Target 120 Juta Motor Listrik, Ekosistem Yang Belum Siap Jadi Penghambat Utama

Rencana pemerintah untuk mendorong konversi hingga 120 juta sepeda motor berbahan bakar fosil menjadi listrik masih dibayangi persoalan serius di lapangan. Target besar itu dinilai belum sejalan dengan kondisi ekosistem konversi yang ada saat ini, mulai dari kesiapan bengkel, tenaga ahli, hingga kepastian pasar.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai hambatan utama bukan sekadar kurangnya edukasi kepada masyarakat. Ia menyoroti bahwa program konversi berbasis subsidi yang sudah berjalan sebelumnya justru menunjukkan minat rendah dan realisasi yang jauh dari target.

Ekosistem belum siap mengejar lonjakan target

Yannes menyebut target kenaikan dari sekitar 1.500 unit menjadi 6 juta unit per tahun berarti lonjakan sekitar 30 kali lipat. Kenaikan sebesar itu, menurut dia, menuntut ekosistem yang jauh lebih matang dan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan di atas kertas.

Ia menekankan perlunya ribuan bengkel konversi baru yang tersebar di banyak daerah. Tanpa perluasan infrastruktur seperti itu, target masif akan sulit bergerak dari wacana ke pelaksanaan.

Masalah lama belum terselesaikan

Sejumlah hambatan dasar yang pernah muncul pada program sebelumnya masih menjadi pekerjaan rumah. Di antaranya keterbatasan bengkel tersertifikasi, minimnya tenaga ahli yang kompeten, serta proses administrasi yang dianggap rumit.

Berikut faktor yang disebut paling membebani percepatan konversi motor listrik:

  1. Bengkel tersertifikasi masih terbatas.
  2. Tenaga ahli yang memahami konversi belum merata.
  3. Proses perubahan STNK dan SRUT dinilai berbelit.
  4. Tahapan pengujian masih menyulitkan pengguna.
  5. Lembaga pembiayaan belum banyak yang tertarik.
  6. Skema subsidi belum memberi kepastian bagi konsumen.

Yannes menilai persoalan-persoalan itu memperlihatkan bahwa hambatan bersifat struktural. Artinya, solusi tidak cukup hanya menambah promosi atau sosialisasi.

Kepercayaan konsumen masih rendah

Selain soal teknis dan administrasi, aspek kepercayaan juga menjadi kunci. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa motor hasil konversi aman, awet, dan memiliki layanan yang jelas setelah pembelian.

Yannes menyebut belum adanya jaminan mutu, layanan purna jual, dan pasar kendaraan konversi bekas membuat konsumen ragu. Kondisi tersebut makin berat karena target pasar motor konversi banyak berasal dari kelompok middle low class yang sangat sensitif terhadap kepastian biaya dan mobilitas harian.

Kebijakan harus mengikuti kondisi lapangan

Target ambisius hanya akan efektif jika kebijakan bergerak bersama kesiapan industri dan layanan pendukung. Pemerintah perlu memastikan rantai konversi berjalan dari hulu ke hilir, mulai dari standar teknis, perizinan, pembiayaan, hingga perlindungan konsumen.

Tanpa itu, program berisiko berhenti di angka target, sementara realisasi tetap tertahan oleh persoalan klasik yang belum tuntas. Penguatan ekosistem menjadi syarat utama agar konversi motor listrik bisa berkembang secara sehat, dipercaya pasar, dan benar-benar dipakai masyarakat secara luas.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com
Exit mobile version