Program konversi motor bensin bekas menjadi motor listrik terus didorong sebagai bagian dari elektrifikasi transportasi di Indonesia. Namun, proses di bengkel menunjukkan bahwa motor bekas hampir tidak pernah bisa langsung masuk tahap pemasangan komponen listrik tanpa perbaikan mekanis lebih dulu.
Juru Bicara KOSMIK Indonesia, Hendro Sutono, menegaskan bahwa motor lama harus melewati rehabilitasi dasar sebelum dikonversi. Ia menyebut, “hampir tidak ada motor bensin bekas yang bisa langsung dikonversi tanpa rehabilitasi mekanis terlebih dahulu.”
Motor bekas biasanya butuh perombakan awal
Dalam praktik bengkel, motor berusia lima hingga sepuluh tahun kerap datang dengan banyak komponen aus bersamaan. Bagian yang sering perlu diganti mencakup mika, ban, pelek, bearing, tromol, kampas rem, hingga komstir.
Hendro menjelaskan bahwa kondisi itu bukan sekadar soal mesin lama yang akan diganti dengan motor listrik. Yang lebih penting adalah memastikan motor tetap aman dan layak jalan sebelum sistem listrik dipasang.
“Ini bukan soal mesin yang mau diganti. Ini soal kelaikan dasar kendaraan yang sudah dimakan usia dan jarak tempuh,” ujarnya.
Perbaikan dasar menentukan kelayakan konversi
Konversi motor listrik tidak cukup hanya dengan melepas mesin bensin lalu memasang baterai dan penggerak listrik. Setiap unit harus lebih dulu dipastikan memiliki sasis, roda, sistem pengereman, dan kemudi yang sehat agar hasil akhir aman dipakai.
Berikut komponen dasar yang sering diperiksa sebelum konversi dilakukan:
- Ban dan pelek untuk memastikan stabilitas.
- Bearing dan komstir agar arah kendali tetap presisi.
- Tromol serta kampas rem untuk menguji kemampuan pengereman.
- Mika lampu dan komponen bodi lain yang mendukung keselamatan berkendara.
- Rangka dan sambungan struktur untuk melihat apakah ada keausan atau kerusakan.
Pemeriksaan itu penting karena motor listrik yang dipasang di atas kendaraan yang sudah rapuh tetap menyimpan risiko. Teknologi baru tidak otomatis membuat motor menjadi aman bila bagian mekanis dasarnya masih bermasalah.
Biaya perbaikan sering menjadi pertimbangan utama
Setelah daftar perbaikan disusun, bengkel kerap menghadapi pertanyaan soal efisiensi biaya. Hendro mengatakan bahwa pada banyak kasus, biaya rehabilitasi dasar membuat calon konsumen berpikir ulang karena nilainya mendekati atau bahkan melampaui opsi membeli kendaraan lain.
“Ketika daftar perbaikan itu selesai ditulis, sering kali muncul pertanyaan yang sama di benak teknisi untuk apa susah-susah, kalau uang segini sudah cukup untuk beli yang baru?” kata dia.
Situasi itu menunjukkan bahwa keberhasilan konversi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi. Faktor kondisi awal motor, biaya restorasi, dan kesiapan bengkel juga sangat memengaruhi keputusan akhir di lapangan.
Program konversi butuh pelaksanaan yang realistis
Secara konsep, konversi motor bekas memang terlihat sejalan dengan prinsip daur ulang kendaraan. Namun, Hendro menilai, implementasi di lapangan jauh lebih kompleks karena banyak motor tua yang sudah melewati masa ideal pakai.
Ia menekankan bahwa kebijakan yang baik harus bisa dijalankan secara luas, mudah diukur, dan memberi hasil nyata. Dalam konteks ini, program konversi akan lebih efektif bila menyasar unit yang masih layak direstorasi, bukan kendaraan yang sudah terlalu lelah secara teknis.
“Program konversi mungkin terdengar inovatif dan sirkular di atas kertas. Tapi di bengkel-bengkel kecil di seluruh Indonesia, para teknisi sudah tahu jawabannya,” ujarnya.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum konversi
- Cek kondisi rangka dan kaki-kaki motor.
- Hitung biaya perbaikan dasar sebelum menghitung biaya konversi.
- Pastikan sistem rem, kemudi, dan roda aman.
- Pilih unit dengan kerusakan ringan agar konversi lebih efisien.
- Diskusikan kelayakan teknis dengan bengkel konversi sejak awal.
Dengan langkah seperti itu, proses konversi bisa lebih terukur dan tidak berhenti sebagai gagasan yang menarik di atas kertas. Motor bekas yang terlalu banyak mengalami keausan justru sering membutuhkan rehabilitasi besar sebelum layak diubah menjadi motor listrik.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com