One Way Tol Trans Jawa Dimulai, Salah Pindah Lajur Bisa Berbahaya Saat Mudik

Sistem one way di Tol Trans Jawa mulai diterapkan untuk mengantisipasi lonjakan arus mudik. Rekayasa lalu lintas ini sudah berjalan sejak Selasa malam pada ruas tertentu sebelum diperluas menjadi skema nasional saat puncak pergerakan kendaraan.

Informasi dari Korlantas Polri menyebut kepadatan terpantau di sejumlah titik seperti Km 29, Km 57, dan Km 70. Karena itu, penerapan tahap awal one way diberlakukan dari Km 70 hingga Km 263 di wilayah Jawa Tengah, lalu disiapkan berlanjut lebih luas sesuai kondisi lapangan.

Ruas dan jadwal one way yang perlu diperhatikan

Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan penerapan ini dilakukan setelah koordinasi dengan kementerian terkait dan Jasa Marga. Dalam keterangannya yang dikutip dari laman Korlantas Polri, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret sehingga one way nasional disiapkan berlaku pada rentang pukul 10.00 WIB sampai 12.00 WIB.

Mengacu pada informasi yang dibagikan melalui akun Instagram Kementerian Perhubungan, skema one way untuk arus mudik berlaku pada 17 Maret hingga 20 Maret. Sementara untuk arus balik, rekayasa serupa dijadwalkan berlangsung dari 23 Maret hingga 29 Maret.

Berikut ringkasan ruas dan waktu yang perlu dicermati pengguna jalan:

  1. Arus mudik: 17 Maret sampai 20 Maret, Selasa pukul 12.00 WIB hingga Jumat pukul 24.00 WIB.
    Ruas yang terdampak: Tol Jakarta-Cikampek Km 70 sampai Semarang-Solo Km 421.

  2. Arus balik: 23 Maret sampai 29 Maret, Senin pukul 12.00 WIB hingga Minggu pukul 24.00 WIB.
    Ruas yang terdampak: Tol Semarang-Solo Km 421 sampai Jakarta-Cikampek Km 70.

Pengendara tetap perlu memantau pembaruan resmi karena skema one way bersifat situasional. Polisi dapat menyesuaikan waktu pembukaan, perpanjangan, atau penghentian rekayasa lalu lintas berdasarkan volume kendaraan di lapangan.

Tips mengemudi aman saat melintasi jalur one way

Berkendara di jalur one way membutuhkan disiplin lebih tinggi dibanding kondisi normal. Arah perjalanan yang seragam memang mengurangi konflik dari kendaraan lawan arah, tetapi kepadatan dan kecepatan arus justru bisa meningkat di waktu tertentu.

Hal pertama yang perlu dijaga adalah posisi lajur. Pengendara dianjurkan tetap disiplin berada di satu lajur dan tidak terlalu sering berpindah jalur tanpa alasan yang jelas.

Lajur kanan sebaiknya dipakai hanya untuk mendahului. Setelah manuver selesai, kendaraan perlu kembali ke lajur kiri agar arus tetap teratur dan tidak memicu perlambatan berantai.

Pengemudi juga perlu menjaga pandangan jauh ke depan. Kebiasaan ini penting untuk membaca perubahan situasi, termasuk antrean, perlambatan mendadak, titik akhir one way, hingga arahan petugas di sekitar akses keluar masuk tol.

Perpindahan lajur harus dilakukan secara terukur. Pengendara tidak disarankan memotong jalur secara mendadak karena risiko tabrakan samping akan meningkat saat volume kendaraan sedang padat.

Saat akan berpindah lajur, ada beberapa langkah dasar yang perlu dilakukan:

  1. Cek spion tengah dan spion samping.
  2. Menoleh singkat ke area blind spot.
  3. Beri tanda dengan lampu sein lebih awal.
  4. Gunakan klakson seperlunya sebagai penanda keberadaan kendaraan.
  5. Pindah lajur hanya saat ruang benar-benar aman.

Selain teknik berpindah lajur, jarak aman juga harus dijaga. Dalam rekayasa one way, kendaraan cenderung bergerak dalam pola rapat sehingga risiko tabrak depan-belakang meningkat jika pengemudi terlalu dekat dengan kendaraan di depannya.

Kecepatan juga perlu disesuaikan dengan kondisi arus, bukan hanya batas maksimum jalan tol. Saat lalu lintas padat namun masih bergerak, menjaga ritme berkendara yang stabil lebih aman daripada akselerasi mendadak lalu mengerem keras.

Hal penting sebelum masuk ruas one way

Persiapan kendaraan ikut menentukan keselamatan perjalanan. Ban, rem, lampu, wiper, air radiator, dan bahan bakar perlu dipastikan dalam kondisi baik sebelum masuk ruas panjang Tol Trans Jawa.

Pengendara juga sebaiknya mengisi saldo uang elektronik lebih awal dan merencanakan titik istirahat. Pada periode mudik, rest area kerap padat sehingga keputusan berhenti perlu dibuat lebih cepat agar tidak memaksa manuver mendadak menjelang pintu masuk area istirahat.

Kondisi fisik pengemudi tidak boleh diabaikan. Jika mulai mengantuk, konsentrasi menurun, atau merasa lelah setelah berkendara lama, kendaraan perlu diarahkan ke tempat istirahat resmi saat situasi memungkinkan.

Petugas di lapangan menjadi acuan utama selama skema one way berlangsung. Karena sistem ini dinamis, pengguna jalan perlu mengikuti instruksi polisi, rambu sementara, dan informasi resmi dari Korlantas Polri, Jasa Marga, serta Kementerian Perhubungan agar perjalanan di Tol Trans Jawa tetap lancar dan aman.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com

Berita Terkait

Back to top button