Penjualan motor listrik di Indonesia diperkirakan masih bisa meningkat meski tanpa adanya insentif pemerintah. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) memprediksi pertumbuhan sekitar 10 persen pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, penjualan motor listrik tercatat sekitar 55 ribu unit, mengalami penurunan dari 70 ribu unit di 2024. Namun, penurunan ini mulai melambat pada paruh kedua 2025, dari semula sekitar 60 persen menjadi hanya sekitar 30 persen. Hal ini menunjukkan adanya stabilisasi pasar setelah masa insentif selesai.
Strategi Adaptasi Industri Motor Listrik
Menurut Sekretaris Jenderal AISMOLI, Hanggoro Ananta, pelaku industri sudah mulai melakukan penyesuaian dengan mengembangkan berbagai strategi baru. Salah satu strategi yang dijalankan adalah memperkuat kerja sama business to business (B2B) untuk memperluas jaringan pasar motor listrik.
Selain itu, pelaku industri juga mulai fokus membuka peluang ekspor ke pasar internasional. Langkah ini dinilai mampu membantu industri tetap bergerak secara organik tanpa ketergantungan pada subsidi pemerintah.
Perubahan Perilaku Konsumen
Faktor lain yang mendukung optimisme ini adalah perubahan perilaku konsumen. Kini banyak pembeli memilih motor listrik bukan karena dorongan insentif, tetapi karena manfaat jangka panjang yang dirasakan. Penggunaan motor listrik terbukti mengurangi biaya operasional secara signifikan dibandingkan motor berbahan bakar fosil.
Hanggoro mengungkapkan, "Sekarang banyak yang akhirnya sadar, tanpa subsidi pun mereka tetap mau beli karena pengeluaran operasionalnya jauh lebih rendah. Testimoni dari pengguna sebelumnya juga bikin konsumen lain jadi lebih percaya."
Pentingnya Dukungan Infrastruktur
Meskipun insentif fiskal untuk motor listrik resmi berakhir pada 2025, AISMOLI tetap berharap pemerintah memberikan dukungan dalam hal pengembangan infrastruktur kendaraan listrik roda dua. Saat ini, infrastruktur motor listrik masih tertinggal dibanding kendaraan roda empat.
Pengembangan stasiun pengisian daya (charging station) dan fasilitas pendukung lain dinilai krusial agar konsumen semakin nyaman beralih ke kendaraan listrik. Kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri pun dianggap penting untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Faktor-Faktor yang Mendorong Pertumbuhan Motor Listrik
- Perubahan preferensi konsumen yang semakin sadar manfaat biaya operasional rendah.
- Adaptasi strategi bisnis oleh pelaku industri, termasuk model B2B dan ekspor.
- Stabilitas pasar yang menunjukkan penurunan penjualan mulai melambat.
- Harapan penguatan infrastruktur dari pemerintah untuk roda dua.
Data dan prediksi ini menunjukkan bahwa pasar motor listrik di Indonesia masih punya potensi besar untuk tumbuh secara organik. Meskipun tanpa insentif, permintaan motor listrik tampak semakin didorong oleh nilai manfaat nyata dan kesadaran lingkungan.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan infrastruktur memadai, industri motor listrik Indonesia siap menghadapi tantangan dan memperluas penetrasi pasar. Pertumbuhan 10 persen di tahun 2026 menjadi target realistis yang mencerminkan perubahan positif di sektor kendaraan listrik roda dua.
Baca selengkapnya di: www.suara.com