
Stellantis mengalami kerugian besar setelah berinvestasi besar-besaran pada kendaraan listrik (EV). Dalam laporan keuangan 2025, perusahaan mencatat defisit sebesar €22,3 miliar atau sekitar $26,3 miliar, menandai kerugian tahunan pertama dalam sejarah grup. Sebelumnya, Stellantis masih mencatat laba €5,5 miliar di tahun 2024, yang sudah turun 70% dibanding tahun 2023.
Kerugian ini terutama disebabkan oleh biaya tak biasa sebesar €25,4 miliar ($30 miliar) sebagai akibat dari perubahan strategi besar-besaran. Stellantis mengaku terlalu optimistis terhadap percepatan adopsi kendaraan listrik oleh pasar. Perusahaan kini harus melakukan penyesuaian strategi agar lebih sesuai dengan preferensi konsumen saat ini.
Pendekatan Ulang Strategi EV Stellantis
Stellantis tidak hanya menghadapi lambatnya minat konsumen terhadap EV, tapi juga berbagai model listriknya di Amerika Serikat mengalami kesulitan. Contohnya seperti Dodge Charger Daytona EV dan Jeep Wagoneer S yang dibanderol di kelas harga atas tapi kesulitan bersaing dengan pesaing yang sudah mapan. Akibatnya, proyek sejumlah model listrik dibatalkan, terutama yang ditargetkan untuk pasar AS.
Sebagai langkah baru, Stellantis memfokuskan kembali pada mesin pembakaran dalam dengan margin keuntungan tinggi. Kembalinya mesin V8 HEMI di pasar Amerika Utara menjadi sorotan utama. Di Eropa, pilihan mesin diesel dan bensin mild-hybrid kembali dimasukkan ke dalam lini produk, seperti pada model pengganti Alfa Romeo Stelvio dan Giulia yang tertunda.
Dampak Finansial dan Langkah Likuiditas
Kondisi keuangan yang berat membuat manajemen menangguhkan dividen tahun 2026 dan mengeluarkan otorisasi penerbitan obligasi hybrid hingga €5 miliar ($5,9 miliar). Meski masih mengalami arus kas industri negatif sebesar €4,5 miliar, angka ini sudah mengalami perbaikan 25% dibanding tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih perusahaan tercatat €153,5 miliar ($181,1 miliar), turun 2% secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dan penurunan harga bersih pada kuartal pertama 2025. Kerugian operasional disesuaikan sebesar €842 juta ($993,5 juta) pun ikut menekan kinerja Stellantis.
Performa Pengiriman dan Reaksi Pasar Saham
Pengiriman kendaraan total pada 2025 naik tipis 1% menjadi 5,573 juta unit, membuat Stellantis tetap berada di posisi kelima dunia. Pada paruh kedua tahun, pengiriman naik sebesar 11%, terutama didorong oleh pasar Amerika Utara yang tumbuh 39% akibat perbaikan stok dan permintaan.
Namun, respons investor kurang positif. Harga saham Stellantis turun lebih dari 30% sepanjang tahun, mencapai titik terendah sejak merger PSA-FCA pada 2021. Hal ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak buruk dari investasi besar-besaran di EV dan perlambatan pertumbuhan perusahaan.
Fokus Perbaikan Kualitas dan Pertumbuhan
CEO Stellantis, Antonio Filosa, menyatakan bahwa hasil tahun 2025 merefleksikan biaya akibat perkiraan yang terlalu tinggi mengenai transisi energi. Dia menegaskan perlunya mengembalikan bisnis pada pilihan teknologi yang lebih beragam, dari listrik, hibrida hingga mesin pembakaran.
Filosa juga menyoroti tanda-tanda positif di paruh kedua tahun, mulai dari kualitas produk yang membaik hingga peluncuran produk baru yang sukses. Fokus 2026 diarahkan untuk menutup kesenjangan eksekusi yang tersisa dan mempercepat momentum pertumbuhan yang menguntungkan.
Rekalibrasi Strategi besar-besaran ini menunjukkan bahwa transformasi ke kendaraan listrik tidak berjalan mulus bagi semua pemain otomotif. Stellantis kini lebih berhati-hati mengimbangai kebutuhan pasar dengan strategi produksi teknologi yang seimbang antara EV dan mesin tradisional. Langkah ini juga penting untuk menjaga kesehatan keuangan dan keberlanjutan bisnis jangka panjang grup yang menaungi 14 merek otomotif ternama di dunia.
Source: www.carscoops.com




