
Aston Martin mengumumkan pemangkasan hingga 20 persen tenaga kerjanya setelah menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2025. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi kerugian yang membesar dan dampak negatif dari tarif perdagangan global, terutama di pasar Amerika Serikat dan China.
Pendapatan Aston Martin turun 21 persen menjadi £1,26 miliar, sementara kerugian operasional membengkak 161 persen, dari £99,5 juta menjadi £259,2 juta. Pada akhir tahun keuangan 2025, perusahaan mencatat kerugian total sebesar £493 juta. Produksi mobil juga menurun 10 persen, hanya mencapai 5.448 unit dibandingkan 6.600 unit dua tahun sebelumnya.
Dampak Tarif Perdagangan AS dan China
CEO Adrian Hallmark menyebutkan bahwa "ketidakpastian geopolitik dan tekanan makroekonomi, termasuk tarif yang meningkat di AS dan China, sangat memengaruhi kinerja kami". Setelah diberlakukannya aturan impor baru di AS yang diperketat sejak kepemimpinan Donald Trump, Aston Martin sempat menghentikan sementara pengiriman mobil ke sana. Walaupun kemudian terjadi negosiasi antara Perdana Menteri Inggris dengan Trump, efek tarif tetap memberatkan.
Pasar kendaraan mewah di China juga mengalami perlambatan tajam. Volume penjualan di Asia Pasifik turun 21 persen, dengan China menjadi pasar yang paling terpengaruh akibat perubahan pajak kendaraan mewah sejak Juli 2025. Kondisi ini menambah tekanan pada pertumbuhan perusahaan yang sebelumnya mengandalkan pasar tersebut.
Strategi Pemangkasan Biaya dan Peninjauan Rencana EV
Sebagai respons atas situasi ini, Aston Martin mengambil langkah pemangkasan tenaga kerja yang diperkirakan dapat menghemat sekitar £40 juta. Biaya terkait restrukturisasi juga diperkirakan mencapai £15 juta. Selain itu, pengeluaran untuk pengembangan kendaraan listrik (EV) dikurangi dari anggaran awal £2 miliar menjadi £1,7 miliar selama lima tahun ke depan.
Penundaan dalam proyek EV ini bertujuan menghindari pemborosan dana saat pasar sedang lesu. Hal ini menunjukkan bahwa Aston Martin masih mengutamakan stabilisasi keuangan sebelum menyelam lebih dalam ke sektor kendaraan ramah lingkungan yang mahal dan kompleks.
Harapan dari Peluncuran Valhalla Hybrid
Meski menghadapi tantangan, terdapat pencapaian positif dari peluncuran supercar hybrid Valhalla yang mulai diproduksi. Pada kuartal keempat 2025, sebanyak 152 unit Valhalla dikirimkan ke konsumen, membantu meningkatkan rata-rata harga jual dan margin keuntungan. Aston Martin menargetkan pengiriman 500 unit lagi pada tahun 2026.
CEO Hallmark optimistis bahwa "tahun keuangan 2026 akan menunjukkan perbaikan signifikan dalam kinerja keuangan." Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki profil produk sekaligus margin keuntungan perusahaan.
Rangkuman Dampak dan Langkah Perbaikan Aston Martin
- Pendapatan turun 21 persen menjadi £1,26 miliar.
- Kerugian operasional meningkat 161 persen menjadi £259,2 juta.
- Produksi mobil turun 10 persen menjadi 5.448 unit.
- Tarif perdagangan di AS dan China memberikan tekanan besar.
- Pemangkasan tenaga kerja 20 persen untuk menghemat £40 juta.
- Pengurangan anggaran pengembangan kendaraan listrik dari £2 miliar menjadi £1,7 miliar.
- Peluncuran supercar hybrid Valhalla sebagai penyelamat margin.
Pemangkasan karyawan dan penghematan anggaran menjadi titik fokus Aston Martin untuk merespons kondisi pasar yang penuh tantangan. Faktor eksternal seperti kebijakan perdagangan AS di era Trump dan pelemahan pasar mewah China menjadi penyebab utama kesulitan keuangan yang dihadapi. Peluncuran produk baru seperti Valhalla dan restrukturisasi internal diharapkan membantu memperbaiki kinerja perusahaan di tahun mendatang.





