Harga Minyak Melejit, Ongkos Mobil Bensin di Eropa Terancam 5 Kali Lipat dari Listrik

Kenaikan harga minyak dunia kembali menekan biaya penggunaan mobil berbahan bakar bensin. Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, beban pengeluaran pengendara mobil bensin diperkirakan naik jauh lebih tajam dibanding pemilik mobil listrik.

Data terbaru menunjukkan selisih kenaikan biaya operasional keduanya makin lebar saat harga minyak menembus level tinggi. Dalam skenario harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel, mobil bensin di Eropa disebut bisa menanggung kenaikan biaya hingga lima kali lebih besar daripada mobil listrik.

Harga minyak dan dampaknya ke biaya berkendara

Laporan organisasi transportasi bersih Transport & Environment (T&E) menjadi salah satu rujukan utama dalam melihat dampak tersebut. T&E menilai lonjakan harga minyak mentah lebih cepat diteruskan ke harga bahan bakar di SPBU dibandingkan perubahan biaya listrik rumah tangga atau pengisian daya kendaraan listrik.

Menurut proyeksi T&E, biaya menempuh 100 kilometer dengan mobil bensin dapat naik menjadi sekitar Rp241.400. Angka itu berarti bertambah sekitar Rp64.600 dari kondisi normal, seiring tekanan harga minyak global.

Di sisi lain, biaya operasional mobil listrik juga ikut naik, tetapi jauh lebih terbatas. Untuk jarak 100 kilometer, biayanya diperkirakan menjadi sekitar Rp110.500 atau naik sekitar Rp11.900.

Perbandingan ini memperlihatkan sensitivitas yang berbeda terhadap gejolak energi global. Saat minyak melonjak, pengguna kendaraan berbahan bakar fosil menghadapi tekanan langsung, sementara kendaraan listrik cenderung lebih terlindungi.

Perbandingan biaya per 100 kilometer

Berikut ringkasan proyeksi biaya yang dikutip dari data T&E.

Jenis kendaraanBiaya per 100 kmKenaikan biaya
Mobil bensinRp241.400Rp64.600
Mobil listrikRp110.500Rp11.900

Dari data itu, kenaikan biaya mobil bensin terlihat sekitar lima kali lebih besar dibanding mobil listrik. Selisih tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa volatilitas minyak masih menjadi faktor utama dalam biaya mobil konvensional.

Mengapa mobil listrik lebih tahan terhadap gejolak minyak

Salah satu penyebab utama perbedaan itu adalah sumber energinya. Mobil bensin hampir sepenuhnya bergantung pada produk olahan minyak mentah, sehingga setiap lonjakan harga minyak cepat tercermin pada harga BBM ritel.

Mobil listrik memakai energi dari jaringan kelistrikan yang sumbernya lebih beragam. Di banyak negara, elektrifikasi kini ditopang campuran energi yang mencakup angin, surya, hidro, dan sumber nonmigas lain yang tidak bergerak sejalan dengan harga minyak.

T&E menilai diversifikasi sumber listrik membuat biaya penggunaan mobil listrik lebih stabil. Dalam konteks krisis energi seperti yang terjadi pada 2022, pola ini sudah terlihat ketika harga minyak melonjak akibat faktor geopolitik, tetapi tarif listrik tidak naik secepat dan sedalam harga bahan bakar minyak.

Direktur Mobilitas T&E, Lucien Mathieu, menegaskan posisi kendaraan listrik dalam situasi seperti sekarang. “Mobil listrik adalah cara terbaik untuk mengurangi ketergantungan terhadap gejolak harga bahan bakar fosil,” ujarnya, seperti dikutip InsideEVs pada 24 Maret 2026.

Dampak ekonomi yang lebih luas

Efek kendaraan listrik tidak hanya dirasakan di level pengguna individu. T&E mencatat lebih dari 8 juta mobil listrik yang beredar di Eropa pada 2023 telah memangkas konsumsi minyak sekitar 46 juta barel.

Pengurangan konsumsi itu ikut menekan pengeluaran energi dalam skala besar. T&E memperkirakan penghematan yang dihasilkan mencapai sekitar Rp49,3 triliun.

Temuan itu sejalan dengan pandangan Badan Energi Internasional atau IEA. Lembaga tersebut berulang kali menekankan bahwa transisi menuju sistem energi berbasis listrik dapat mengurangi ketergantungan masyarakat dan ekonomi terhadap harga minyak yang fluktuatif.

Apa artinya bagi konsumen

Bagi konsumen, gejolak harga minyak kini bukan hanya isu pasar komoditas global. Kenaikan tersebut langsung memengaruhi ongkos harian, terutama untuk penggunaan rutin seperti perjalanan kerja, logistik keluarga, dan mobilitas jarak menengah.

Ada beberapa poin penting yang bisa dibaca dari tren ini:

  1. Mobil bensin paling cepat terdampak saat harga minyak melonjak.
  2. Mobil listrik tetap terpengaruh, tetapi kenaikannya lebih rendah.
  3. Sistem listrik yang makin ditopang energi terbarukan memberi bantalan terhadap gejolak minyak.
  4. Efisiensi biaya jangka panjang menjadi salah satu alasan kuat percepatan adopsi kendaraan listrik.

Meski data yang digunakan berasal dari proyeksi pasar Eropa, arah trennya relevan secara global. Saat ketegangan geopolitik mendorong harga minyak naik, kendaraan yang bergantung pada bensin akan menghadapi biaya operasional yang lebih rentan dibanding kendaraan listrik yang ditopang sistem energi lebih beragam dan relatif stabil.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com

Terkait