Minat pemudik menggunakan mobil listrik di jalur antarkota terlihat makin kuat. Pengelola rest area di ruas tol utama mulai menambah fasilitas pengisian daya karena permintaan dinilai terus naik saat arus mudik.
Indikasi itu terlihat dari kesiapan sejumlah titik istirahat yang menyediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU. Fokus utamanya bukan lagi sekadar menambah jumlah colokan, tetapi juga memperbanyak pengisian cepat agar antrean tetap terkendali.
Pemudik mobil listrik diprediksi bertambah
Kepala Rest Area Travoy KM 88A, Frince Rajagukguk, menyatakan pengguna mobil listrik diperkirakan lebih banyak pada musim mudik. Karena itu, rest area Travoy KM 88A di Tol Cipularang menyiapkan total 14 nozzle SPKLU.
Menurut Frince, dari total tersebut 11 nozzle berasal dari PLN dan tiga nozzle dari Voltron. Ia menegaskan kebutuhan fast charging saat ini paling tinggi, sehingga komposisi fasilitas disiapkan mengikuti pola penggunaan di lapangan.
Di lokasi itu, SPKLU dari PLN mencakup lima nozzle fast charging. Sementara Voltron menyediakan dua nozzle fast charging untuk membantu pemudik yang membutuhkan waktu isi ulang lebih singkat.
Kesiapan serupa juga terlihat di Rest Area KM 456A-456B Tol Semarang-Solo. Pengelola memperkirakan jumlah pengunjung meningkat signifikan selama periode mudik, termasuk pengguna kendaraan listrik.
Direktur PT Astari Marga Sarana atau Resta Pendopo Km 456, Sutomo, mengatakan pengelola bekerja sama dengan Astra Power. Di masing-masing sisi rest area tersedia dua dispenser dengan tiga nozzle berkapasitas medium hingga fast charging.
Sutomo menyebut pengisian daya di fasilitas tersebut memerlukan waktu sekitar 20 sampai 30 menit. Durasi ini penting bagi pemudik karena memberi gambaran jeda perjalanan yang lebih terukur saat menggunakan mobil listrik.
Kenapa pemudik kini lebih percaya diri
Kepercayaan diri pemudik memakai mobil listrik tidak muncul tanpa alasan. Salah satu pendorong terbesarnya adalah ketersediaan SPKLU di koridor tol utama yang semakin mudah ditemukan di titik-titik strategis.
Model perjalanan mudik juga cocok dengan pola penggunaan mobil listrik bila perencanaan dilakukan sejak awal. Pengemudi biasanya berhenti untuk makan, ke toilet, atau beristirahat, sehingga waktu tersebut dapat dimanfaatkan sambil mengisi daya.
Selain itu, dominasi fasilitas fast charging memberi pengaruh besar pada kenyamanan pengguna. Pengisian yang lebih singkat mengurangi kekhawatiran soal waktu tunggu panjang, terutama saat lalu lintas padat.
Secara umum, adopsi kendaraan listrik di Indonesia juga terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bertambahnya populasi kendaraan membuat operator jalan tol, pengelola rest area, dan penyedia energi harus menyesuaikan layanan agar pengalaman perjalanan jarak jauh tetap efisien.
Peta kesiapan fasilitas yang disorot
Berikut gambaran fasilitas yang disebut dalam laporan lapangan:
-
Rest Area Travoy KM 88A Tol Cipularang
Total 14 nozzle SPKLU. -
Komposisi penyedia di KM 88A
Sebanyak 11 nozzle dari PLN dan tiga nozzle dari Voltron. -
Fasilitas fast charging di KM 88A
PLN menyediakan lima nozzle fast charging, sedangkan Voltron menyediakan dua nozzle fast charging. -
Rest Area KM 456A-456B Tol Semarang-Solo
Tersedia dua dispenser di masing-masing sisi dengan tiga nozzle berkapasitas medium hingga fast charging melalui kerja sama dengan Astra Power. - Estimasi waktu pengisian di KM 456
Sekitar 20-30 menit.
Data itu menunjukkan bahwa kesiapan mudik kendaraan listrik kini tidak lagi bertumpu pada satu titik saja. Koridor Jawa mulai memperlihatkan jaringan pengisian yang lebih rapat, terutama di rest area besar yang menjadi simpul arus kendaraan.
Tantangan yang tetap perlu diantisipasi
Meski infrastruktur bertambah, lonjakan kendaraan pada jam tertentu tetap bisa memicu antrean. Karena itu, pengaturan waktu isi daya dan disiplin pengguna dalam memanfaatkan rest area masih menjadi faktor penting.
Pengelola juga mengingatkan pemudik agar menggunakan rest area secara bijak. Istirahat secukupnya dan bergantian memakai fasilitas menjadi langkah sederhana untuk menjaga arus kendaraan tetap lancar di titik krusial.
Bagi pengguna mobil listrik, perencanaan perjalanan tetap tidak bisa diabaikan. Pengemudi sebaiknya mengecek kondisi baterai sebelum masuk ruas panjang, mengenali lokasi SPKLU berikutnya, dan menyesuaikan titik berhenti dengan kebutuhan keluarga selama perjalanan.
Strategi itu akan makin penting jika volume pemudik benar-benar meningkat seperti perkiraan pengelola rest area. Saat jumlah pengguna mobil listrik bertambah, kesiapan infrastruktur dan kedisiplinan pengguna akan sama-sama menentukan apakah perjalanan mudik tetap nyaman, cepat, dan minim hambatan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com








