Marzuki, seorang pria berusia 58 tahun di Ponorogo, masih gigih menarik becak meski usianya sudah tidak muda lagi. Ia memulai kariernya sebagai penarik becak kayuh sejak 2005 di Terminal Tambak Bayan, Ponorogo, Jawa Timur. Selama bertahun-tahun, Marzuki merasakan beratnya bekerja, terutama ketika menghadapi kendala teknis seperti ban bocor dan rem yang tidak berfungsi optimal.
Kini, Marzuki mendapatkan harapan baru setelah menerima becak listrik bantuan Presiden melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Becak listrik ini membantunya mengurangi beban fisik dalam mencari penumpang di jalanan Ponorogo. Meski persaingan dengan ojek online semakin ketat, semangat Marzuki untuk tetap bertahan dalam profesinya tetap menyala.
Tantangan Penarik Becak Tradisional
Sebagai penarik becak kayuh, Marzuki mengalami berbagai kesulitan fisik. Mengayuh becak manual membutuhkan tenaga ekstra, terutama saat ban bocor atau rem tidak berfungsi dengan baik. Hal ini membuat perjalanan semakin berat dan membebani kesehatan tubuh, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut.
Bonadi, penarik becak lain berusia 62 tahun, juga merasakan kelelahan yang sama. Ia mengaku kerap kesakitan di bagian dengkul dan punggung akibat terus menerus mengayuh becak. Kondisi ini membuat mereka memerlukan solusi yang lebih ramah terhadap fisik pengguna, terutama agar pekerjaan ini bisa terus dilanjutkan tanpa membebani kesehatan.
Becak Listrik sebagai Solusi Inovatif
Penyaluran 530 becak listrik di Ponorogo menjadi titik balik bagi banyak penarik becak tua. Bantuan becak listrik disalurkan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Menurut Wakil Ketua Umum Yayasan GSN, Nanik S Deyang, inisiatif ini merupakan wujud kepedulian Presiden terhadap para penarik becak yang sudah sepuh namun masih harus bekerja keras.
Becak listrik menawarkan keunggulan berupa kemudahan pengoperasian tanpa harus mengayuh secara manual. Hal ini membuat penarik becak bisa beroperasi dengan tenaga minim, sekaligus meningkatkan daya tarik bagi penumpang yang mencari transportasi lebih nyaman dan modern. Marzuki pun berharap dengan becak listrik, penghasilannya bisa meningkat dan mengatasi tantangan persaingan dengan ojek online.
Daya Saing Becak Listrik di Era Ojek Online
Di tengah maraknya ojek online yang menyediakan layanan cepat dan mudah, keberadaan becak listrik masih memiliki peluang untuk bertahan. Marzuki menyampaikan bahwa pendapatannya kini bervariasi mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 30 ribu per hari. Meskipun lebih rendah dibandingkan ojek online, ia yakin masih ada penumpang yang memilih becak listrik karena tidak terlalu tergesa-gesa dan memiliki nilai tradisional yang khas.
Berikut beberapa poin penting terkait becak listrik dalam menghadapi persaingan dengan ojek online:
- Biaya Operasional Rendah: Becak listrik lebih hemat tenaga, sehingga biaya operasional lebih rendah dibandingkan becak kayuh manual.
- Ramah Lingkungan: Penggunaan listrik sebagai sumber tenaga membuat becak ini lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan bermotor.
- Nilai Tradisional dan Kenyamanan: Becak listrik tetap mempertahankan nuansa tradisional namun dengan kenyamanan yang lebih baik bagi penumpang.
- Segmentasi Pasar yang Berbeda: Becak listrik cocok untuk penumpang yang tidak terburu-buru dan menginginkan pengalaman berkendara yang santai.
Meskipun tantangan kompetisi dengan ojek online cukup berat, semangat para penarik becak listrik di Ponorogo tetap kuat. Mereka terus beradaptasi dengan teknologi baru demi mempertahankan mata pencaharian dan melayani masyarakat.
Pemberian becak listrik oleh Presiden Prabowo berdampak positif dalam meningkatkan kualitas hidup para pebecak tua di Ponorogo. Inisiatif ini diharapkan dapat menginspirasi pemangku kebijakan lain untuk membangun dukungan serupa bagi transportasi tradisional yang terdampak perkembangan teknologi. Proses adaptasi ini menjadi contoh nyata bagaimana tradisi bisa bersinergi dengan inovasi modern demi keberlangsungan ekonomi rakyat kecil di daerah.
