Pergerakan harga mobil listrik di Indonesia mulai memperlihatkan tren kenaikan pada Februari. Hal ini dipicu oleh berakhirnya insentif pemerintah dan penyesuaian strategi produksi dari sejumlah produsen otomotif global.
Salah satu model dengan kenaikan harga paling signifikan adalah Hyundai Ioniq 5 N. Harga varian ini melonjak Rp200 juta dari Rp1,3 miliar menjadi Rp1,5 miliar. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi di antara kendaraan listrik yang tersedia di pasar.
Selain Hyundai, Chery juga mencatatkan kenaikan harga signifikan. Varian J6 T RWD naik Rp55 juta dari sebelumnya Rp525,5 juta menjadi Rp580,5 juta. Sementara itu, beberapa model Chery lain, seperti J6 iWD, juga mengalami kenaikan serupa hingga Rp60 juta.
Namun demikian, tidak semua merek menaikkan harga. Beberapa produsen justru memberikan potongan harga khusus selama gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS). Penawaran ini berlaku di pameran yang digelar sejak 5 hingga 15 Februari.
Tiga merek yang mencatatkan penurunan harga signifikan antara lain Aion, Changan, dan Geely. Aion Y Plus Premium turun Rp75 juta dari Rp479 juta menjadi Rp404 juta. Changan Deepal S07 menyusul turun Rp50 juta dari Rp649 juta menjadi Rp599 juta.
Geely EX2 Max juga mengalami penurunan harga Rp13,1 juta dari Rp273 juta menjadi Rp259,9 juta. Strategi potongan harga selama pameran ini menjadi upaya produsen untuk tetap menarik minat konsumen di tengah kenaikan harga di segmen lain.
Daftar harga mobil listrik utama berdasarkan merek dan varian menunjukkan adanya fluktuasi yang cukup dinamis:
1. Hyundai Ioniq 5 N: Rp1,5 miliar (naik Rp200 juta)
2. Chery J6 T RWD: Rp580,5 juta (naik Rp55 juta)
3. Aion Y Plus Premium: Rp404 juta (turun Rp75 juta)
4. Changan Deepal S07: Rp599 juta (turun Rp50 juta)
5. Geely EX2 Max: Rp259,9 juta (turun Rp13,1 juta)
Merek-merek premium juga melakukan penyesuaian harga. BMW iXxDrive45 misalnya naik Rp19 juta menjadi Rp2,639 miliar. Mercedes-Benz EQS 450+ AMG Line juga merasakan kenaikan Rp115 juta ke Rp3,655 miliar. Sedangkan varian G-Class naik signifikan sebesar Rp650 juta menjadi Rp6,55 miliar.
Sementara itu, model-model dari Vinfast mencatatkan kenaikan harga dengan beragam angka. Contohnya VF e34 naik Rp91,01 juta menjadi Rp411,86 juta untuk varian termasuk baterai. Varian VF 5 dan VF 6 juga mengalami kenaikan mulai dari Rp20 juta hingga Rp69 juta.
Di segmen kendaraan listrik yang lebih terjangkau, Wuling menaikkan harga model Air ev Lite hingga Rp56 juta, dari Rp195 juta menjadi Rp251 juta. Kenaikan ini juga diaplikasikan untuk berbagai varian lain seperti Binguo dan Cloud, dengan peningkatan antara Rp30 juta hingga Rp50 juta.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan transisi dari periode insentif menjadi normalisasi harga. Perubahan ini sekaligus mengindikasikan langkah produsen yang menyesuaikan harga agar lebih sesuai dengan biaya produksi dan nilai pasar terkini.
Meski begitu, strategi potongan harga masih diterapkan sebagai upaya mempertahankan daya tarik produk, terutama selama pameran otomotif nasional. Upaya ini penting mengingat kompetisi di segmen mobil listrik makin ketat dengan maraknya peluncuran model baru.
Pergerakan harga ini menjadi indikator penting dalam memetakan tren pasar mobil listrik di Indonesia. Konsumen dan penggiat otomotif perlu memperhatikan perubahan ini agar dapat memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan dana yang dimiliki.
Dengan berbagai penyesuaian harga yang terjadi, pasar mobil listrik di Indonesia diprediksi akan terus mengalami dinamika dalam beberapa bulan mendatang. Ini sejalan dengan tren global yang juga menyesuaikan harga kendaraan listrik menghadapi kenaikan biaya produksi dan perubahan kebijakan.
