shock yang cukup responsif. Sistem pengeremannya masih menggunakan rem tromol di depan dan belakang, ciri khas motor pada masa itu. Meski sederhana, perpaduan tenaga besar dan bobot ringan membuatnya menjadi momok bagi pesaing di kelasnya.
Keunggulan Mesin dan Performa
RX 350 Sport didukung bore x stroke 64 mm dengan rasio kompresi 6,9:1 dan sistem karburator yang menjadikannya sangat responsif dan agresif. Transmisi 5-percepatan dengan kopling basah multi-plate menjamin perpindahan gigi yang halus dan tenaga disalurkan efektif melalui rantai final drive. Hal ini yang membuat RX 350 mampu menyaingi motor-motor gede 4-tak yang pada masa itu dianggap lebih kuat.
Julukan "giant killer" bukan sekadar istilah klise, melainkan penghargaan atas kemampuannya melibas motor bermesin besar, terutama moge 4-tak. Keunggulan yang sangat langka, mengingat pada masa itu banyak motor raksasa dengan mesin lebih besar mendominasi pasar. RX 350 menunjukkan bahwa power-to-weight ratio bisa jadi faktor utama, bukan hanya kapasitas mesin.
Desain Sport Klasik dan Suara Khas
Secara visual, RX 350 mengadopsi desain sport klasik dengan ban depan berukuran 3.00-18 dan belakang 3.50-18 yang memberikan keseimbangan handling. Karakter suara mesin 2-tak twin cylinder tampil khas dan menggelegar, berbeda dari generasi RX King yang lebih familiar di Indonesia. Desain serta bunyi khas inilah yang membuat RX 350 mudah dikenali dan diingat oleh penggemar motor sport era itu.
Mengejutkan, RX 350 tidak masuk secara resmi ke pasar Indonesia, sementara RX King yang lahir pada era berikutnya justru menjadi ikon yang sangat populer dan melekat di hati masyarakat. Namun jika meninjau sejarah Yamaha secara global, RX 350 adalah sesepuh yang layak mendapat penghargaan sebagai pelopor motor 2-tak bertenaga besar.
Peran RX 350 dalam Sejarah Yamaha dan RX King
Yamaha RX King sebagai "raja jalanan" memang dikenal luas di Indonesia berkat suara knalpot bising dan torsi yang kuat. Meski demikian, RX King sebenarnya memiliki "senior" yang lebih dulu memperlihatkan durabilitas dan ganasnya motor 2-tak Yamaha, yakni RX 350. Motor ini menjadi tonggak penting dalam sejarah bagaimana Yamaha memperkenalkan motor sport kecil namun mampu mengungguli moge di kelasnya.
Berikut adalah poin penting yang membedakan Yamaha RX 350 dari RX King:
- Kapasitas mesin RX 350 lebih besar yakni 348 cc dibanding RX King yang sekitar 135 cc.
- Tenaga puncak RX 350 mencapai 36 hp, nyaris tiga kali lipat tenaga RX King.
- RX 350 menggunakan mesin parallel twin cylinder, sementara RX King memakai satu silinder.
- RX 350 hadir lebih dulu, menjadi pendahulu yang menginspirasi pengembangan RX King.
- RX King lebih laris di pasar Indonesia, sementara RX 350 fokus pasar Jepang dan India.
Dengan kekuatan dan reputasi sebagai “giant killer,” Yamaha RX 350 menunjukkan bahwa motor sport 2-tak tidak perlu berkapasitas besar untuk menaklukkan raksasa 4-tak. Motor ini menghadirkan era keemasan bagi Yamaha sebelum kemunculan RX King yang kemudian mendominasi pasar dan menjadi legenda baru di tanah air.
Secara keseluruhan, reputasi Yamaha RX 350 sebagai motor dengan performa super bertenaga dan bobot ringan layak mendapat tempat istimewa. RX King mungkin jadi ikon nasional, tetapi RX 350 adalah legenda yang membuat RX King harus sungkem terlebih dahulu. Kisah ini mengingatkan keberanian Yamaha dalam menghadirkan teknologi mesin 2-tak yang revolusioner dan mengesankan di zamannya.
Baca selengkapnya di: www.suara.com