Penjualan mobil listrik global melemah setelah banyak insentif pemerintah dihentikan. Data terbaru menunjukkan pasar kendaraan listrik kehilangan momentum, terutama di negara-negara yang sebelumnya menjadi penopang utama pertumbuhan.
Mengacu pada laporan Reuters yang mengutip Benchmark Mineral Intelligence, penjualan kendaraan listrik dunia turun 11 persen pada Februari. Total penjualan hanya mencapai 1,05 juta unit, sekaligus menjadi level terendah dalam dua tahun terakhir.
Penurunan terbesar datang dari China
China masih menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Karena itu, pelemahan di negara tersebut langsung menekan angka penjualan global.
Registrasi mobil listrik dan plug-in hybrid di China turun 32 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan mobil secara keseluruhan di negara itu juga turun 34 persen, menurut Asosiasi Produsen Otomotif China.
Tekanan di China dinilai berkaitan erat dengan berakhirnya sejumlah dukungan fiskal. Pemerintah setempat telah menghentikan pendanaan untuk program tukar tambah mobil, sementara pembebasan pajak pembelian mobil listrik juga sudah selesai pada akhir tahun lalu.
Charles Lester, manajer data Benchmark Mineral Intelligence, menegaskan bahwa faktor harga sangat menentukan keputusan pembelian. “Konsumen sangat sensitif terhadap harga,” kata Lester, seperti dikutip Reuters.
Pernyataan itu menggambarkan tantangan utama industri saat insentif dipangkas. Ketika bantuan negara hilang, harga kendaraan listrik kembali menjadi penghalang bagi banyak calon pembeli.
Amerika Utara ikut melemah
Pelemahan tidak hanya terjadi di Asia. Pasar Amerika Utara juga mencatat kontraksi tajam dengan penurunan 35 persen menjadi kurang dari 90.000 unit kendaraan listrik terjual.
Penjualan di kawasan itu turun selama lima bulan berturut-turut. Salah satu pemicunya adalah berakhirnya skema kredit pajak kendaraan listrik di Amerika Serikat pada September, ditambah usulan kebijakan untuk melonggarkan standar emisi CO2.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar mobil listrik masih sangat bergantung pada dukungan kebijakan. Saat rangsangan fiskal dikurangi, permintaan langsung melambat di banyak wilayah.
Di sisi lain, konsumen di Amerika Utara juga menghadapi suku bunga tinggi dan biaya hidup yang masih menekan. Dalam situasi seperti itu, kendaraan listrik yang umumnya berharga lebih mahal dibanding mobil konvensional menjadi pembelian yang lebih mudah ditunda.
Mengapa insentif sangat berpengaruh
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan mobil listrik tidak hanya ditopang inovasi teknologi. Kebijakan subsidi, pembebasan pajak, kredit pembelian, dan program tukar tambah memberi pengaruh besar terhadap lonjakan permintaan.
Saat kebijakan itu berakhir, pasar harus menyesuaikan diri dengan harga riil. Dampaknya paling terasa pada konsumen kelas menengah yang menjadikan insentif sebagai faktor utama dalam keputusan pembelian.
Berikut faktor yang membuat penjualan mobil listrik mudah tertekan saat insentif dihentikan:
- Harga awal kendaraan masih relatif tinggi.
- Biaya pembiayaan kendaraan belum sepenuhnya ringan.
- Infrastruktur pengisian daya belum merata di semua wilayah.
- Nilai jual kembali masih menjadi pertimbangan sebagian konsumen.
- Pilihan model murah di beberapa pasar masih terbatas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transisi ke kendaraan listrik belum sepenuhnya matang. Industri masih berada pada fase yang sangat dipengaruhi kombinasi antara harga, kebijakan publik, dan kesiapan infrastruktur.
Dampak bagi industri otomotif global
Pelemahan penjualan berpotensi memengaruhi strategi produsen otomotif. Sejumlah pabrikan kemungkinan akan memperlambat ekspansi model baru, meninjau ulang target produksi, atau mengalihkan fokus sementara ke kendaraan hybrid yang permintaannya dinilai lebih stabil.
Bagi perusahaan baterai dan rantai pasok bahan baku, perlambatan ini juga bisa memengaruhi ritme investasi. Saat penjualan mobil listrik tidak tumbuh sesuai harapan, kebutuhan jangka pendek terhadap baterai, komponen, dan fasilitas produksi dapat ikut disesuaikan.
Namun, tren jangka panjang menuju elektrifikasi belum sepenuhnya berubah. Banyak negara tetap mempertahankan target pengurangan emisi, meski pendekatannya kini tampak lebih berhati-hati dibanding fase ekspansi insentif yang agresif.
Secara struktural, industri mobil listrik masih memiliki ruang tumbuh berkat regulasi emisi, kemajuan teknologi baterai, dan persaingan harga yang terus berkembang. Meski begitu, data penjualan terbaru menegaskan bahwa pasar global belum sepenuhnya tahan terhadap perubahan kebijakan.
Gambaran data utama penjualan mobil listrik
| Indikator | Data |
|---|---|
| Penjualan global Februari | 1,05 juta unit |
| Perubahan global | Turun 11 persen |
| China EV dan plug-in hybrid | Turun 32 persen |
| Penjualan mobil total China | Turun 34 persen |
| Amerika Utara | Turun 35 persen |
| Penjualan Amerika Utara | Kurang dari 90.000 unit |
Data itu menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku industri. Jika target adopsi kendaraan listrik ingin tetap terjaga, strategi transisi tampaknya tidak cukup hanya mengandalkan penghentian insentif secara mendadak, terutama ketika konsumen masih sangat peka terhadap harga dan kondisi ekonomi belum sepenuhnya mendukung pembelian kendaraan baru.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com








