Gowa Dikepung Human Error, Asmo Sulsel dan Polsek Somba Opu Gerakkan Aparat Tombolo

Author: Qoo Media

Upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Gowa terus diperkuat lewat edukasi langsung ke level lingkungan. Astra Motor Sulawesi Selatan bersama Polsek Somba Opu menggelar pelatihan keselamatan berkendara bagi aparat Kelurahan Tombolo, Kecamatan Somba Opu, untuk memperluas pesan tertib berlalu lintas hingga ke warga.

Langkah ini dinilai penting karena Gowa disebut memiliki angka kecelakaan yang lebih tinggi dibanding wilayah sekitar. Karena itu, pendekatan tidak hanya diarahkan kepada pengendara individu, tetapi juga kepada aparat kelurahan, pengurus RT/RW, dan unsur kepemudaan yang berperan sebagai penghubung informasi di masyarakat.

Edukasi diarahkan ke aparat lingkungan

Kegiatan berlangsung di Kantor Kelurahan Tombolo pada Selasa. Lebih dari 30 peserta hadir dan mengikuti pemaparan tentang prinsip dasar keselamatan berkendara serta risiko pelanggaran lalu lintas.

Peserta berasal dari perangkat kelurahan, pengurus RT/RW, hingga perwakilan Karang Taruna. Pola ini dipilih agar edukasi tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan bisa diteruskan ke lingkungan permukiman melalui tokoh lokal yang dekat dengan warga.

Instruktur Safety Riding Asmo Sulsel, Wanny, menilai aparat kelurahan memiliki posisi strategis dalam membangun disiplin pengguna jalan. Menurut dia, keselamatan berkendara tidak bisa dibebankan kepada individu semata karena efek kecelakaan juga menyentuh keluarga dan komunitas.

“Keselamatan berkendara bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama,” kata Wanny dalam kegiatan tersebut. Ia menambahkan, jika aparat kelurahan memahami dan menyampaikan kembali pentingnya kampanye #Cari_Aman, dampaknya dinilai akan lebih luas di tingkat warga.

Human error masih jadi pemicu utama

Materi edukasi menyoroti faktor kelalaian manusia atau human error yang masih mendominasi penyebab kecelakaan. Masalah yang paling sering muncul antara lain kurang fokus saat berkendara, enggan memakai perlengkapan keselamatan, dan mengabaikan aturan dasar di jalan.

Temuan ini sejalan dengan kecenderungan umum dalam keselamatan lalu lintas, di mana perilaku pengendara sering menjadi faktor penentu terjadinya insiden. Dalam banyak kasus, kecelakaan tidak hanya dipicu kondisi jalan atau kendaraan, tetapi juga keputusan sesaat yang diambil pengemudi saat berkendara.

Dalam sesi pemaparan, peserta diajak memahami bahwa keselamatan dimulai sebelum kendaraan bergerak. Pengecekan kondisi motor, kesiapan fisik pengendara, dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas disebut sebagai dasar untuk menurunkan risiko kecelakaan.

Poin utama yang ditekankan kepada peserta

Ada beberapa hal praktis yang menjadi fokus dalam edukasi ini. Materi disusun agar mudah dipahami dan dapat diterapkan kembali oleh peserta saat memberi contoh di lingkungan masing-masing.

  1. Menggunakan perlengkapan keselamatan
    Pengendara wajib memakai helm yang memenuhi standar keamanan. Jaket, sarung tangan, dan sepatu yang sesuai juga penting untuk mengurangi dampak cedera saat terjadi insiden.

  2. Memastikan kendaraan dalam kondisi prima
    Kendaraan perlu diperiksa sebelum digunakan. Rem, lampu, ban, dan komponen penting lain harus berfungsi baik agar tidak memicu kegagalan teknis di jalan.

  3. Menerapkan defensive riding
    Pengendara harus menjaga jarak aman dan membaca situasi lalu lintas sejak awal. Sikap antisipatif dibutuhkan untuk merespons kendaraan lain, pejalan kaki, atau perubahan kondisi jalan secara cepat.

  4. Menjaga fokus selama berkendara
    Konsentrasi penuh sangat menentukan keselamatan. Gangguan sekecil apa pun saat mengemudi dapat memperbesar risiko tabrakan atau kehilangan kendali.

Peran aparat kelurahan dinilai strategis

Aparat kelurahan dipandang sebagai agen perubahan karena memiliki akses langsung ke masyarakat. Mereka bisa menyampaikan pesan keselamatan saat rapat lingkungan, kegiatan warga, hingga interaksi sehari-hari di tingkat RT dan RW.

Pendekatan berbasis komunitas seperti ini kerap lebih efektif karena pesan datang dari figur yang dikenal warga. Dalam konteks pencegahan kecelakaan, kedekatan sosial dapat membantu membangun kebiasaan baru seperti memakai helm, memeriksa kendaraan, dan mematuhi rambu lalu lintas.

Diskusi dalam kegiatan tersebut juga berlangsung interaktif. Peserta membagikan pengalaman tentang kondisi lalu lintas di wilayah masing-masing, termasuk kebiasaan berkendara warga yang masih perlu dibenahi.

Dari forum itu, muncul gambaran bahwa persoalan keselamatan jalan tidak bisa diselesaikan dengan imbauan sesaat. Diperlukan penyampaian pesan yang berulang, pengawasan di tingkat lingkungan, dan teladan dari aparat setempat agar budaya tertib lalu lintas bisa tumbuh lebih kuat.

Kolaborasi pencegahan kecelakaan

Kerja sama antara Asmo Sulsel dan Polsek Somba Opu menunjukkan bahwa pencegahan kecelakaan memerlukan sinergi lintas pihak. Dunia usaha, kepolisian, dan aparat wilayah memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi dalam mendorong perubahan perilaku pengguna jalan.

Bagi Gowa, model edukasi seperti ini dapat menjadi langkah preventif yang relevan karena menyasar akar masalah, yaitu perilaku berkendara. Saat aparat kelurahan, tokoh lingkungan, dan kelompok pemuda memahami pesan keselamatan secara utuh, peluang untuk menekan angka kecelakaan menjadi lebih besar melalui pengaruh yang menyebar dari lingkungan terkecil ke ruang publik yang lebih luas.

Terbaru