
BYD Seagull 2026 mulai mencuri perhatian setelah unit uji tanpa kamuflase terlihat di Tiongkok. Pembaruan terbesarnya ada pada hadirnya sensor LiDAR di atap dan klaim jarak tempuh hingga 505 kilometer berdasarkan standar CLTC.
Perubahan ini menandai langkah penting bagi mobil listrik perkotaan BYD yang sebelumnya dikenal bermain di segmen terjangkau. Dengan tambahan teknologi bantuan pengemudi yang lebih maju, Seagull tidak lagi hanya mengandalkan efisiensi dan harga kompetitif.
LiDAR Masuk ke Kelas Entry Level
Kemunculan modul LiDAR pada bagian atap menjadi sinyal kuat bahwa BYD sedang menaikkan level teknologi Seagull. Perangkat ini diduga terhubung dengan sistem bantuan pengemudi God’s Eye B atau DiPilot 300.
Sistem tersebut disebut membawa lompatan besar dari pemantauan kamera konvensional ke ADAS yang lebih kompleks. Berdasarkan data referensi, platform ini ditenagai cip Nvidia Drive Orin dengan kemampuan komputasi 254 TOPS.
Dengan bekal perangkat keras itu, Seagull 2026 diperkirakan mampu menjalankan fitur yang sebelumnya identik dengan mobil di kelas lebih tinggi. Fitur yang disebut antara lain parkir valet otomatis dan navigasi ekspres perkotaan dengan presisi lebih baik.
Masuknya LiDAR ke model entry level juga memperlihatkan arah baru strategi BYD. Teknologi ini sebelumnya lebih dekat dengan model premium, termasuk lini Denza dan Yangwang.
Jarak Tempuh Naik Jadi 505 KM
Pembaruan lain yang paling dicari calon konsumen adalah peningkatan daya jelajah. BYD Seagull 2026 disebut mampu menempuh 505 kilometer dalam standar CLTC, atau bertambah sekitar 100 kilometer dibanding model sebelumnya.
Kenaikan ini penting karena pasar mobil listrik perkotaan kini semakin sensitif pada efisiensi baterai. Jarak tempuh yang lebih panjang memberi nilai tambah untuk penggunaan harian sekaligus memperluas fleksibilitas perjalanan luar kota pendek.
Meski standar CLTC dikenal lebih longgar dibanding pengujian lain seperti WLTP, angka 505 kilometer tetap menjadi sinyal kuat. Artinya, BYD berupaya memperbesar daya tarik Seagull di tengah persaingan yang makin rapat.
Motor Lebih Bertenaga
Untuk mengimbangi bobot tambahan dari sensor baru dan baterai yang lebih besar, BYD juga meningkatkan performa motor listriknya. Output motor naik menjadi 60 kW dari sebelumnya 55 kW.
Kenaikan tenaga ini memang tidak ekstrem, tetapi relevan untuk menjaga respons kendaraan tetap lincah. Hal itu penting karena Seagull sejak awal diposisikan sebagai mobil kompak yang mengutamakan kemudahan berkendara di area urban.
Di sisi lain, dimensi dasar mobil tidak berubah banyak. Jarak sumbu roda tetap dipertahankan di angka 2500 mm, sehingga karakter ruang dan proporsi bodi diperkirakan masih serupa dengan model terdahulu.
Langkah Balasan di Tengah Persaingan Ketat
Pembaruan besar ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan pasar di Tiongkok. Data registrasi yang dikutip dari artikel referensi menunjukkan Geely Geome Xingyuan mencatat 29.007 unit, sementara Seagull berada di angka 5.329 unit pada Januari.
Selisih itu memperlihatkan bahwa pasar entry level kendaraan listrik kini tidak lagi mudah dikuasai oleh satu pemain. BYD tampak merespons cepat dengan menambah fitur yang selama ini menjadi pembeda utama di segmen harga lebih tinggi.
Selain Geely, tekanan juga datang dari model lain seperti Wuling Binguo S dan GAC Aion UT. Karena itu, penyematan LiDAR pada Seagull dapat dibaca sebagai upaya merebut kembali keunggulan teknis sekaligus membangun persepsi nilai yang lebih kuat.
Poin Penting BYD Seagull 2026
- Sensor LiDAR terpasang di atap.
- Jarak tempuh meningkat menjadi 505 km CLTC.
- Motor listrik naik dari 55 kW menjadi 60 kW.
- Sistem ADAS diduga memakai God’s Eye B atau DiPilot 300.
- Cip yang digunakan disebut Nvidia Drive Orin 254 TOPS.
- Wheelbase tetap 2500 mm.
Strategi Harga dan Arah Global
BYD diperkirakan menggandeng Robosense untuk sistem LiDAR pada model ini. Dalam artikel referensi disebut bahwa pembaruan LiDAR kemungkinan ditawarkan sebagai opsi tambahan dengan estimasi harga sekitar 10.000 yuan atau 1.455 USD.
Strategi itu dinilai masuk akal karena fitur ADAS tingkat tinggi mulai bergeser menjadi standar baru di kelas harga 100.000 yuan. Jika BYD mampu menjaga harga tetap agresif, Seagull 2026 berpotensi memperluas jangkauan pasar tanpa kehilangan identitas sebagai mobil listrik massal.
Dalam ekspansi global, model ini juga tetap memakai strategi penamaan regional. Untuk pasar Australia, Selandia Baru, Indonesia, dan Nepal, Seagull direncanakan dipasarkan sebagai Atto 1.
Bagi pasar seperti Indonesia, informasi ini layak dicermati karena menunjukkan arah teknologi BYD untuk model kompaknya ke depan. Jika spesifikasi tersebut benar dibawa ke pasar ekspor, Seagull atau Atto 1 bisa menjadi salah satu mobil listrik paling menarik di kelas urban berkat kombinasi LiDAR, ADAS canggih, dan jarak tempuh yang jauh.









