Baidu kembali menjadi sorotan setelah sejumlah robotaxi Apollo Go dilaporkan berhenti mendadak di jalan layang dan jalan raya Wuhan. Kondisi itu memicu tabrakan beruntun, membuat lalu lintas tersendat, dan menjebak penumpang di dalam mobil tanpa pengemudi tersebut.
Peristiwa ini menambah daftar kekhawatiran publik terhadap keamanan kendaraan otonom saat menghadapi kondisi nyata di jalan. Saat sistem mengalami gangguan, satu titik kegagalan saja bisa langsung berdampak pada arus kendaraan di sekitarnya, terutama di jalur cepat yang jarang memberi ruang reaksi.
Apa yang terjadi di Wuhan
Laporan yang beredar menyebut beberapa robotaxi Baidu tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan karena “system malfunctions”. Video yang dibagikan di media sosial memperlihatkan kendaraan berhenti dengan lampu hazard menyala, sebagian berada di tengah lajur dan sebagian lain menepi secara tidak rapi.
Dalam salah satu rekaman dashcam, sebuah SUV menabrak robotaxi yang berhenti di lajur tengah. Pengemudi mengaku tidak punya cukup waktu untuk menghindar, dan benturan itu menyebabkan kerusakan parah di bagian depan mobilnya.
Tabrakan lain dan penumpang yang terjebak
Insiden itu tidak berhenti pada satu kendaraan saja, karena setidaknya dua tabrakan lain juga dilaporkan pada hari yang sama. Dalam salah satu kasus, sebuah robotaxi Baidu ditabrak dari belakang oleh kendaraan lain yang melaju di belakangnya.
Masalah lain muncul ketika sejumlah penumpang tidak bisa keluar dari kendaraan yang berhenti mendadak itu. Salah satu mahasiswi lokal yang berbicara kepada Wired mengatakan dirinya terjebak di dalam robotaxi selama 90 menit bersama dua temannya.
Menurut pengakuannya, kendaraan itu berhenti empat atau lima kali selama perjalanan sebelum akhirnya berhenti total dekat sebuah persimpangan. Layar di dalam mobil hanya menampilkan instruksi agar sabuk pengaman tetap terpasang, sementara butuh 30 menit sebelum bisa terhubung dengan perwakilan Baidu.
Mengapa kejadian ini menjadi perhatian besar
Kasus ini menunjukkan bahwa teknologi swakemudi masih sangat bergantung pada kemampuan sistem membaca situasi yang tidak terduga. Di jalan raya, satu keputusan yang terlambat bisa memicu dampak berantai, terutama saat kendaraan otomatis berhenti tanpa peringatan cukup bagi pengemudi di belakangnya.
Berikut beberapa risiko yang langsung terlihat dari kejadian ini:
- Kendaraan berhenti tiba-tiba di lajur aktif dan memicu tabrakan dari belakang.
- Penumpang tidak punya kendali manual untuk keluar dari situasi darurat.
- Respons bantuan pelanggan berjalan lambat saat kendaraan mengalami gangguan.
- Lalu lintas padat membuat ruang manuver kendaraan di sekitar robotaxi menjadi sangat terbatas.
Baidu dan tekanan pada industri robotaxi
Apollo Go merupakan salah satu program robotaxi paling agresif di China dan sudah masuk ke beberapa kota besar. Baidu sebelumnya juga telah mendapat izin untuk meluncurkan layanan robotaxi berbayar di Beijing, yang menunjukkan bahwa perusahaan itu masih terus mendorong ekspansi komersialnya.
Namun, insiden di Wuhan memperlihatkan bahwa skala operasional yang makin luas juga membawa risiko yang makin terlihat. Saat kendaraan otonom mulai berhadapan dengan lalu lintas padat, perilaku pengemudi manusia di sekitar mereka, dan kondisi jalan yang tidak ideal, batas kemampuan sistem menjadi semakin diuji.
Fenomena ini juga relevan dengan realitas di jalan raya China yang sangat padat, di mana kendaraan bergerak dalam jarak rapat dan tabrakan dari belakang cukup sering terjadi. Dalam kondisi seperti itu, kendaraan tanpa pengemudi yang berhenti mendadak dapat menjadi pemicu bahaya tambahan, terutama bila tidak ada mekanisme pengamanan yang cepat dan jelas bagi penumpang maupun pengguna jalan lain.
Sorotan pada keandalan sistem otonom
Insiden Wuhan kemungkinan akan mendorong pertanyaan baru tentang standar fail-safe pada armada robotaxi. Teknologi otonom tidak hanya harus bisa berjalan sendiri, tetapi juga harus mampu merespons gangguan tanpa menciptakan risiko baru bagi mobil lain di sekitarnya.
Di sisi lain, publik kini akan menuntut jawaban yang lebih terbuka tentang apa yang dimaksud “system malfunctions” pada kendaraan yang berhenti serentak itu, bagaimana prosedur evakuasi penumpang dijalankan, dan seberapa cepat operator bisa mengambil alih saat terjadi gangguan di jalan raya yang padat.
Source: www.carscoops.com