Sama-Sama Bisa Dicolok, Tapi Mana Lebih Unggul PHEV Atau REEV Dalam Perjalanan Energi Masa Depan?

Kendaraan plug-in hybrid kini dianggap sebagai solusi transisi antara mesin pembakaran dalam (ICE) dan kendaraan listrik baterai penuh (BEV). Dua jenis utama yang sering dibahas adalah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Range Extender Electric Vehicle (REEV). Meski keduanya dapat diisi ulang melalui colokan listrik, perbedaan mendasarnya terdapat pada prinsip penggerak dan peran mesin bensin.

PHEV menggabungkan mesin bensin dan motor listrik secara paralel. Ini berarti mobil menggunakan mesin dan motor listrik secara bersamaan atau bergantian sebagai penggerak utama. Baterai PHEV berkapasitas lebih besar dari hybrid konvensional dan dapat diisi ulang listrik, memungkinkan kendaraan beroperasi dalam mode listrik murni untuk jarak lebih jauh serta memberi efisiensi bahan bakar yang lebih baik.

Sedangkan REEV mengandalkan motor listrik sebagai satu-satunya penggerak roda. Mesin bensin di REEV tidak digunakan untuk menggerakkan kendaraan secara langsung, melainkan hanya berfungsi sebagai generator yang mengisi baterai jika daya listrik mulai menipis. Konsep ini menjadikan REEV serupa dengan kendaraan listrik murni yang dilengkapi jangkauan tambahan untuk mengatasi kekhawatiran soal jarak tempuh, atau yang dikenal sebagai range anxiety.

Perbedaan utama antara PHEV dan REEV dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Sistem Penggerak

    • PHEV: Mesin bensin dan motor listrik bekerja paralel menggerakkan roda.
    • REEV: Motor listrik menggerakkan roda; mesin bensin hanya mengisi baterai.
  2. Mode Berkendara

    • PHEV: Dapat berjalan dengan mesin pembakaran, motor listrik, atau gabungan keduanya.
    • REEV: Selalu menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama.
  3. Tujuan Mesin Bensin
    • PHEV: Menambah daya penggerak langsung.
    • REEV: Menjadi generator cadangan untuk memperpanjang jarak tempuh.

Sejarah pengembangan PHEV dimulai sejak tahun 2008 dengan BYD F3DM sebagai pioner mobil hybrid plug-in. Kemudian pada 2011, Chevrolet Volt muncul sebagai pelopor REEV dengan konsep mesin bensin sebagai generator baterai. Sistem REEV dinilai memberi pengalaman berkendara yang lebih mirip mobil listrik murni karena sebagian besar tenaga berasal dari motor listrik.

Di Indonesia, teknologi plug-in hybrid mulai dikenal melalui produk-produk pioneer Toyota Prius. Perkembangan PHEV pararel lebih terlihat, terutama dengan kehadiran mobil dari pabrikan China seperti Chery dan Wuling yang sukses menjual model PHEV di pasar lokal. Sementara untuk REEV, pasar Indonesia masih minim penawaran, namun ada rencana mendatangkan model seperti BAIC BJ40e yang menggunakan teknologi REEV dan berbasis rangka sasis tangga.

Sedangkan di China, pasar kendaraan tenaga listrik termasuk PHEV dan REEV berkembang pesat dengan populasi keduanya relatif seimbang. Banyak produsen kinesia memandang REEV sebagai tahap selanjutnya setelah PHEV, karena REEV dianggap mengatasi kelemahan range anxiety pada BEV. Edukasi pasar di China juga menunjukkan bahwa konsumen semakin memahami keunggulan kendaraan listrik murni, termasuk torsi instan dan tingkat kebisingan rendah, sehingga REEV menjadi jembatan yang efektif dalam transisi teknologi otomotif ramah lingkungan.

Secara keseluruhan, baik PHEV maupun REEV membawa inovasi yang mendekatkan pembeli pada penggunaan kendaraan listrik yang lebih bersih dan efisien. Perbedaan dalam sistem penggerak dan peran mesin bensin menciptakan variasi pilihan sesuai kebutuhan konsumen dan kondisi pasar. Di masa depan, perkembangan teknologi ini berpotensi mengubah lanskap otomotif nasional dan global secara signifikan.

Source: otodriver.com

Berita Terkait

Back to top button