Jatah Pertalite 50 Liter per Hari, Benarkah Membatasi atau Justru Terlalu Longgar?

Mulai 1 April 2026, pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi jenis Pertalite untuk mobil pribadi maksimal 50 liter per hari. Pembelian juga wajib menggunakan barcode MyPertamina agar kuota harian bisa terpantau di SPBU.

Aturan ini memicu pertanyaan sederhana dari banyak pengguna mobil: apakah jatah 50 liter per hari masih cukup untuk aktivitas harian. Jika dilihat dari kapasitas tangki dan konsumsi BBM mobil pribadi pada umumnya, batas itu cenderung masih longgar untuk kebutuhan harian mayoritas pengguna.

Aturan pembatasan Pertalite untuk mobil pribadi

Mengacu pada informasi yang disampaikan dalam artikel referensi, pembatasan ini berlaku khusus untuk kendaraan roda empat pelat hitam. Sementara itu, angkutan umum disebut tidak masuk dalam pembatasan yang sama sehingga operasional layanan publik tetap berjalan normal.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan transaksi Pertalite kini menggunakan barcode MyPertamina. Mekanisme ini dipakai untuk mengendalikan pembelian harian BBM subsidi agar penyalurannya lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kebijakan tersebut hanya menyasar mobil pribadi. Penegasan ini penting karena banyak kekhawatiran awal muncul dari sektor transportasi umum dan pelaku usaha yang bergantung pada mobilitas harian.

Apakah 50 liter terlalu kecil? Cek dari ukuran tangki mobil

Jika dihitung dari kapasitas tangki, banyak mobil keluarga di Indonesia bahkan tidak bisa menampung 50 liter dalam sekali isi penuh. Artinya, batas harian tersebut secara praktis masih berada di atas kebutuhan satu kali pengisian untuk mobil-mobil populer.

Berikut gambaran sederhananya dengan harga Pertalite Rp10.000 per liter seperti tercantum dalam referensi:

Jenis mobil Kapasitas tangki Estimasi biaya isi penuh
LCGC seperti Toyota Calya/Daihatsu Sigra 36 liter Rp360.000
MPV seperti Toyota Avanza/Daihatsu Xenia 43 liter Rp430.000
Batas harian pembelian Pertalite 50 liter Rp500.000

Dari hitungan itu, pengguna LCGC masih berada 14 liter di bawah batas harian saat mengisi dari posisi kosong. Pengguna MPV keluarga juga masih memiliki sisa sekitar 7 liter dari batas maksimal 50 liter.

Fakta ini menunjukkan bahwa dari sisi volume tangki, pembatasan tersebut belum menjadi hambatan bagi sebagian besar mobil pribadi standar pabrikan. Kecuali untuk kendaraan dengan tangki lebih besar atau penggunaan yang sangat intens, mayoritas pemilik mobil tidak akan menyentuh limit itu dalam satu kali transaksi normal.

Hitungan jarak tempuh 50 liter Pertalite

Cara paling mudah menilai cukup atau tidak adalah melihat daya jelajah. Jika konsumsi BBM mobil rata-rata 10 km per liter, maka 50 liter setara jarak tempuh sekitar 500 kilometer.

Jika mobil lebih irit, misalnya 15 km per liter, maka 50 liter bisa dipakai hingga sekitar 750 kilometer. Untuk ukuran aktivitas harian dalam kota, angka tersebut tergolong besar.

Sebagai pembanding, mobilitas harian pekerja kantoran di kota besar biasanya berkisar puluhan kilometer per hari, meski bisa membengkak saat macet, antar-jemput anak, atau ada perjalanan tambahan. Bahkan untuk pemakaian yang padat, menembus 100 hingga 200 kilometer per hari sudah tergolong tinggi bagi pengguna mobil pribadi.

Berikut simulasi sederhananya:

  1. Konsumsi 10 km/liter
    50 liter x 10 km = 500 km

  2. Konsumsi 12 km/liter
    50 liter x 12 km = 600 km

  3. Konsumsi 15 km/liter
    50 liter x 15 km = 750 km

Dengan hitungan itu, jatah harian 50 liter masih cukup untuk perjalanan antarkota pendek, bahkan bisa mendekati kebutuhan road trip jarak menengah. Untuk rutinitas harian biasa seperti berangkat kerja, mengantar keluarga, dan aktivitas dalam kota, batas ini pada dasarnya masih sangat memadai.

Siapa yang mungkin terdampak lebih terasa?

Pembatasan kemungkinan lebih terasa bagi pengguna mobil pribadi yang punya mobilitas ekstrem dalam satu hari. Contohnya adalah pekerja lapangan, pelaku usaha dengan banyak titik kunjungan, atau pengguna kendaraan pribadi yang kerap menempuh rute antarkota setiap hari.

Namun untuk mayoritas pengguna mobil keluarga, kebutuhan harian umumnya tetap berada jauh di bawah 50 liter. Karena itu, dampak kebijakan ini lebih banyak berkaitan dengan penyesuaian cara pembelian melalui barcode MyPertamina daripada kekurangan pasokan untuk penggunaan normal.

Kebijakan pembatasan juga menunjukkan bahwa pemerintah ingin memperketat distribusi BBM subsidi tanpa mengganggu layanan publik. Selama pola penggunaan masih dalam kategori wajar untuk mobil pribadi, hitungan kapasitas tangki, biaya isi penuh, dan estimasi jarak tempuh memperlihatkan bahwa jatah Pertalite 50 liter per hari masih cukup aman untuk menunjang aktivitas harian.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button