Usai Lebaran, perhatian orang tua perlu beralih dari persiapan silaturahmi ke kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan anak. Pada fase kembali ke rutinitas, risiko penyakit justru meningkat karena tubuh kelelahan, jadwal makan berubah, dan paparan orang lain bertambah.
Kondisi itu membuat anak lebih rentan terserang penyakit seperti diare, muntah, sembelit, hingga infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dokter spesialis anak dr. Himawan Aulia Rahman menjelaskan, diare pada anak dapat dipicu virus, bakteri, maupun parasit, sementara kebersihan makanan, air bersih, dan sanitasi ikut menentukan besar kecilnya risiko penularan.
Diare Masih Jadi Ancaman Utama
Diare kerap muncul setelah masa libur panjang karena anak lebih sering mengonsumsi makanan dari luar rumah. Risiko bertambah jika makanan tidak higienis atau anak tidak mencuci tangan sebelum makan.
Orang tua perlu memperhatikan tanda bahaya seperti anak tampak lemas, sering buang air besar cair, atau sulit minum. Bila kondisi ini disertai tanda dehidrasi, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.
Sakit Perut dan Muntah Perlu Dipantau
Perubahan pola makan selama Lebaran sering membuat saluran pencernaan anak tidak nyaman. Makanan bersantan, berlemak, dan porsi yang tidak teratur dapat memicu sakit perut, kembung, atau rasa mual.
Keluhan muntah juga tidak boleh dianggap remeh karena bisa terkait dengan diare, gangguan lambung, atau infeksi saluran napas. Jika muntah berlangsung terus, berubah warna, atau disertai nyeri perut yang menetap, anak perlu mendapat penanganan lebih cepat.
Sembelit Sering Muncul Setelah Mudik
Selain diare, gangguan pencernaan lain yang juga sering muncul adalah sembelit. Perjalanan jauh, kurang minum, dan kebiasaan menahan buang air besar dapat membuat feses mengeras dan anak merasa sakit saat BAB.
Berikut tanda sembelit yang perlu diperhatikan orang tua:
- Buang air besar kurang dari dua kali seminggu.
- Feses keras dan sulit dikeluarkan.
- Anak tampak kesakitan saat BAB.
- Perut terasa penuh atau tidak nyaman.
Jika keluhan berlangsung berulang, pola makan dan asupan cairan anak perlu dievaluasi. Dalam beberapa kasus, sembelit juga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut agar penyebabnya jelas.
ISPA Mudah Menular Saat Aktivitas Sosial Meningkat
Setelah Lebaran, intensitas kontak fisik biasanya meningkat karena banyak orang bertemu keluarga besar, berpelukan, dan berjabat tangan. Situasi ini ikut memperbesar peluang penularan ISPA, terutama pada anak yang daya tahannya belum sekuat orang dewasa.
Risiko semakin tinggi saat anak kembali ke sekolah atau kembali berkumpul dalam lingkungan padat. Batuk, pilek, demam, dan sesak napas perlu dipantau karena gejala tersebut dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius bila diabaikan.
Langkah Sederhana untuk Menjaga Anak Tetap Sehat
Pencegahan masih menjadi cara paling efektif untuk menekan gangguan kesehatan setelah Lebaran. Orang tua dapat memulai dari kebiasaan harian yang mudah dilakukan di rumah maupun saat anak kembali beraktivitas.
Langkah yang disarankan antara lain:
- Mengembalikan pola makan anak secara bertahap ke menu normal.
- Memastikan anak cukup minum air putih setiap hari.
- Membiasakan cuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet.
- Menjaga waktu tidur agar tubuh anak kembali bugar.
- Mengurangi kontak dengan orang yang sedang sakit.
Kebiasaan sederhana ini penting karena kondisi pasca-libur panjang sering membuat daya tahan tubuh anak belum kembali optimal. Orang tua juga perlu lebih peka saat anak terlihat lesu, kehilangan nafsu makan, atau mengeluh tidak nyaman pada perut dan tenggorokan.
Pada periode setelah Lebaran, perhatian terhadap kebersihan makanan, cairan tubuh, dan gejala awal penyakit menjadi kunci untuk mencegah kondisi ringan berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
