Saat Mobil Listrik Melaju, Industri Otomotif Nasional di Persimpangan Besar

Industri otomotif nasional sedang bergerak ke fase baru. Pergeseran dari mesin pembakaran internal menuju kendaraan listrik kini bukan lagi sekadar tren global, tetapi mulai membentuk arah investasi, produksi, dan pola konsumsi di Indonesia.

Perubahan ini penting karena sektor otomotif selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi. Kementerian Perindustrian mencatat nilai tambah bruto atau gross value added industri otomotif mencapai sekitar Rp 180 triliun pada 2024, sekaligus menunjukkan besarnya efek berantai sektor ini bagi industri baja, karet, plastik, dan logistik.

Elektrifikasi mulai mengubah peta industri

Masuknya kendaraan listrik mengubah struktur bisnis otomotif dari hulu ke hilir. Industri tidak lagi hanya bertumpu pada kendaraan bermesin konvensional, tetapi juga mulai mengembangkan HEV, PHEV, dan BEV yang menuntut rantai pasok, komponen, serta keahlian baru.

Pemerintah menyiapkan payung regulasi melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019. Aturan ini mencakup insentif fiskal dan nonfiskal, penggunaan tingkat komponen dalam negeri, penyediaan infrastruktur, hingga aturan pendaftaran dan identifikasi kendaraan listrik.

Kebijakan turunan juga terus diperluas oleh sejumlah kementerian. Di antaranya aturan Kementerian ESDM soal infrastruktur pengisian listrik, Kementerian Perhubungan soal kendaraan tertentu berbasis motor listrik, Kementerian Perindustrian soal peta jalan dan TKDN, serta Kementerian Keuangan soal PPN kendaraan listrik tertentu.

Arah kebijakan itu bertujuan ganda. Pemerintah ingin mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus menarik investasi agar Indonesia tidak berhenti sebagai pasar, tetapi naik kelas menjadi basis produksi.

Pasar tumbuh cepat, tetapi belum dominan

Data Gaikindo menunjukkan penjualan kendaraan listrik dari pabrik ke dealer tumbuh tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 penjualannya mencapai 10.327 unit, lalu naik menjadi 17.062 unit pada 2023, meningkat lagi ke 43.193 unit pada 2024, dan menembus 177.367 unit pada 2025.

Komposisinya juga menunjukkan pasar yang mulai beragam. Pada 2025, penjualan HEV tercatat 68.066 unit, PHEV 5.272 unit, dan BEV 104.029 unit.

Angka itu menandakan minat konsumen mulai bergeser ke kendaraan yang lebih efisien dan rendah emisi. Namun kontribusi kendaraan listrik terhadap total pasar otomotif nasional masih belum dominan jika dibandingkan kendaraan konvensional.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menegaskan harga masih menjadi faktor utama pembelian. “Faktor harga masih menjadi faktor dominan dalam memutuskan pembelian kendaraan bermotor,” ujarnya seperti dikutip Kompas.id.

Infrastruktur jadi penentu adopsi

Pertumbuhan pasar kendaraan listrik sangat bergantung pada infrastruktur pengisian daya. Di titik ini, PLN memperluas jaringan SPKLU dan layanan home charging untuk menjawab kebutuhan pengguna yang terus bertambah.

Pada 2024, jumlah SPKLU yang beroperasi di Indonesia mencapai 3.233 unit. Angka itu naik dari 1.081 unit pada periode sebelumnya, sementara fasilitas home charging tercatat 28.356 unit.

PLN juga mencatat hingga Agustus 2025 terdapat lebih dari 4.134 unit SPKLU dan sekitar 1.902 unit SPBKLU di berbagai wilayah. Penambahan ini memperkuat fondasi ekosistem kendaraan listrik, terutama di kota-kota besar dan jalur mobilitas utama.

Meski begitu, tantangan pemerataan masih besar. Jaringan pengisian daya masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan, sehingga mobilitas antarkota dan wilayah di luar koridor utama belum sepenuhnya nyaman bagi pengguna.

Peluang investasi dan peran hybrid

Elektrifikasi membuka peluang baru bagi Indonesia karena memiliki cadangan nikel yang besar. Bahan baku ini menjadi komponen penting dalam produksi baterai, sehingga Indonesia dinilai punya modal kuat untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok global kendaraan listrik.

Pemerintah mencatat hingga Maret 2025 sudah ada tujuh produsen mobil listrik yang menanamkan investasi di Indonesia. Kehadiran investor ini diharapkan memperluas model kendaraan yang tersedia sekaligus memperbesar basis produksi domestik.

Di tengah transisi itu, kendaraan hybrid dinilai menjadi jembatan yang realistis. Model ini memberi ruang adaptasi bagi konsumen, industri komponen, dan manufaktur nasional sebelum pasar benar-benar bergerak penuh ke BEV.

Toyota menjadi salah satu contoh pemain lama yang aktif di fase ini. Data Gaikindo menunjukkan Toyota memimpin pasar mobil hybrid di Indonesia dengan penjualan 30.110 unit sepanjang Januari hingga Desember 2025, sementara ekspornya mencapai 22.868 unit.

Tantangan industri nasional masih nyata

Masa depan industri otomotif nasional tidak hanya ditentukan oleh tingginya penjualan kendaraan listrik. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar nilai tambahnya tinggal di dalam negeri.

Fakta di lapangan menunjukkan 7 dari 10 mobil listrik yang terjual di Indonesia pada 2025 masih berupa impor utuh atau completely built up, terutama untuk segmen BEV. Kondisi ini membuat lonjakan penjualan belum otomatis berarti penguatan manufaktur domestik.

Pelaku industri komponen juga menyuarakan kekhawatiran. Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor menilai percepatan adopsi BEV bisa menekan pemasok lokal karena kendaraan listrik memiliki komponen lebih sedikit dibanding mobil bermesin konvensional.

Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki mendorong pemerintah menjaga permintaan domestik dengan insentif yang tepat. “Paling tidak, ada policy dari pemerintah untuk bisa menaikkan domestic demand, seperti waktu Covid-19 diberlakukan insentif PPnBM-DTP,” ujarnya seperti dikutip GridOto.com.

Sejumlah pelaku industri juga mendorong penguatan TKDN hingga 80 persen pada 2030. Target ini penting agar transisi elektrifikasi bukan hanya menghadirkan produk baru di showroom, tetapi juga memperluas kapasitas pabrik, menyerap tenaga kerja, dan memperdalam rantai pasok otomotif nasional di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button