Toyota Siapkan Produksi Baterai Hybrid di Indonesia, Targetkan TKDN 60% Tahun 2027

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) tengah bersiap memproduksi baterai kendaraan elektrifikasi di dalam negeri. Toyota sudah menyiapkan jalur produksi khusus yang akan mengakomodasi kebutuhan pasar yang semakin berkembang pesat.

Nandi Julianto, Presiden Direktur TMMIN, menyampaikan bahwa jalur produksi tersebut ditujukan untuk baterai mobil hybrid terlebih dahulu. Perseroan juga menggandeng mitra pabrikan baterai agar produksi dapat berjalan secara optimal dan efisien di Indonesia.

Produksi Baterai Hybrid dan BEV

Secara teknis, komponen inti baterai hybrid dan baterai kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) sebenarnya sama. Perbedaan utama hanya pada kapasitas atau jumlah sel baterainya. Untuk baterai hybrid biasanya kapasitasnya sekitar 1,7 kilowatt, sementara baterai BEV bisa mencapai kapasitas puluhan kilowatt.

Nandi menjelaskan, “Sel baterai dan sistem manajemen baterainya itu sama. Yang membedakan hanyalah jumlah selnya.” Oleh karena itu, pengembangan baterai hybrid menjadi langkah awal yang wajar sebelum beralih ke baterai BEV dengan kapasitas lebih besar.

Upaya Lokalisasi Komponen Elektrifikasi

Selain baterai, Toyota juga mempersiapkan lokalisasi komponen penting lain seperti transaxle dan motor listrik untuk memperkuat ekosistem elektrifikasi di Indonesia. Upaya ini berkelanjutan guna memenuhi target pemerintah agar kendaraan elektrifikasi di tanah air memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang semakin meningkat.

Target TKDN ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 79 Tahun 2023, dimana mobil elektrifikasi harus mencapai minimal TKDN 60% pada tahun 2027. Selanjutnya, target tersebut naik menjadi 80% pada tahun 2030 dan seterusnya.

Pentingnya Volume Produksi untuk Ekonomi Rantai Pasok

Toyota menilai volume produksi yang besar adalah kunci agar rantai pasok baterai dan komponen elektrifikasi bisa berjalan secara ekonomis. Saat ini, model hybrid seperti Innova Zenix, Yaris Cross, dan Veloz Hybrid menjadi kendaraan tumpuan karena permintaannya tinggi.

Dengan dukungan volume pasar yang besar, Toyota yakin pabrikan baterai akan semakin termotivasi untuk berinvestasi dan mengembangkan kapasitas produksi di Indonesia. Langkah ini juga penting agar harga kendaraan elektrifikasi Toyota tetap kompetitif di tengah beban pajak yang berpotensi tinggi jika baterai harus impor.

Target Pemerintah dan Implikasinya untuk Industri Otomotif

Pemerintah Indonesia menargetkan agar pada 2027 mobil elektrifikasi sudah memenuhi TKDN minimal 60%. Target ini bertujuan memperkuat industri otomotif nasional sekaligus mendukung transformasi energi bersih.

Apabila komponen inti seperti baterai tidak diproduksi di dalam negeri, kendaraan Toyota diperkirakan akan dikenai pajak tinggi. Nandi menegaskan, situasi ini berpotensi mengurangi daya saing harga mobil hybrid dan listrik buatan Indonesia di pasar domestik.

Ringkasan Target TKDN Mobil Elektrifikasi:

  1. Tahun 2026: TKDN minimal 40%
  2. Tahun 2027-2029: TKDN minimal 60%
  3. Tahun 2030 dan seterusnya: TKDN minimal 80%

Toyota telah memulai langkah strategis dalam produksi baterai hybrid sebagai fondasi pengembangan kendaraan elektrifikasi lebih lanjut. Investasi ini menegaskan komitmen Toyota untuk mendukung ekosistem elektrifikasi di Indonesia sekaligus menjawab kebutuhan pasar domestik yang kian meningkat.

Kesiapan Toyota memproduksi baterai di Indonesia menjadi salah satu sinyal kuat bahwa industri otomotif nasional bergerak cepat menuju era kendaraan ramah lingkungan. Hal ini juga sekaligus membuka peluang penguatan rantai pasok lokal dan peningkatan kualitas komponen otomotif Indonesia di masa depan.

Terkait