Harga Mobil Listrik CKD Naik, Penjualan Terancam Mandek di Tengah Rupiah Tertekan

Naiknya harga mobil listrik rakitan lokal mulai terasa di pasar Indonesia setelah sejumlah pabrikan menyesuaikan banderol produknya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa penjualan mobil listrik CKD atau Completely Knocked Down bisa bergerak stagnan karena daya beli ikut tertekan.

Chery E5 tercatat naik sampai Rp 20 jutaan, sedangkan J6 terkerek Rp 55 juta-Rp 60 juta. Di segmen lain, Hyundai Kona Electric dan Ioniq 5 juga mengalami kenaikan di kisaran Rp 49 juta sampai Rp 76 juta.

Tekanan Harga Tak Hanya Menimpa Mobil Impor

Kenaikan harga mobil listrik bukan sekadar efek penyesuaian biasa di pasar. Pengamat otomotif sekaligus Akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai situasi ini menjadi konsekuensi logis dari nilai keekonomian mobil listrik tanpa dukungan subsidi.

“Situasi ini makin berat karena faktor geo-ekonomi global ikut menekan, terutama sejak krisis blokade Selat Hormuz pada akhir Februari 2026,” kata Yannes kepada KatadataOTO. Ia menjelaskan bahwa dampaknya merambat ke banyak lini biaya, termasuk komponen dan logistik.

Pelemahan rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat ikut menambah beban industri. Di saat yang sama, tarif kargo global juga naik dan membuat biaya impor komponen baterai lebih mahal hingga 15 persen.

CKD Ikut Terimbas Biaya Produksi

Banyak pihak mengira kenaikan harga hanya terjadi pada mobil listrik impor utuh. Padahal, model rakitan lokal CKD juga ikut menerima tekanan karena pabrik tetap bergantung pada komponen impor dalam jumlah besar.

Yannes menegaskan, “Sehingga tekanan harga tidak hanya terjadi pada unit impor, tetapi juga model CKD.” Artinya, keunggulan produksi lokal belum cukup kuat untuk menahan lonjakan biaya ketika mata rantai pasok global ikut bermasalah.

Dalam situasi seperti ini, harga jual akhir menjadi lebih sulit dijaga stabil. Pabrikan perlu menyeimbangkan biaya produksi, distribusi, dan margin keuntungan tanpa dukungan insentif fiskal dari pemerintah.

Risiko Pasar Makin Sempit

Tanpa insentif, penjualan kendaraan listrik berisiko melambat karena konsumen akan lebih selektif. Yannes menilai pasar bisa makin tersegmentasi dan mobil listrik justru lebih mudah dijangkau kelompok konsumen berdaya beli tinggi.

“Pasar berisiko tersegmentasi semakin tersegmentasi dan EV makin cenderung hanya terjangkau bagi konsumen kelas atas yang relatif lebih tahan terhadap inflasi,” ujarnya. Kondisi ini berpotensi membuat penetrasi mobil listrik ke pasar massal berjalan lebih lambat dari target industri.

Berikut faktor utama yang menekan harga dan penjualan mobil listrik CKD:

  1. Tidak adanya insentif untuk mobil listrik rakitan lokal.
  2. Pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor komponen.
  3. Kenaikan tarif kargo global yang memicu biaya logistik lebih tinggi.
  4. Harga komponen baterai impor yang naik sampai 15 persen.
  5. Sentimen geopolitik global yang belum stabil.

Pabrikan Tiongkok Masih Menjaga Harga Menarik

Di tengah tekanan itu, sejumlah pabrikan Tiongkok masih mencoba mempertahankan daya tarik pasar dengan produk berbanderol Rp 199 juta sampai Rp 200 jutaan. Changan Lumin EV dipasarkan di angka Rp 199 jutaan on the road Jakarta, sementara BYD Atto 1 juga masih berada di kisaran harga serupa.

Strategi harga ini penting karena segmen entry-level masih menjadi pintu masuk utama bagi konsumen yang baru beralih ke kendaraan listrik. Namun, harga yang disebut kompetitif itu tetap rawan disesuaikan jika tekanan biaya global berlanjut.

Untuk saat ini, pasar mobil listrik CKD di Indonesia berada pada fase yang sensitif terhadap perubahan biaya produksi. Selama faktor kurs, logistik, dan insentif fiskal belum membaik, harga jual berpotensi terus bergerak naik dan menahan laju penjualan di segmen yang paling membutuhkan harga terjangkau.

Source: otomotif.katadata.co.id
Exit mobile version