Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir memicu kecaman luas setelah menyerukan penghancuran total terhadap Libanon. Pernyataan itu ia sampaikan sebagai respons atas tewasnya empat tentara Israel di Libanon Selatan akibat serangan Hizbullah.
Ben Gvir mendorong Israel untuk mengambil langkah keras dan menolak pendekatan yang lebih terukur. Seruannya muncul di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat yang sedang membahas nota kesepahaman dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Seruan yang memantik kemarahan
Melalui unggahan di platform X pada Jumat waktu setempat, Ben Gvir menyatakan bahwa Israel tidak boleh lagi menahan diri. Ia menegaskan bahwa keamanan warga Israel harus ditempatkan di atas pertimbangan lain, termasuk tekanan internasional.
"Seluruh Libanon harus dibakar!" tulis Ben Gvir dalam pernyataan yang juga menyebut bahwa setiap korban dari pihak Israel harus dibalas dengan dampak besar bagi Libanon. Ia menggambarkan langkah itu sebagai cara untuk melenyapkan ancaman di kawasan.
Sikap keras tersebut dilaporkan juga ia sampaikan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pertemuan pribadi. Ben Gvir mendesak pemerintah agar tidak tunduk pada desakan sekutu, termasuk Amerika Serikat, soal pengendalian diri militer.
Respon dari Amerika Serikat
Retorika Israel itu ikut memicu kritik dari sejumlah tokoh politik Amerika Serikat. Mantan Presiden Donald Trump, dalam KTT G7, menilai perang Israel melawan Hizbullah berlangsung terlalu lama dan menimbulkan terlalu banyak korban sipil.
Trump mengatakan Israel tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali mencari target. Ia juga menegaskan bahwa banyak orang di area konflik bukan anggota Hizbullah.
Wakil Presiden terpilih JD Vance juga mengingatkan ketergantungan Israel pada bantuan militer AS. Vance menyebut dua pertiga senjata pertahanan Israel dalam tiga bulan terakhir diproduksi dan didanai oleh pembayar pajak Amerika.
Kekhawatiran dari dalam Israel
Di dalam negeri, pernyataan Ben Gvir ikut memperkuat kekhawatiran bahwa kebijakan kabinet Netanyahu bisa semakin memecah posisi Israel di mata dunia. Pemimpin oposisi Yair Lapid memperingatkan bahwa pengaruh menteri-menteri ekstremis seperti Ben-Gvir dan Smotrich berisiko merusak hubungan diplomatik Israel.
Lapid menilai hubungan Israel dengan mitra penting seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat dapat terdampak bila pemerintah terus mengambil sikap ekstrem. Peringatan itu muncul saat kabinet Israel berada dalam tekanan besar dari dalam dan luar negeri.
Prospek gencatan senjata
Di sisi lain, laporan terbaru menyebut ada peluang kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Libanon. Kesepakatan itu dikabarkan muncul setelah tekanan dari pembahasan MoU AS-Iran yang menuntut penghentian segera seluruh operasi militer dan penghormatan terhadap kedaulatan Libanon.
Namun, situasi politik di kabinet Israel masih rapuh. Sejumlah menteri sayap kanan disebut mengancam mundur jika Netanyahu melanjutkan kesepakatan yang dianggap merugikan posisi militer Israel.
