Mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) menjanjikan solusi ramah lingkungan dengan menggabungkan penggunaan baterai dan mesin bensin. Namun, studi terbaru dari Fraunhofer Institute yang mengamati hampir satu juta unit PHEV di Eropa mengungkap fakta berbeda terkait konsumsi bahan bakar sebenarnya di jalan raya.
Data menunjukkan konsumsi BBM mobil PHEV jauh lebih tinggi dibanding klaim resmi berdasarkan pengujian laboratorium WLTP. Rata-rata konsumsi resmi mobil PHEV adalah 1,57 liter per 100 kilometer. Pada kenyataannya, konsumsi BBM rata-rata mencapai 6,12 liter per 100 kilometer, atau bisa tiga kali lebih boros dibanding klaim tersebut.
Hasil Pengukuran Konsumsi BBM Aktual
Fraunhofer Institute mengumpulkan data dengan alat pemantau langsung pada kendaraan selama penggunaannya sehari-hari. Hal ini membuat hasil studi sangat representatif karena melibatkan berbagai merek dan kondisi jalan yang beragam. Bahkan, saat mobil berjalan dalam mode listrik (EV Mode), konsumsi bensin yang tercatat masih sebesar 2,98 liter per 100 kilometer.
Mesin bensin pada PHEV dapat menyala otomatis saat pengemudi melakukan akselerasi tinggi, menggunakan pemanas kabin, atau baterai mulai habis. Akibatnya, meskipun terindikasi berjalan dalam mode listrik, mesin bensin tetap aktif dan mengonsumsi bahan bakar.
Perilaku Pengisian Daya Baterai yang Variatif
Penelitian juga menunjukkan perbedaan kebiasaan pengisian baterai antar pemilik mobil PHEV. Model dengan harga lebih terjangkau cenderung lebih rajin mengisi ulang daya baterainya. Sebaliknya, pada merek premium seperti Porsche, Bentley, dan Ferrari, sebagian besar pemilik lebih jarang melakukan isi ulang baterai.
Contohnya, lebih dari separuh unit Porsche yang dianalisis tidak pernah diisi ulang daya baterainya selama jarak rata-rata tempuh 27.000 kilometer. Total energi listrik yang digunakan hanya sekitar 7 kWh, menunjukkan baterai praktis berperan sebagai beban tambahan saja.
Dampak Konsumsi BBM terhadap Kebijakan Emisi
Perbedaan besar antara angka klaim dan konsumsi aktual bisa mencapai 300 persen. Hal ini jauh melampaui selisih konsumsi kendaraan bensin konvensional yang hanya sekitar 20 persen. Ketidaksesuaian angka ini mengakibatkan penalti dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
Regulator Eropa mempertimbangkan perubahan metode pengujian dan perhitungan konsumsi agar data yang dirilis lebih mendekati realitas penggunaan di lapangan. Apabila tidak ada penyesuaian, proyeksi menunjukkan tambahan emisi karbon dioksida dapat mencapai 23 hingga 25 juta ton dalam dua dekade mendatang.
Usulan Perbaikan untuk Efektivitas PHEV
Beberapa rekomendasi muncul untuk meningkatkan efisiensi mobil PHEV secara nyata. Di antaranya menampilkan informasi penggunaan listrik dan bensin secara transparan di panel instrumen kendaraan. Selain itu, aturan yang mendorong pemilik untuk lebih konsisten mengisi ulang baterai juga dianggap perlu diterapkan.
Penting dipahami bahwa efektivitas PHEV dalam mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi sangat bergantung pada pola penggunaan dan pemeliharaan pemilik kendaraan. Konsep ramah lingkungan hanya dapat tercapai bila kendaraan benar-benar dimanfaatkan dengan menyelaraskan penggunaan mode listrik dan pengisian baterai.
Studi ini menjadi pengingat penting bagi konsumen dan regulator mengenai selisih antara klaim pemasaran dan kenyataan lapangan. PHEV memang memiliki potensi besar untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan menurunkan emisi CO2. Namun, peran pengguna dan regulasi yang adaptif sangat diperlukan agar manfaat tersebut dapat direalisasikan dengan efektif di praktik sehari-hari.
Baca selengkapnya di: otomotif.kompas.com