Antre 5 Jam Demi BBM Setengah Tangki, Laos Dihantam Kelangkaan Bahan Bakar

Kelangkaan bahan bakar di Laos memicu antrean panjang di sejumlah SPBU, dengan warga disebut harus menunggu hingga lima jam hanya untuk mendapatkan BBM setengah tangki. Situasi ini muncul saat pasokan energi di Asia Tenggara ikut terdampak gangguan distribusi dari Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.

Kondisi tersebut paling terasa di wilayah wisata seperti Luang Prabang, tempat warga dan sopir harus mengatur ulang aktivitas harian demi memperoleh bahan bakar. Pembatasan pasokan juga membuat sebagian SPBU diisi dengan sistem yang lebih ketat, termasuk pembayaran tunai dan pembatasan volume pengisian.

Antrean Panjang dan BBM Hanya Setengah Tangki

Dikutip dari South China Morning Post, antrean kendaraan di Laos membentang panjang di beberapa SPBU. Meski sudah menunggu berjam-jam, pengemudi tidak bisa mengisi penuh tangki kendaraan mereka.

Seorang sopir tur di Luang Prabang, Chantee Sipaseuth, menggambarkan situasi yang dialaminya sebagai kondisi yang sangat berat. Ia mengatakan harus menunggu sekitar lima jam dan bahkan meminta istrinya membawa uang tunai serta makanan agar bisa membayar BBM di tengah antrean panjang.

Dampak Langsung ke Aktivitas Warga

Krisis pasokan BBM di Laos tidak hanya memicu antrean, tetapi juga mengganggu mobilitas harian masyarakat. Banyak warga yang kini harus menyesuaikan jadwal perjalanan agar tidak terjebak antrean atau kehabisan bahan bakar saat dibutuhkan.

Berikut dampak yang paling terlihat di lapangan:

  1. Warga harus mengantre lebih lama dari biasanya di SPBU.
  2. Pengisian BBM dibatasi, hanya setengah tangki.
  3. Pembayaran tunai menjadi syarat di beberapa lokasi.
  4. Aktivitas usaha transportasi ikut melambat karena kendaraan sulit mendapat bahan bakar.

Kondisi ini menekan sektor transportasi kecil yang bergantung pada suplai BBM harian. Saat bahan bakar sulit didapat, biaya operasional naik dan pendapatan pengemudi ikut tertekan.

Pemicu dari Gangguan Jalur Pasokan

Sejumlah negara di Asia Tenggara dilaporkan mulai membatasi konsumsi BBM setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu gangguan suplai. Laos termasuk negara yang merasakan dampaknya karena pasokan energinya sangat bergantung pada impor, terutama dari Thailand.

Pemerintah Laos juga telah menerapkan sekolah tiga hari dalam sepekan untuk menekan konsumsi bahan bakar. Langkah itu menunjukkan bahwa krisis ini tidak hanya menyentuh sektor energi, tetapi juga mulai memengaruhi layanan publik.

Thailand Juga Waspada

Thailand, yang menjadi salah satu pemasok utama BBM ke Laos, menyatakan masih memiliki cadangan bahan bakar untuk 100 hari ke depan. Namun, pemerintah setempat tetap bersikap waspada karena situasi geopolitik di kawasan belum sepenuhnya stabil.

Anutin Charnvirakul selaku Perdana Menteri Thailand memperingatkan keras para penimbun BBM agar tidak memanfaatkan situasi. Ia menegaskan pelaku penimbunan akan mendapat sanksi berat jika terbukti sengaja menaikkan harga bahan bakar.

Di sisi lain, beberapa SPBU di Thailand juga mulai mengalami kelangkaan pasokan. Sejumlah nelayan terpaksa menambatkan perahu di dermaga karena tidak mampu membeli solar untuk melaut, sementara pengemudi taksi online di Bangkok mulai mengurangi perjalanan.

Sakol Insangnoen, seorang sopir taksi online, mengatakan kondisi ini membuatnya harus merencanakan pengisian BBM jauh lebih awal. Ia juga menyebut banyak pesanan terpaksa ditolak karena jarak tempuh dan biaya operasional tidak lagi sebanding dengan kondisi pasokan yang tidak pasti.

Situasi Yang Masih Bergerak Cepat

Krisis BBM di Laos dan Thailand memperlihatkan betapa cepatnya gangguan pasokan energi dapat memengaruhi kehidupan warga sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, antrean panjang di SPBU, pembatasan pengisian, hingga pergeseran jadwal sekolah menjadi tanda bahwa tekanan pasokan bahan bakar sudah masuk ke ranah sosial dan ekonomi secara bersamaan.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com

Berita Terkait

Back to top button