
Traffic cone di jalan tol tidak hanya berfungsi sebagai pembatas jalur kendaraan pada skema contraflow, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman tersembunyi bagi pengemudi. Ilusi visual akibat deretan traffic cone yang berulang bisa memicu fenomena yang dikenal sebagai highway hypnosis, kondisi berbahaya di mana pengemudi kehilangan fokus tanpa disadari. Fenomena ini kerap terjadi pada rute tol yang lurus dan monoton, terutama saat arus mudik atau perjalanan jarak jauh.
Highway hypnosis terjadi ketika otak pengemudi mulai bekerja secara otomatis akibat paparan pola visual yang sama secara terus-menerus. Menurut ahli keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, traffic cone yang dipasang statis berpotensi menimbulkan ilusi, terutama ketika pengemudi kelelahan. Jusri menjelaskan bahwa pengemudi akan tetap mengendarai mobil, tetapi tingkat kesadarannya menurun dan tidak sepenuhnya memperhatikan kondisi sekitar.
Apa Itu Highway Hypnosis?
Highway hypnosis, juga dikenal sebagai white line fever, adalah kondisi di mana pengemudi tetap menggenggam setir dan mengemudi seperti biasa. Namun, kesadaran akan lingkungan di sekitar jalan menurun secara drastis. Gejala umum yang muncul antara lain tatapan menjadi kosong, respon terhadap situasi lalu lintas melambat, dan pikiran melayang saat berkendara.
Pada situasi seperti contraflow di jalan tol, traffic cone yang dipasang sejajar menciptakan pola visual berulang. Jika pengemudi tidak siap mentalnya, maka risiko terhipnotis oleh pola tersebut bisa meningkat. Selain deretan traffic cone, garis marka jalan yang lurus dan monoton juga termasuk faktor pemicu utama kondisi ini.
Faktor Peningkat Risiko Highway Hypnosis
Sejumlah faktor dapat memperbesar kemungkinan seseorang mengalami highway hypnosis saat berkendara di jalan tol, yaitu:
- Perjalanan panjang di jalan tol yang lurus tanpa perubahan signifikan pemandangan.
- Kelelahan fisik akibat kurang istirahat atau tidur.
- Pola visual berulang dari pembatas jalan, marka, trafik cone, maupun lampu jalan.
- Berkendara sendirian tanpa interaksi dengan penumpang lain.
- Musik atau suasana di dalam mobil yang monoton tanpa variasi.
Dampak Highway Hypnosis bagi Pengemudi
Ketika mengidap highway hypnosis, pengemudi seringkali tidak menyadari telah melewati beberapa kilometer tanpa mengingat detail perjalanan. Akibatnya, kemampuan merespons bahaya di depan mata menjadi rendah, bahkan potensi terjadi kecelakaan meningkat. Kondisi kesadaran yang turun drastis menyebabkan reaksi pengemudi terhadap perubahan kondisi lalu lintas menjadi lambat. Hal inilah yang membuat highway hypnosis sangat berbahaya.
Langkah Pencegahan Highway Hypnosis
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pengemudi untuk mengurangi risiko highway hypnosis selama berkendara di jalan tol, di antaranya:
- Istirahat setiap dua jam sekali saat perjalanan jauh, minimal selama sepuluh menit.
- Pastikan mendapatkan tidur cukup sebelum berkendara, hindari berkendara ketika tubuh lelah.
- Variasikan suasana dalam mobil dengan mengganti musik, membuka jendela, atau berbincang dengan penumpang.
- Jika mulai merasa kehilangan fokus, segera menepi di rest area untuk beristirahat.
- Hindari menatap pola visual berulang terlalu lama, arahkan pandangan sesekali ke kaca spion dan sekitar jalan.
Peran Traffic Cone dalam Rekayasa Lalu Lintas
Traffic cone digunakan dalam contraflow untuk membatasi lajur kendaraan dari arah berlawan. Meski efektif menjaga keamanan dan mengarahkan arus lalu lintas, pemasangan berderet secara statis berpotensi memicu ilusi visual. Pengemudi yang tidak siap mental dan fisik rentan terjebak dalam kondisi highway hypnosis tersebut. Oleh sebab itu, otoritas jalan raya dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan edukasi mengenai bahaya laten ini.
Penting bagi semua pengguna jalan tol untuk memahami risiko di balik penggunaan traffic cone secara berderet saat contraflow. Dengan meningkatkan kesadaran dan kesiapan mental, pengemudi dapat menekan risiko highway hypnosis serta menjaga keselamatan di jalan tol, khususnya selama masa arus mudik dan balik ketika lalu lintas sangat padat serta rawan kecelakaan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com








