
Industri baterai di China bergerak cepat mengadopsi teknologi baterai ion natrium seiring lonjakan harga litium yang tajam. Peralihan ini menjadi solusi bagi produsen dalam menekan biaya produksi dan mengatasi gangguan rantai pasok global.
Baterai ion natrium menggunakan natrium yang melimpah di kerak bumi, sekitar 400 kali lebih banyak dibandingkan litium yang tersebar terbatas di beberapa wilayah. Sifat ini membuat bahan baku ion natrium lebih stabil dari sisi harga dan ketersediaan.
Lonjakan Harga Litium Memicu Perubahan
Harga litium karbonat yang melejit mencapai di atas 150.000 yuan per ton membuat tekanan biaya semakin berat untuk produsen baterai. Harga tertinggi bahkan sempat menyentuh 170.000 yuan per ton atau sekitar 23.700 dolar AS per ton. Kondisi ini menjadi faktor pendorong bagi industri untuk mencari alternatif baterai yang lebih murah.
Baterai ion natrium dinilai mampu mengurangi dampak volatilitas harga dan mengamankan pasokan bahan baku yang lebih stabil. Hal ini sangat penting bagi pasar mobil listrik kelas bawah yang selama ini bergantung pada baterai litium besi fosfat (LFP).
Pengembangan dan Implementasi di China
CATL, produsen baterai terbesar dunia, telah meluncurkan produk baterai ion natrium khusus kendaraan komersial ringan. Mereka juga berencana memperkenalkannya untuk mobil penumpang mulai kuartal kedua tahun depan, dimulai dari model Aion Y Plus.
Selain CATL, perusahaan lain seperti BYD, EVE Energy, dan Ronbay Technology juga aktif mengembangkan teknologi ini. BYD bahkan mengoperasikan lini produksi dengan kapasitas mencapai 30 GWh, sementara EVE Energy menginvestasikan 1 miliar yuan dalam proyek baterai ion natrium. Ronbay Technology melakukan konversi pabrik baterai litiumnya untuk memproduksi material ion natrium.
Kelebihan Baterai Ion Natrium
Baterai ion natrium unggul dalam performa pada suhu rendah. Prototipe terbaru dapat mempertahankan lebih dari 90 persen kapasitas pada suhu minus 20 derajat Celsius. Sebagai perbandingan, baterai litium standar biasanya hanya mampu mencapai 80 persen pada suhu serupa.
Dari sisi biaya, material ion natrium diperkirakan 30-40 persen lebih murah daripada material litium. Meskipun demikian, biaya produksi total masih tergantung pada skala manufaktur dan kesiapan rantai pasok yang saat ini masih berkembang.
Tantangan dan Keterbatasan
Kepala energi baterai ion natrium masih berada di rentang 100-170 Wh/kg. Angka ini lebih rendah dibanding baterai LFP yang berkisar 180-200 Wh/kg dan baterai litium ternary yang mencapai 250-300 Wh/kg.
Hal ini membuat baterai ion natrium kurang cocok untuk kendaraan listrik yang memerlukan jarak tempuh jauh. Selain itu, produksi massal dan pengelolaan rantai pasok masih terus dikembangkan agar teknologi ini bisa bersaing dengan baterai litium yang sudah mapan.
Peluang Pasar dan Aplikasi
Para analis memperkirakan baterai ion natrium akan lebih dulu difokuskan untuk kendaraan listrik kelas bawah, kendaraan di wilayah beriklim dingin, serta aplikasi penyimpanan energi stasioner. Teknologi ini dipandang sebagai pelengkap baterai litium, bukan sebagai pengganti seluruhnya.
Dalam skala global, pengiriman baterai ion natrium pada tahun ini meningkat sekitar 150 persen menjadi 9 GWh. Tren ini menunjukkan minat yang tumbuh cepat terhadap solusi baterai alternatif.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa tahun depan bisa menjadi momentum penting bagi komersialisasi baterai ion natrium di China. Dengan biaya yang lebih kompetitif dan keunggulan khusus, teknologi ini berpotensi mempercepat transisi energi di sektor kendaraan listrik dan penyimpanan energi.





