Langkah Xiaomi di bisnis kendaraan listrik mulai membuahkan hasil yang selama ini dinantikan pasar. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke industri mobil bertenaga baterai, unit EV Xiaomi berhasil mencetak laba operasional pada periode 2025 dengan nilai 900 juta yuan atau sekitar Rp2 triliunan.
Pencapaian itu menjadi sinyal penting bagi perusahaan teknologi asal China tersebut, karena bisnis mobil listrik Xiaomi baru mulai menjual kendaraan pada 2024. Dalam waktu singkat, divisi yang digabung dengan lini AI itu mampu naik dari tahap ekspansi agresif ke fase awal profitabilitas.
Laba pertama dari bisnis yang masih sangat muda
Kinerja untung ini menegaskan bahwa strategi Xiaomi di sektor otomotif tidak berjalan sekadar sebagai proyek eksperimen. Perusahaan berhasil mengonversi pertumbuhan permintaan menjadi pendapatan besar, sekaligus menjaga efisiensi di tengah kompetisi ketat pasar mobil listrik.
Disitat dari ArenaEV, laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa unit EV dan AI Xiaomi bukan hanya membukukan laba operasional, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang sangat tinggi. Situasi ini menempatkan Xiaomi sebagai salah satu pemain baru yang mampu bergerak cepat di industri yang biasanya membutuhkan waktu lama untuk mencapai titik impas.
Berikut data utama yang tercatat dalam laporan tersebut:
| Indikator | Capaian Xiaomi EV 2025 |
|---|---|
| Laba operasional | 900 juta yuan |
| Pendapatan | 106,1 miliar yuan |
| Pertumbuhan pendapatan | 223,8 persen |
| Margin kotor | 24,3 persen |
| Unit terkirim | Lebih dari 411 ribu mobil |
Lonjakan itu menunjukkan bahwa bisnis kendaraan listrik Xiaomi telah melewati fase awal yang penuh investasi berat. Dengan volume penjualan yang terus naik, perusahaan mulai menikmati skala ekonomi yang lebih sehat.
SU7 dan YU7 jadi penggerak utama
Model SU7 berperan sebagai produk andalan yang mengangkat citra dan volume penjualan Xiaomi di pasar kendaraan listrik. Di sisi lain, SUV listrik YU7 turut menambah daya dorong saat pengiriman melonjak di penghujung tahun.
Kombinasi dua model tersebut membantu Xiaomi memperluas jangkauan konsumen. Hal ini juga memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan dengan produsen mobil listrik mapan yang sudah lebih dulu bermain di segmen serupa.
Secara bisnis, angka pengiriman lebih dari 411 ribu unit menjadi pencapaian yang menonjol untuk merek otomotif yang masih sangat baru. Permintaan yang tinggi itu memberi ruang bagi Xiaomi untuk memperbaiki struktur biaya dan meningkatkan efisiensi produksi.
Margin naik, tapi tantangan belum selesai
Meski sudah untung, Xiaomi tetap mengakui bahwa margin keuntungannya masih tipis. Laporan yang sama mencatat margin kotor divisi EV dan AI berada di level 24,3 persen, naik 5,8 poin dibanding 2024, namun masih menyimpan tantangan untuk jangka panjang.
Dalam industri mobil listrik, profit awal sering belum cukup untuk menjamin kestabilan. Perusahaan tetap harus menghadapi biaya pengembangan teknologi, ekspansi kapasitas, logistik, serta persaingan harga yang bisa menekan margin kapan saja.
Di pasar China sendiri, persaingan EV bergerak sangat cepat dan ketat. Xiaomi perlu menjaga momentum dengan mempertahankan kualitas produk, layanan purna jual, serta strategi harga yang tetap kompetitif agar pertumbuhan penjualan tidak berhenti di satu siklus produk.
Ekspansi global mulai diperhatikan
Keberhasilan finansial ini juga membuat langkah Xiaomi di pasar luar negeri mendapat sorotan lebih besar. Salah satu tanda ekspansi itu terlihat saat Xiaomi mulai masuk ke pasar Jepang dan mengenalkan SU7 Ultra di Tokyo, menurut keterangan pada foto referensi dari Carnewschina.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Xiaomi tidak hanya mengejar pertumbuhan di pasar domestik. Perusahaan juga mulai membaca peluang internasional untuk memperluas basis pengguna dan membangun reputasi sebagai produsen EV baru yang agresif.
Dengan kinerja 2025 yang mencatat laba operasional Rp2 triliunan, pendapatan 106,1 miliar yuan, dan pengiriman lebih dari 411 ribu unit, Xiaomi EV kini memasuki fase yang lebih penting. Tantangan berikutnya adalah menjaga pertumbuhan agar profit yang sempat tipis bisa berubah menjadi fondasi bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan.
