Logistik nasional Indonesia masih sangat bergantung pada truk untuk mengirim barang ke berbagai wilayah. World Resources Institute (WRI) Indonesia menyoroti bahwa dominasi ini ikut mendorong emisi tinggi di sektor transportasi, meski jumlah truk sebenarnya jauh lebih kecil dibanding total kendaraan bermotor.
Dimas Fadhil, Urban Mobility Manager WRI Indonesia, menyebut sekitar 90 persen distribusi logistik nasional ditopang oleh truk. Ia menegaskan bahwa populasi truk hanya sekitar 4 persen dari total kendaraan, tetapi kontribusinya terhadap emisi transportasi bisa melampaui 40 persen.
Ketergantungan yang Tinggi pada Jalur Darat
Pola distribusi barang di Indonesia masih menempatkan truk sebagai tulang punggung utama. Kondisi geografis kepulauan membuat distribusi antardaerah sering bergantung pada jaringan jalan raya yang dinilai paling fleksibel dan cepat untuk menjangkau banyak titik tujuan.
Namun, fleksibilitas itu datang dengan konsekuensi lingkungan yang besar. Truk berbahan bakar fosil menghasilkan emisi karbon, partikulat, dan polutan lain dalam volume tinggi, terutama ketika perjalanan jarak jauh berlangsung tanpa efisiensi muatan yang baik.
Emisi Besar dari Armada yang Relatif Kecil
Data yang disampaikan WRI menunjukkan paradoks penting dalam sistem logistik Indonesia. Truk memang tidak mendominasi jumlah kendaraan di jalan, tetapi dampaknya pada emisi jauh lebih besar dibanding kendaraan lain di sektor transportasi.
Berikut gambaran sederhana dari sorotan WRI Indonesia:
| Indikator | Gambaran |
|---|---|
| Porsi logistik nasional yang ditopang truk | Sekitar 90 persen |
| Porsi truk dari total kendaraan | Sekitar 4 persen |
| Kontribusi emisi sektor transportasi | Lebih dari 40 persen |
Data itu menunjukkan bahwa pembahasan emisi transportasi tidak bisa hanya fokus pada kendaraan penumpang. Sektor kendaraan barang juga memerlukan perhatian yang sama besar karena dampaknya langsung terhadap kualitas udara dan target pengurangan emisi.
Elektrifikasi Saja Tidak Cukup
Dimas menekankan bahwa elektrifikasi kendaraan barang harus berjalan dalam strategi yang lebih luas. Ia menyebut pendekatan “avoid, shift, dan improve” sebagai kerangka yang lebih realistis untuk menata ulang logistik nasional.
Pendekatan tersebut mencakup tiga langkah utama berikut:
- Mengurangi perjalanan yang tidak perlu lewat efisiensi distribusi.
- Memindahkan sebagian angkutan jarak jauh ke moda kereta api dan kapal laut.
- Meningkatkan teknologi kendaraan agar konsumsi energi dan emisi lebih rendah.
Strategi ini penting karena truk tidak bisa digantikan secara instan di semua rute. Untuk pengiriman antardaerah yang panjang, moda kereta dan kapal laut dinilai lebih efisien secara energi dan lebih rendah emisi dibanding pengangkutan seluruhnya lewat jalan darat.
Tata Ruang dan Muatan Kosong Jadi Sorotan
WRI juga menyoroti pentingnya pembenahan tata ruang di kawasan industri. Jika pusat produksi dan distribusi ditempatkan lebih dekat ke simpul logistik, jarak tempuh bisa ditekan dan efisiensi angkutan meningkat.
Masalah muatan kosong juga menjadi perhatian serius. Truk yang pulang tanpa membawa barang tetap menghabiskan bahan bakar dan menghasilkan emisi, sementara kontribusi ekonominya rendah. Dalam praktiknya, pengurangan perjalanan kosong bisa memberi dampak besar terhadap biaya logistik dan jejak karbon.
Kolaborasi Jadi Kebutuhan Mendesak
Pemerintah dan pelaku industri dinilai perlu bergerak bersama untuk menjawab tantangan ini. Tanpa standar yang jelas, insentif yang tepat, serta infrastruktur pendukung bagi moda transportasi alternatif, dominasi truk akan terus bertahan dalam jangka panjang.
Di saat yang sama, transisi ke kendaraan listrik untuk logistik juga memerlukan kesiapan ekosistem, mulai dari pasokan energi, jaringan pengisian daya, hingga model bisnis operasional yang sesuai dengan kebutuhan angkutan barang. Jika langkah-langkah itu berjalan terpadu, sektor logistik nasional memiliki peluang menekan emisi tanpa mengorbankan kelancaran distribusi barang.
