Mobil Listrik Salip Bensin di Eropa 2026, Indonesia Catat Lonjakan Penjualan 141% Tahun Ini

Pasar otomotif Eropa mencatat pencapaian penting dengan penjualan mobil listrik murni (BEV) yang untuk pertama kalinya melampaui mobil bensin. Data European Automobile Manufacturers Association (ACEA) menunjukkan pangsa pasar BEV mencapai 22,6 persen pada Desember, sedikit lebih tinggi dibandingkan 22,5 persen untuk mobil bensin.

Kenaikan itu didorong oleh peningkatan registrasi BEV sebesar 51 persen secara tahunan dan penurunan penjualan mobil bensin sekitar 19 persen. Perubahan ini menandai pergeseran preferensi konsumen yang semakin mengarah ke kendaraan tanpa emisi.

Tren Penjualan Mobil Listrik di Eropa
Sepanjang tahun, mobil listrik murni menguasai pangsa pasar sebesar 17,4 persen, naik dari 13,6 persen pada tahun sebelumnya. Meskipun begitu, mobil bensin masih mendominasi secara akumulatif. Segmen kendaraan hybrid, termasuk hybrid non-charging dan plug-in hybrid, tetap menjadi yang terbesar dengan pangsa pasar lebih dari 30 persen.

Regulasi emisi yang ketat di Eropa menjadi salah satu pendorong utama transisi ini. Pembuat mobil dan konsumen diarahkan menuju kendaraan nol emisi sebagai solusi mitigasi perubahan iklim. Namun, diskusi regulasi masih berlangsung, terutama mengenai target pelarangan mobil berbahan bakar fosil pada 2035 yang mungkin mengalami penyesuaian.

Kondisi Pasar Mobil Listrik di Indonesia
Indonesia juga menunjukkan peningkatan signifikan dalam penjualan mobil listrik pada tahun ini, dengan pertumbuhan mencapai 141 persen. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat 103.931 unit BEV terdistribusi sepanjang tahun, naik tajam dari 43.188 unit pada tahun sebelumnya.

Namun, pangsa pasar BEV di Indonesia baru mencapai 12,93 persen dari total penjualan nasional sebesar 803.687 unit. Angka ini masih di bawah pangsa pasar mobil listrik di Eropa pada periode yang sama, sehingga menandakan pasar otomotif Indonesia sedang dalam tahap awal pertumbuhan kendaraan listrik.

Faktor yang Mendorong Pertumbuhan BEV di Indonesia
Beberapa faktor mendukung lonjakan penjualan mobil listrik di Indonesia:

  1. Insentif pemerintah, seperti pembebasan pajak dan subsidi, yang membuat harga mobil listrik semakin kompetitif.
  2. Peningkatan infrastruktur pengisian daya (charging station) yang mulai tersebar di beberapa kota besar.
  3. Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan yang mulai meningkat.
  4. Diversifikasi pilihan model mobil listrik dari berbagai pabrikan yang memasuki pasar Indonesia.

Meski begitu, tantangan infrastruktur dan harga kendaraan listrik masih menjadi hal yang harus diatasi agar pertumbuhan pasar kendaraan listrik dapat berkelanjutan dan lebih inklusif.

Perbandingan Dinamika Pasar Eropa dan Indonesia
Sementara Eropa telah mengalami transisi struktur yang kuat ke arah mobil listrik dan hybrid, Indonesia masih dalam tahap awal transisi. Faktor regulasi, budaya konsumen, serta kesiapan infrastruktur menjadi pembeda utama. Indonesia dapat belajar dari pengalaman Eropa dalam mempercepat adaptasi kendaraan listrik dengan strategi kebijakan dan pembangunan infrastruktur yang terpadu.

Analis industri memprediksi permintaan mobil listrik di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan penurunan biaya baterai dan perluasan jaringan pengisian daya. Namun, adaptasi ini memerlukan sinergi antara pemerintah, produsen, dan konsumen untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan.

Perbandingan tren pasar mobil listrik murni yang telah melewati mobil bensin di Eropa dengan pertumbuhan pesat di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar. Peralihan ke kendaraan listrik bukan hanya soal lingkungan, tapi juga peluang ekonomi dan teknologi yang perlu didukung secara serius.

Terkait