1,2 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek, Arus ke Timur Mendominasi Mudik Lebaran

Arus mudik dari wilayah Jabodetabek terus menguat. Dalam periode H-10 hingga H-4 Lebaran, sebanyak 1.213.388 kendaraan tercatat sudah meninggalkan kawasan ini melalui empat gerbang tol utama.

Data tersebut menunjukkan pergerakan pemudik yang signifikan lebih awal. PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyebut volume itu naik 20,9 persen dibanding kondisi normal yang berada di angka 1.003.695 kendaraan.

Pergerakan kendaraan sudah tembus 1,2 juta unit

Akumulasi lalu lintas itu dihitung dari Gerbang Tol Cikampek Utama, Kalihurip Utama, Cikupa, dan Ciawi. Empat titik ini mewakili arus utama kendaraan menuju Trans Jawa, Bandung, Merak, dan Puncak.

Direktur Utama PT Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengatakan capaian tersebut baru sebagian dari total potensi kendaraan yang diperkirakan keluar dari Jakarta dan sekitarnya selama masa mudik. Menurut dia, angka 1,2 juta kendaraan itu setara 34,4 persen dari proyeksi total 3,5 juta kendaraan yang akan meninggalkan Jabodetabek pada periode 11–31 Maret.

Pernyataan itu menegaskan puncak pergerakan belum selesai. Artinya, volume lalu lintas masih berpotensi bertambah dalam beberapa hari berikutnya, terutama mendekati hari-hari inti mudik.

Arah timur masih paling dominan

Distribusi kendaraan yang keluar dari Jabodetabek paling banyak mengarah ke timur. Jalur ini mencakup tujuan Trans Jawa dan Bandung yang secara gabungan menyerap 612.956 kendaraan atau sekitar 50,5 persen dari total arus keluar.

Dominasi arah timur sudah lama menjadi pola tetap saat mudik. Jalur tol menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bandung biasanya menjadi pilihan utama karena menjadi koridor terbesar bagi perjalanan antarkota dan antarprovinsi.

Rinciannya, kendaraan yang menuju Trans Jawa melalui GT Cikampek Utama tercatat 387.451 unit. Jumlah ini melonjak 95,6 persen dibanding kondisi normal, sehingga mencerminkan lonjakan arus yang sangat tinggi pada jalur utama menuju kawasan timur Pulau Jawa.

Sementara itu, arus menuju Bandung melalui GT Kalihurip Utama mencapai 225.505 kendaraan. Kenaikannya lebih moderat, yakni 2,3 persen dibanding kondisi normal.

Jika digabung, lalu lintas ke Trans Jawa dan Bandung naik 46,5 persen dari kondisi normal. Kenaikan pada koridor ini menjadi indikator bahwa jalur timur masih menjadi tumpuan utama mobilitas mudik dari Jabodetabek.

Arah barat dan selatan tetap ramai

Pergerakan ke arah barat menuju Merak juga tetap tinggi. Melalui GT Cikupa di ruas Tol Tangerang-Merak, tercatat 353.032 kendaraan meninggalkan Jabodetabek.

Jumlah itu setara 29,1 persen dari total kendaraan yang keluar. Dibanding kondisi normal, volume ke arah Merak naik 4,7 persen.

Arus ini biasanya berkaitan dengan perjalanan menuju wilayah Banten dan penyeberangan ke Sumatera. Karena itu, kepadatan di jalur tol barat sering berkaitan langsung dengan aktivitas pelabuhan dan distribusi kendaraan ke kapal penyeberangan.

Untuk arah selatan, sebanyak 247.400 kendaraan tercatat melintas melalui GT Ciawi di Tol Jagorawi menuju kawasan Puncak dan sekitarnya. Porsinya mencapai 20,4 persen dari total arus keluar Jabodetabek.

Menariknya, volume ke arah selatan justru sedikit lebih rendah 0,3 persen dibanding kondisi normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa lonjakan mudik tahun ini tidak terjadi merata di semua arah, melainkan lebih terkonsentrasi di jalur timur.

Rincian distribusi arus kendaraan

Berikut pembagian kendaraan yang keluar dari Jabodetabek berdasarkan arah utama:

  1. Timur, Trans Jawa dan Bandung: 612.956 kendaraan
  2. Barat, Merak: 353.032 kendaraan
  3. Selatan, Puncak: 247.400 kendaraan

Dari data itu, jalur timur menampung lebih dari separuh total arus. Ini membuat pengelola jalan tol dan pemangku kepentingan transportasi perlu memberi perhatian lebih pada ruas Jakarta-Cikampek, Cipularang, serta koneksi menuju jaringan tol Trans Jawa.

Apa arti angka ini bagi pemudik

Angka 1,2 juta kendaraan yang sudah meninggalkan Jabodetabek menunjukkan bahwa gelombang mudik telah berlangsung lebih cepat. Pemudik yang berangkat lebih awal kemungkinan mencoba menghindari kepadatan ekstrem yang biasanya muncul mendekati puncak arus.

Dari sisi pengelolaan lalu lintas, data ini penting untuk membaca pola sebaran kendaraan. Lonjakan tajam di GT Cikampek Utama dapat menjadi sinyal bahwa rekayasa lalu lintas, pengaturan rest area, hingga kesiapan petugas di jalur timur perlu terus diperkuat.

Bagi pengguna jalan, distribusi arus ini juga memberi gambaran soal titik rawan kepadatan. Jalur ke Trans Jawa berpotensi tetap menjadi titik terpadat, sedangkan jalur ke Merak dan Puncak cenderung bergerak lebih stabil meski tetap ramai.

Pantauan berbasis data seperti ini menjadi acuan penting selama musim mudik. Selama proyeksi 3,5 juta kendaraan belum tercapai, volume lalu lintas keluar dari Jabodetabek masih berpotensi bertambah dan membentuk antrean panjang di koridor-koridor utama.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com
Exit mobile version