Wacana lahirnya kembali mobil nasional mengemuka seiring pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan produksi mobil buatan Indonesia dalam tiga tahun mendatang. Pernyataan tersebut mengingatkan kembali publik pada Esemka, yang pernah menjadi simbol kebangkitan industri otomotif nasional.
Esemka pernah mencuri perhatian sebagai mobil karya anak bangsa yang mengusung semangat kemandirian industri. Kehadiran pabriknya di Boyolali yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2019, sempat membangkitkan optimisme besar terhadap masa depan otomotif nasional.
Namun, geliat produksi Esemka mulai meredup dan jarang terdengar aktivitas pabrik secara terbuka. Minimnya informasi membuat banyak pihak bertanya-tanya tentang keberlangsungan produksi dan distribusinya. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Esemka menghadapi kesulitan bersaing di pasaran otomotif Indonesia yang ketat.
Keluhan konsumen turut menambah sorotan terhadap Esemka. Sebuah video viral di TikTok menampilkan keluhan pemilik mobil Esemka Bima karena kerusakan pada ECU dan sulitnya memperoleh suku cadang pengganti. Mobil keluaran 2020 itu bahkan terpaksa berhenti digunakan, menjadi rongsokan di garasi.
Permasalahan layanan purna jual menjadi perhatian utama. Dalam industri otomotif, ketersediaan suku cadang dan jaringan layanan purna jual yang kuat sangat penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Tanpa itu, keberlangsungan merek lokal seperti Esemka menjadi sangat rentan.
Eksistensi Esemka di panggung otomotif nasional juga semakin redup. Pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024, Esemka tidak ikut berpartisipasi. Padahal, pada IIMS sebelumnya, mereka sempat memperkenalkan dua mobil listrik, Bima EV dan Bima EV Cargo, yang sempat menggebrak publik.
Kabar mengenai pesanan mobil Esemka dari Kementerian Pertahanan pun belum menemukan kejelasan. Belum ada informasi resmi soal realisasi pesanan tersebut, sehingga publik sulit menilai seberapa besar dukungan pemerintah saat ini terhadap keberlanjutan Esemka sebagai brand nasional.
Keberadaan Esemka kini berada di persimpangan. Infrastruktur dan pengalaman yang sudah dimiliki dapat menjadi modal penting untuk bangkit kembali. Namun masalah mendasar seperti produksi, layanan purna jual, dan dukungan pasar harus segera diselesaikan agar merek ini bisa bertahan.
Dengan munculnya kembali wacana mobil nasional di pemerintahan baru, Esemka memiliki kesempatan untuk kembali berperan penting. Publik menanti langkah nyata apakah Esemka bisa bangkit sebagai kendaraan nasional yang mandiri atau hanya menjadi catatan sejarah wacana yang belum sepenuhnya terwujud.
Berikut ini beberapa poin kunci terkait kondisi Esemka saat ini:
1. Pabrik Esemka di Boyolali belum memberikan informasi produksi yang jelas.
2. Keluhan suku cadang dan layanan purna jual menjadi perhatian utama konsumen.
3. Tidak ikut serta dalam IIMS 2024 membuat eksistensinya meredup.
4. Kabar pesanan dari Kementerian Pertahanan belum terealisasi.
5. Upaya revitalisasi mobil nasional memberi momentum baru bagi Esemka.
Masa depan Esemka sangat bergantung pada kemampuannya memperbaiki pelayanan dan meningkatkan produksi. Jika mampu mengatasi kendala tersebut, Esemka bisa berkontribusi besar dalam menghidupkan kembali industri otomotif nasional. Namun, tanpa perubahan signifikan, Esemka berpotensi menjadi sejarah produk mobil nasional yang belum nyatanya terwujud.
