
Pasar kendaraan listrik (EV) di China mengalami perubahan signifikan seiring penghapusan subsidi kendaraan energi baru. Salah satu produsen utama, Xpeng, mencatat penurunan penjualan yang tajam pada awal tahun ini, menandai dinamika baru dalam industri EV di pasar terbesar dunia tersebut.
Data terbaru dari China EV DataTracker yang dilansir CarNewsChina menunjukkan pengiriman Xpeng pada dua bulan pertama tahun ini hanya mencapai 28.415 unit. Angka ini turun 49,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini cukup kontras dengan kinerja kuat Xpeng sepanjang tahun lalu yang mencatat pertumbuhan pengiriman hingga 125,9 persen secara tahunan.
Sepanjang tahun lalu, Xpeng mengirimkan total 429.445 unit kendaraan secara global. Penjualan domestik di China mencapai 383.873 unit atau naik 119,4 persen, mendongkrak pendapatan perusahaan sebesar 87,7 persen menjadi 76,72 miliar yuan. Dari pendapatan tersebut, sekitar 68,38 miliar yuan berasal dari penjualan mobil, meningkat 90,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain peningkatan pendapatan, Xpeng juga berhasil memperbaiki margin laba kotor menjadi 18,9 persen, naik dari 14,3 persen pada tahun sebelumnya. Perbaikan kinerja juga tercermin pada penurunan kerugian bersih secara signifikan, yaitu sebesar 1,14 miliar yuan di tahun lalu, turun 80,3 persen dibandingkan kerugian pada tahun sebelumnya yang mencapai 5,79 miliar yuan.
Pada kuartal keempat, Xpeng bahkan berhasil membalikkan keadaan dengan membukukan laba bersih sebesar 380 juta yuan, berbeda dengan kerugian 1,33 miliar yuan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, pukulan besar datang pada awal tahun ini yang memperlihatkan kondisi pasar berubah seiring berakhirnya insentif pemerintah.
Dampak Penghapusan Subsidi Terhadap Pasar EV
Penghapusan subsidi kendaraan energi baru di China menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan penjualan Xpeng. Sejak insentif tersebut dihentikan, pasar EV mulai beradaptasi dengan kondisi baru yang lebih bergantung pada permintaan nyata dari konsumen tanpa dukungan finansial langsung dari pemerintah.
Banyak produsen EV kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan volume penjualan dan pertumbuhan pendapatan. Xpeng sendiri sebelumnya sempat memanfaatkan momentum dengan meluncurkan beberapa model baru pada tahun lalu. Model seperti minivan EREV Xpeng X9, sedan P7 terbaru, serta crossover G7 memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan penjualan.
Selain model-model baru, Xpeng juga mengandalkan model volume tinggi seperti Mona M03 dan P7+. Strategi ini membantu perusahaan menanggulangi persaingan ketat di pasar EV domestik yang sangat kompetitif. Tidak hanya memproduksi kendaraan, Xpeng juga mengembangkan kemitraan strategis dengan produsen otomotif global seperti Volkswagen melalui penyediaan teknologi.
Langkah Strategis Xpeng di Tengah Perubahan Pasar
Memasuki tahun ini, Xpeng menyiapkan peluncuran model SUV anyar berukuran besar, Xpeng GX. Produksi massal model ini telah dimulai di China. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk tetap kompetitif di tengah pasar yang semakin menuntut inovasi dan penyesuaian strategi tanpa subsidi.
Perubahan pasar kendaraan listrik di China dari model berbasis insentif ke mekanisme pasar murni menyebabkan produsen harus lebih fokus pada keunggulan produk dan efisiensi operasional. Hal ini tercermin dari data penjualan dan kinerja keuangan Xpeng yang menunjukkan fluktuasi akibat perubahan kebijakan pemerintah.
Secara keseluruhan, Xpeng mengalami fase transformasi yang menjadi cerminan perubahan pasar EV secara lebih luas di China. Ke depan, keberhasilan perusahaan akan sangat bergantung pada kemampuan mengantisipasi tren konsumen dan inovasi produk yang sesuai kebutuhan pasar tanpa bergantung pada subsidi pemerintah. Perkembangan ini juga menandai pergeseran dalam industri EV dimana pertumbuhan tidak hanya ditopang oleh dukungan finansial, melainkan oleh daya tarik intrinsik dan nilai tambah kendaraan listrik itu sendiri.









