Ekspor mobil utuh (CBU) Daihatsu dari Indonesia mengalami peningkatan signifikan meskipun pasar domestik kembali mengalami penurunan. Pada 2025, volume ekspor kendaraan Daihatsu mencapai 124.848 unit, tumbuh 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 110.334 unit.
Kenaikan ekspor ini terjadi saat penjualan ritel dalam negeri Daihatsu justru turun 18,1 persen menjadi 136.855 unit. Direktur Marketing dan Corporate Communication Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, menyatakan rasa syukur atas pencapaian ekspor yang mampu naik di tengah kondisi pasar domestik yang lesu dan belum menunjukkan tanda pemulihan.
Daihatsu dan Segmen Ekspor
Daihatsu Indonesia tidak hanya mengekspor merek Daihatsu sendiri, tetapi juga memproduksi sejumlah merek lain untuk pasar ekspor, terutama Toyota dan Mazda. Mayoritas pengapalan menggunakan merek Toyota, seperti model Town Ace, Lite Ace, Rush, Raize, dan Wigo. Sementara untuk Mazda, mobil yang diekspor adalah Bongo — kembar dari Gran Max Daihatsu.
Namun, mobil yang diekspor menggunakan emblem Daihatsu hanya Gran Max, dan jumlahnya tergolong kecil dibandingkan dengan total ekspor kendaraan yang diproduksi di pabrik tersebut. Meski begitu, ekspor ini memberikan kontribusi besar di pasar global dengan tujuan distribusi meliputi lebih dari 60 negara.
Destinasi Utama Ekspor Daihatsu
Filipina menjadi pasar ekspor terbesar, dengan porsi 35 persen dari total pengapalan. Jepang menyusul dengan kontribusi sebesar 10 persen, kemudian Meksiko sebesar 9 persen. Dari segi model, mobil bersegmen Low SUV menyumbang 46 persen ekspor, diikuti oleh hatchback sebesar 27 persen dan SUV medium sebesar 9 persen.
Produksi dan Penjualan Domestik
Meskipun ekspor meningkat, produksi Daihatsu di Indonesia justru mengalami penurunan. Total produksi Daihatsu pada 2025 hanya mencapai 130.441 unit, turun 33 persen dari tahun sebelumnya. Namun, produksi keseluruhan untuk grup Toyota yang diproduksi oleh Daihatsu Indonesia masih mencapai angka lebih dari 381 ribu unit.
Di pasar domestik, penjualan ritel Daihatsu ikut terdampak penurunan, namun merek ini tetap mempertahankan posisi sebagai merek mobil terlaris kedua. Hal ini terjadi meskipun penurunan total penjualan ritel nasional mencapai 6,3 persen, menandakan ketatnya persaingan dan tantangan yang dihadapi industri otomotif lokal.
Dinamika Pasar Otomotif Indonesia
Perkembangan ini mencerminkan kondisi pasar otomotif di Indonesia yang sedang bertransition di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan preferensi konsumen. Naiknya ekspor mobil CBU menjadi strategi penting bagi Astra Daihatsu Motor untuk mengimbangi melemahnya pasar lokal. Hal ini sekaligus mendukung stabilitas produksi dan pendapatan perusahaan dari pasar internasional.
Peningkatan ekspor ke lebih dari 60 negara memperlihatkan kapasitas manufaktur dan daya saing produk pabrikan yang telah memenuhi standar global. Strategi ini juga membuka peluang pengembangan produk dan penetrasi pasar baru yang lebih luas, khususnya untuk segmen segmen kendaraan efisien dan kompak seperti Low SUV dan hatchback.
Peranan Ekspor bagi Industri Otomotif Nasional
Ekspor jadi aspek strategis bagi konsolidasi industri otomotif Indonesia yang berorientasi ekspansi global. Daihatsu, melalui beragam model dan merek yang diproduksi di dalam negeri, memanfaatkan peluang ini agar tetap kompetitif sekaligus mempertahankan posisi penting di pasar domestik.
Data ini juga memberikan gambaran penting tentang bagaimana produsen otomotif menyesuaikan strategi bisnisnya dalam menghadapi fluktuasi penjualan domestik. Ekspor menjadi sumber alternatif pendapatan yang signifikan, sekaligus pembuka akses ke pasar internasional yang lebih luas.
Pertumbuhan ekspor kendaraan CBU Daihatsu menjadi salah satu indikator bahwa pabrikan lokal mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis dan terus mencari peluang baru di tengah tantangan globalisasi industri otomotif.
