Gangguan Penglihatan pada Diabetes Bisa Berujung Buta, Skrining Mata Tak Boleh Ditunda

Author: Qoo Media

Gangguan penglihatan pada penyandang diabetes, terutama pada usia lanjut, kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses menua. Padahal, kondisi ini dapat menjadi tanda komplikasi diabetes yang berisiko menyebabkan kebutaan bila terlambat ditangani.

Ancaman terbesar terletak pada retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah di bagian belakang bola mata akibat diabetes. Penyakit ini sering berkembang tanpa keluhan yang jelas, sehingga banyak pasien baru menyadari masalah saat kondisi penglihatannya sudah memburuk.

Komplikasi yang Sering Tidak Disadari

Diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah di berbagai organ tubuh, termasuk mata dan ginjal. Prof. Em Yunir Sp.PD-KEMD menjelaskan diabetes juga kerap berjalan bersama kolesterol tinggi, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan tersebut.

Menurut Yunir, gangguan pembuluh darah akibat diabetes tidak hanya memicu retinopati diabetik, tetapi juga berkontribusi pada kasus pasien yang membutuhkan cuci darah. Ia menyebut komplikasi diabetes dapat menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah.

Retinopati diabetik termasuk komplikasi yang paling sering ditemukan pada penyandang diabetes, namun pembahasannya masih relatif terbatas. Akibatnya, muncul anggapan bahwa penurunan fungsi penglihatan pada usia tua merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M menilai normalisasi gangguan penglihatan tersebut kurang tepat. “Padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah,” katanya dalam Forum Jurnalis Kesehatan di Jakarta.

Gejala Sering Muncul Saat Kondisi Lanjut

Pada tahap awal, retinopati diabetik umumnya tidak menunjukkan gejala khas. Kerusakan dapat berlangsung perlahan selama bertahun-tahun tanpa disadari oleh pasien.

Bayu menjelaskan kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata terjadi secara bertahap. Sebagian besar pasien bahkan tidak menyadari ancaman ini dalam lima tahun pertama setelah mengalami diabetes.

Gejala Gambaran Keluhan
Penurunan kualitas penglihatan Pandangan terasa tidak setajam sebelumnya.
Warna tampak kurang cerah Kecerahan warna dalam penglihatan menurun.
Bintik hitam Muncul titik atau bintik gelap pada bidang pandang.
Penglihatan berbayang Objek terlihat tidak jelas atau seperti memiliki bayangan.
Sulit melihat pada malam hari Penglihatan terganggu ketika pencahayaan rendah.

Gejala-gejala tersebut dapat muncul perlahan, mulai dari kualitas penglihatan yang menurun hingga kesulitan melihat pada malam hari. Karena perubahan terjadi bertahap, pasien dapat menganggapnya sebagai keluhan biasa dan menunda pemeriksaan.

Health.kompas.com melaporkan, skrining mata menjadi langkah penting bagi penyandang diabetes untuk menjaga penglihatan. Pemeriksaan tidak seharusnya menunggu sampai keluhan penglihatan terasa berat atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu.

Akses Skrining Masih Menjadi Tantangan

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemeriksaan diabetes telah masuk dalam layanan program cek kesehatan gratis. Melalui program tersebut, masyarakat dapat memeriksakan gula darah secara berkala.

Kementerian Kesehatan juga sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes dapat menjalani skrining retina di Puskesmas. Langkah ini ditujukan untuk memperluas akses deteksi dini, terutama di fasilitas kesehatan primer.

Namun, upaya tersebut menghadapi kendala berupa kekurangan dan maldistribusi dokter spesialis mata di Indonesia. Banyak Puskesmas juga belum memiliki program skrining retinopati diabetik yang aktif maupun perangkat seperti kamera retina atau fundus camera.

Untuk mengatasi hambatan itu, sejumlah pemangku kepentingan membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives atau DRIVE. Konsorsium ini melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi untuk menyiapkan serta mengimplementasikan studi terkait layanan retinopati diabetik.

Proyek DRIVE memanfaatkan teknologi tele-ophthalmology untuk membantu dokter umum dan perawat di layanan primer melakukan skrining. Pasien dengan hasil skrining positif kemudian akan dirujuk secara sistematis ke Rumah Sakit Umum Daerah untuk memperoleh pengobatan sesuai kebutuhan.

Direktur Akses, Komunikasi dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati, mengatakan pihaknya mendukung pendanaan riset serta perancangan intervensi sistemik untuk memperbaiki alur skrining dan rujukan. Model tele-ophthalmology tersebut diharapkan membantu pasien memperoleh penanganan untuk menyelamatkan penglihatan secara tepat waktu.

Terbaru